Blog

Bagi-Bagi Ide, Mudahkan Tulisan Diingat

Story Writing yang Reflektif dan Menggerakkan

Story Writing yang Reflektif dan Menggerakkan

Tujuan pelatihan menulis (writing training) itu sederhana: peserta bisa menulis. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Pelatihan menulis yang berhasil adalah pelatihan yang membawa peserta “dari tidak bisa menjadi bisa”, “dari bisa menjadi biasa”, dan dari “biasa menjadi otomatis”.

Untuk itu, sebagai pelatih menulis, setiap kali mendapatkan undangan untuk mengisi pelatihan, saya selalu menerjemahkan tema yang diberikan supaya bisa saya konkretkan. Saya tidak mau mengisi pelatihan menulis dengan tujuan yang keliru: membuat peserta tahu teori menulis.

Dari Organisasi, Kecakapan Sang Dokter Gigi

Sesama pemilik golongan darah AB

Sesama pemilik golongan darah AB: Thomas

“Di mana kamu belajar ilmu berkomunikasi?” langsung saja saya bertanya kepada Thomas Aquino Budi Vembriarto (1995) saat ia mengantar saya keliling Kota Pontianak, pekan lalu.

Bukan tanpa alasan saya melontarkan pertanyaan itu. Baiklah, lewat tuturan saya berikut ini nanti anda akan beroleh jawabannya.

Mengapa Menulis Perlu Undur Diri?

170131 Undur DiriSetiap #tulisan menyimpan cerita. Cerita yang terutama adalah tentang penulisnya. Ya, di balik tulisan apa pun ada pergulatan #penulis. Jika kemudian terhidang tulisan lezat di layar bacamu, bisa jadi tulisan itu diolah dari dapur yang berantakan, yang kokinya berpeluh keringat dan bau kecut.

Maka, banyak penulis yang tak mengizinkan dapurnya dimasuki. Mereka tak mau bumbu-bumbu rahasianya terkuak. Mereka takut resepnya dijiplak. Atau, mereka malu ketahuan jorok. Jaim, jaga image.

RIP Romo Koelman: Sekolah Tak Mengurusi Rambut

 

RIP Romo G Koelman SJ

Sumber foto: Sesawi.Net

Cerita turun-temurun dari kakak kelas itu tentang gaya seorang pastor Jesuit yang nyentrik. Tiga yang saya catat:

Pertama, adu jotos. Saat menjadi pamong di SMA Kolese de Britto di tahun 1970-an, Yogyakarta, ia geram jika mendengar ada muridnya berkelahi. Geram jika perkelahian tidak berimbang, lebih-lebih jika keroyokan. Ia cari murid yang bertikai itu sampai ketemu, lalu giring mereka ke lapangan dan tunggui mereka berkelahi satu lawan satu. Ya, satu lawan satu.

Kapan selesainya? Ketika salah satu menyatakan kalah dan minta maaf? Bukan. Ketika yang menang memaafkan dan keduanya berpelukan. Perdamaian dicapai bukan ketika ditemukan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan ketika yang merasa hebat mengampuni yang lemah.

Ad Finem. Sampai Akhir.

 

Ad finem. Sampai akhir.Sudah Desember lagi. Bulan baru tahun lawas. Sebentar lagi Januari, bulan baru tahun baru. Dan, resolusi baru–meski itu resolusi tahun-tahun lalu.

Saat ke Jogja kemarin, saya singgah sarapan di Warung Bu Wignyo. Di tengah kampung Demangan, letaknya sejengkal saja dari SMA Kolese De Britto, almamater saya. Menu favorit yang selalu saya rindui adalah sup bening dengan “topping” rajangan daging empal. Plus dua potong “tempe kemul”. Banyak teman suka sambalnya, saya suka rasa gurihnya.