Blog

Apa arti “bagus” ketika aku mengomentari tulisanmu?

Tulisan mencerminkan isi kepala penulis. Cek tulisan, cek isi kepala penulis.

Tulisan mencerminkan isi kepala penulis. Cek tulisan, cek isi kepala penulis.

Mau tahu, jika saya berkomentar “bagus” terhadap suatu tulisan artinya apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu saya mau cerita.

Sebagai penulis dan pelatih penulis, saya kerap mendapatkan pertanyaan, “Mas, tulisan saya dinilai ya.” Saya selalu jawab, “Ya!” Apakah saya kemudian lekas menilai? Tunggu dulu.

Puasa bermedsos, cara detoks dari racun

Yang pernah bermanfaat jadi sampah. Sampah pun bisa kembali bermanfaat jika dibersihkan.

Yang pernah bermanfaat jadi sampah. Sampah pun bisa kembali bermanfaat jika dibersihkan.

Pagi ini sudah seperti yang kuimpi. Matahari belum meninggi tapi sinarnya sudah mendarat di jendela belakang kamar. Tidak kesiangan meski tak jua bangun pagi-pagi.

Kebiasaan lama, sebelum beranjak buka hape yang tertidur di samping kasur. Cek WA tiada pesan masuk. Tak ada warna hijau.

FB, IG, dan Twitter tak kubuka. Sejak semalam aplikas-aplikasi itu kunonaktifkan. Tepatnya aku “sign-out”. Semalam juga, pas pergantian hari, aku “left” dari semua grup WA, kecuali beberapa grup kerja dan grup keluarga inti.

Sama-sama berisiko, apa pentingnya pendidikan dan asuransi?

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan, yang tak pernah menjamin orang pintar dan sukses, kenapa diminati?

Sedangkan asuransi, yang tak pernah menjamin orang sehat dan hidup panjang, kenapa tak diminati?

Dua pertanyaan itu menggelitik saya. Semoga juga menggelitik anda. Maka, mari kita urai bareng secara ringan dan menyenangkan.

Tutup De Britto, demi kemuliaan Allah yang semakin kecil

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Meneladan Santo Yohanes de Britto pada “dunia baru pandemi covid-19”, seperti apa?

Gagasan saya singkat: tutup SMA Kolese de Britto! Rehat 1-2 tahun, lalu dirikan sesuatu yang sama sekali baru. Sistem pendidikan baru. Pun guru-guru baru. Tidak usah sentimentil dengan kejayaan masa lalu. Sudah selesai, songsong masa depan! Menteri pendidikan saja bisa kok tak berlatar kependidikan.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (4)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Man for others

Semboyan ini sangat hidup di De Britto. Seperti pokok ajaran, setiap pribadi menghayati nilai ini sebagai keberanian untuk melepaskan kemelekatan (sacra indifferentia) kita pada sesuatu demi orang lain. Tidak boleh egois, yakni fokus untuk diri sendiri, melainkan mesti altruis, yakni menyediakan diri untuk orang lain.