Blog

Ad Finem. Sampai Akhir.

 

Ad finem. Sampai akhir.Sudah Desember lagi. Bulan baru tahun lawas. Sebentar lagi Januari, bulan baru tahun baru. Dan, resolusi baru–meski itu resolusi tahun-tahun lalu.

Saat ke Jogja kemarin, saya singgah sarapan di Warung Bu Wignyo. Di tengah kampung Demangan, letaknya sejengkal saja dari SMA Kolese De Britto, almamater saya. Menu favorit yang selalu saya rindui adalah sup bening dengan “topping” rajangan daging empal. Plus dua potong “tempe kemul”. Banyak teman suka sambalnya, saya suka rasa gurihnya.

Menguji Pemimpin, Untuk Orang Lain atau Diri Sendiri?

Menguji Pemimpin Menguji Pengikut

Pada zamannya, ada figur otoritatif yang berdehem saja pengikutnya sudah bergerak. Bahkan, pemimpin membisu pun pengikut sudah riuh membincangkan lalu menebak-nebak kira-kira pemimpin mereka sedang orasi apa di langit-langit mulutnya.

Figur yang demikian pun beragam watak. Ada yang bersikukuh diam, supaya pengikutnya berpikir keras bagaimana menafsirkan mimik pemukanya. Ada yang sesekali mendehem, sambil menyertakan beberapa cuil kata kunci, supaya pengikutnya ada peregangan otot sehingga lincah jika sewaktu-waktu digerakkan sungguh-sungguh. Ada juga pemimpin baper, sedikit-sedikit curhat, supaya pengikutnya tak sempat rehat dan terus gelisah.

Mau Jangka Panjang? Didik Manusianya!

Bisnis Itu Mendidik ManusiaBali, bagi banyak orang, adalah cerita tentang keindahan alam, pesona masyarakat tradisi, dan tuturan tentang kenangan-kenangan yang terbingkai dalam cerita perjalanan wisata.

Bali, bagi banyak orang, adalah layaknya daerah lain: tempat bekerja, tempat berbisnis, tempat studi. Ada cucuran keringat namun bukan karena berjemur di pantai. Ada tawa namun bukan karena luapan kegembiraan usai bermain air. Ada senyap namun bukan sepi karena aura mistis yang melingkupinya.

Saya banyak mendengar cerita dari Endi Teguh Syah Purba dan Humanity Citra tentang bagaimana kehidupan di Bali, utamanya tentang bisnis. Ada hal mendasar yang perlu dibenahi dalam bisnis kebanyakan di Pulau Dewata ini. Bahwa bisnis bukan semata membuka atau mendirikan. Bisnis adalah tentang merawat dan membesarkan.

Hantu Toko, Ketika Toko Buku Berhantu

Hantu Toko BukuSebagai generasi peralihan, buku cetak masih saya santap. Seperti belum makan nasi kalau belum membaca buku cetak. Teks digital yang berlimpah, meski lezat juga, tapi tak mengenyangkan. Dasar!

Maka, berkunjung ke toko buku, menjebol plastik pembungkus buku, menyibak halaman demi halaman, ‘menimbang’ bobot nilai dan berat fisik, membayar tunai di kasir, dan membungkus pulang dengan tas plastik tak ramah lingkungan adalah ritual yang jika tak ditempuh setiap bagiannya rasanya lebih berdosa daripada tidur di gereja tatkala kotbah pastor menjemukan. Ah, lebay!

Kali ini saya singgah ke Gramedia MBG, Bali. Bukan untuk ngecek buku karya saya atau terbitan penerbit saya–karena sudah empat tahun tak lagi menjual buku lewat toko buku, melainkan untuk membungkus buku bagus karya penulis dan penerbit tangguh. Masih banyakkah buku bagus? Banyak sih tidak. Ada.

Haji Ayam, Ketekunan Sang Pekerja

Haji Ayam Ketekunan Pekerja“Jangan menilai orang dari penampilannya.”

Hiks, untung pesan itu selalu menyala laksana alarm. Lebih-lebih ketika bersua dengan orang yang penampilannya kelewatan: kelewat parlente atau kelewat kere.

Seperti siang ini. Tatkala sedang singgah di suatu tempat, seorang bapak menghampiri saya. Ia bertanya beberapa hal, dan saya antusias menjawabnya.