Blog

Untuk Apa Gelar Pahlawan Nasional?

Hatta dan Soekarno

Saya setuju dengan Asvi Warman Adam soal pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soekarno dan Hatta. Jika memang undang-undang sudah menegaskan itu, kenapa pemerintah mengabaikannya? Untuk apa memberi gelar yang tidak perlu?

Bukankah sudah cukup bagi Soekarno dan Hatta mengenakan caping kebesaran sebagai pahlawan proklamator?

Bagi saya, kepahlawanan Soekarno dan Hatta untuk Indonesia sudah selesai. Perannya dalam membangun pengertian tentang kebangsaan, kenegaraan, dan kerakyatan sudah dibukukan oleh sejarah. Keterlibatannya dalam memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia juga tidak perlu diragukan lagi.

Pun catatan-catatan tercecer dari mereka sudah banyak direkam oleh para sejarawan. Juga oleh bangsa ini. Termasuk pasang-surut relasi dwi tunggal itu. Pasang, ketika bergandeng tangan mewakili bangsa mengabarkan pada dunia tentang berdirinya Negara Indonesia. Juga pasang ketika Soekarno secara pribadi memilihkan Rahmi sebagai jodoh Hatta. Surut ketika keduanya pecah kongsi, tak lagi seiya-sekata, bertolak belakang pandangan politik. Namun tetap saja pasang ketika sebagai pengritik Soekarno terpedas pun Hatta menyediakan lututnya bagi anak-anak Soekarno yang bersungkem mohon restu menikah. Sisi kemanusiaan mereka mewariskan nilai besar bagi negeri ini, yakni tentang persaudaraan yang tak tercemari oleh pandangan politik atau apa pun. Bersaudara ya bersaudara. Berpolitik itu urusan lain.

Jebakan BadMed

Kita perlu berhati-hati. Terhadap apa pun. Juga terhadap kemudahan-kemudahan. Tak jarang, kemudahan justru melenakan. Mentang-mentang mudah kita tak berhati-hati. Tersadar saat terantuk.

Berjalan kaki itu mudah. Tak usah dipikirkan mana kaki yang melangkah lebih dulu. Namun, jika tak waspada, kaki bisa terantuk batu.

Bernapas itu enteng. Tak usah dihitung berapa menit sekali menghela. Namun, jika sembrono, bisa tersedak.

Berbicara itu gampang. Tak usah mengatur ke mana lidah berayun. Namun, jika tak tertata, lidah bisa tergigit.

Pun menulis. Seenteng berbicara. Namun, jika tak cermat bisa salah alamat.

Dalam hidup, sejatinya tak ada yang rumit. Jika terasa rumit, bisa jadi karena belum biasa, atau belum punya pengetahuan cukup untuk menelan kerumitan itu. Semua mudah jika tahu kuncinya. Kembali, semua juga jadi susah ketika ceroboh dalam memanfaatkan kunci.

Incoming search terms:

  • aakuntoa com
  • bc jebakan
  • bc bbm jebakan betmen
  • bc jebakan wa
  • broadcast jebakan

Dari Desa ke Odessa

Saya berbincang dengan Agus Sriyono

Odessa nama kota kecil di Ukraina. Hanya ada di peta, di angan-angan. Agus Sriyono bercita-cita ke sana. Kala itu, 1974, ia masih SMA. Kelas 2 di De Britto. Orangtuanya, yang tinggal di Magelang, tak berpunya. Untuk sekolah saja, sang nenek yang tinggal di Sanden, Bantul, tiap 3 bulan, menjual hasil panenannya untuk membantu sang cucu membayar uang sekolah. Untuk tinggal, ia menumpang di rumah orang.

Odessa dan Magelang sama-sama kota kecil di dalam peta. Tapi tidak dalam diri Agus Sriyono. Di Jogja, ia mendekatkan kedua kota itu. Ia menulis sebuah cerpen berjudul “Odessa” yang berkisah tentang seorang penjahat kriminal yang dikejar-kejar aparat. Lari, penjahat kriminal itu tersembunyi di Odesa. Kala itu, Ukraina masih masuk wilayah Uni Soviet.

Cerpen itu dimuat di Majalah FREE, majalah kebanggaan De Britto kala itu. “FREE mengusung semangat kebebasan,” terang Agus Sriyono. Semangat itu yang ia tangkap dan wujudkan ke dalam cerita. Ia bebas berimajinasi, bebas bermimpi.

30 tahun sesudah menulis cerpen itu, Agus Sriyono menginjakkan kakinya di Odessa. Bukan sebagai pelancong melainkan sebagai Wakil Duta Besar RI untuk Rusia. Odessa bukan lagi wilayah Uni Soviet, melainkan sudah bergabung ke dalam Republik Federasi Rusia. Odessa dalam cerpennya telah menyata.

Barack Obama Menang Lagi

Barack Obama dipastikan kembali menjadi Presiden Amerika Serikat. Ia akan menjadi pemimpin negara yang pernah menjadi negara adidaya […]