Blog

Situs Korban Disrupsi

Memasuki kawasan Candi Muara Jambi, imajinasi saya melayang jauh ke depan. Suatu ketika, generasi masa depan akan mendapati […]

Dicegat Orang

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Untuk memastikan sakitnya, bapak sepuh ini periksa ke rumah sakit daerah. Sehari perjalanan berangkat, sehari periksa-periksa dan administrasi-administrasi, sehari perjalanan pulang. Ditemani anaknya.

Siang tadi perjalanan baru setengah. Tumpangan awal berbelok ke arah berbeda. Mereka turun di persimpangan.

Saat saya dan teman lewat, mereka melambaikan tangan tanda minta tumpangan. Saya langsung menepikan mobil menghampiri mereka.

Kotbah Terbaik

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Jarang saya mendengar kotbah yang baik, entah dari pemuka agama maupun tokoh masyarakat. Jika pun isi dan cara menyampaikannya menarik, itu tak cukup menjadikannya baik di mata saya.

Kotbah yang baik, dalam takaran saya, bukan sekadar ucapan atau angan-angan. Kotbah yang baik, dalam penerimaan saya, adalah kotbah yang berangkat dari laku dan berujung pada laku. Bergerak.

Dari sedikit kotbah baik yang saya koleksi, sebagian besar dipanggungkan oleh mereka yang kata dan perbuatannya berjalin kelindan. Belum tentu omongannya hebat dan perbuatannya heroik. Acapkali justru saya tersentuh oleh kotbah yang dibawakan oleh orang kecil, dengan perbuatan sederhana, dengan dampak jangka panjang tak kasat mata, namun dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Tidak Semestinya Saya Cerita Ini: Bali

Ke Bali? Saya Tidak Selalu Menemui Anda

Ke Bali? Saya Tidak Selalu Menemui Anda

Jika dituruti, setiap hari saya bisa ngopi dan begadang di luar rumah. Sebab, setiap hari selalu saja ada teman atau kolega yang datang ke Bali.

Dari yang datang, hampir semua meninggalkan jejak digital. Jika tak woro-woro di grup WA, “Bro, ada yang tinggal di Bali nggak, ya? Gua ada training di Seminyak nih,” ya pasang status di FB lengkap dengan penanda sedang di bandara asal menuju “Ngurah Rai International Airport Denpasar”.

Diulosi Hio Simalungun, Jadi Keluarga Saragih

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Ungkapan belasungkawa pada keluarga yang berduka itu umumnya ditutup dengan pesan hangat, “Yang tabah ya… Yang ikhlas ya….” Sambil berpelukan dalam doa.

Terbersit pertanyaan, tabah itu seperti apa? Ikhlas itu bagaimana?

Lama pertanyaan itu menggantung di kepala saya sampai Senin (14/8) saya menerima pesan dari Pak Karesman Saragih, ayahanda almarhum Kristupa Saragih. Biasanya, WA beliau berupa gambar berisi kalimat-kalimat motivasi. Kali ini undangan.