Blog

Magnis Menulis

Nah, sekali lagi saya belajar tentang kekuatan tulisan. Betapa tulisan punya daya lesak luar biasa. Senyap, namun sangat menggerakkan. Tulisan menyebar secara cepat ke media-media strategis: website, mailing list, blackberry broadcast messenger, dan media-media arus utama lainnya.

Adalah Franz Magnis Suseno penulisnya. Guru besar filsafat STF Driyarkara ini menyatakan sikapnya secara tertulis atas sesuatu yang menurutnya perlu disikapi, yakni rencana ACF, sebuah lembaga di New York, yang hendak mengalungkan penghargaan “world statesman” kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Mei 2013 ini. Penghargaan diberikan atas dasar penilaian bahwa SBY berjasa merawat toleransi beragama di Indonesia.

Magnis angkat pena. Penulis buku Filsafat Jawa kelahiran Eckersdorf, Jerman tahun 1961 yang telah lama menjadi WNI tersebut memilih cara santun untuk memalangkan penolakannya—sesantun tahun 2007 ketika ia menolak menerima anugerah “Achmad Bakrie Award” karena menganggap Bakrie bertanggung jawab atas ketelantaran para korban Lumpur Lapindo. Ia menulis, langsung kepada pemberi penghargaan, pihak yang berkepentingan. Saya membayangkan, di rumahnya di Salemba, Magnis menulis dalam hening. Kabar panas yang ia terima ia protes dengan tulisan yang terang. Tulisannya mengerucut jernih pada pangkal persoalan. Tidak hiperbolis, pun tak eufimistis. Apa adanya, dan oleh karena itu mudah dicerna oleh siapa pun.

Kuasai Media

Leslie Moonves pasti sedang berbunga-bunga. Menurut rilis Business Insider, Jumat, 10 Mei 2013, CEO CBS News ini merupakan kepala eksekutif perusahaan media berbayar paling mahal saat ini. Disebutkan, gajinya US$ 62,2 juta per bulan, sudah termasuk bonus pencapaian, kompensasi, dan tunjangan. Gajinya mengalahkan CEO Discovery Channel David Zaslav dan CEO The Disney Company Bob Iger.

Pantas saja media menjadi incaran bisnis. Pantas pula pengusaha nasional kita mengincar bisnis ini. Saking strategisnya, bahkan, partai politik mau tidak mau menggandeng media untuk memuluskan pencitraan mereka. Tak perlu sebut nama dan media, kita tahu media dan partai mana saja yang bermain mata menunggangi frekuensi publik demi mendongkrak perolehan suara mereka di pemilu tahun depan. Media menjadi elemen penting untuk menandai keberadaan mereka.

Banyak pihak sepakat, berkat teknologi informasi dan komunikasi, dunia semakin datar. Setiap pihak yang terhubung menempati derajat yang sama tinggi sekaligus sama rendah. Tidak ada kasta ningrat lagi karenanya. Semua pengguna media bersanding di kasta yang sama.

Studi Bahasa Alay

Bahasa Media Maya sebagai Kekuatan Transformasi Masyarakat Muda: Studi Bahasa Alay

Oleh AA Kunto A, praktisi media dan pemerhati youth culture. Alamat korespondensi: aakuntoa@solusiide.com

ABSTRAK Kemajuan teknologi komunikasi berupa telepon selular dan internet menghadirkan fenomena bahasa alay di kalangan orang muda. Selain menjadi fenomena bahasa, kehadiran bahasa alay juga menarik bagi kajian sosial. Muncul pertanyaan, apakah bahasa ini memiliki kekuatan transformasi bagi masyarakat, atau sekadar menjadi penanda pengakuan identitas pelakunya. Berbeda dengan bahasa gaul dan bahasa “walikan” yang memiliki pola pembentukan kata dan frasa, bahasa alay tidak.

KATA KUNCI transformasi masyarakat, bahasa alay, siasat identitas

  1. 1.      Pengantar

Orang muda selalu jadi sorotan. Pada mereka, tampaknya ada beban sejarah untuk memikul perubahan. Orang muda adalah pelaku perubahan, yang sekaligus sedang berubah. Agen perubahan sekaligus pesan perubahan itu sendiri.

Dalam hal berbahasa, demikian pula potretnya. Orang muda kerap tidak bisa dimengerti akibat cara berbahasa yang berbeda. Mereka lazim dituding sebagai perusak bahasa. Jika ada bencana komunikasi, vonis tanpa sidang langsung menghukum mereka.

Bagi masyarakat bahasa, bencana komunikasi itu kini hadir dalam rupa bahasa alay. Badainya bergemuruh di media maya, yakni SMS (short message service), BBM (blackberry messenger) dan situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Linked In, dll. Bahasa tulis tersebut kerap muncul dalam status “Dinding: Apa yang Anda pikirkan?”, “Komentari”, atau judul pada “Pesan Baru”.

Incoming search terms:

  • pertanyaan tentang bahasa alay
  • perrtanyaan mengenai bahasa alay

Tanya Kenapa

Malu bertanya sesat di jalan. Tak bisa bertanya tak tahu jalan sesat.

Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, saya ingin menghardik ruang imajinasi kita tentang “bertanya”. Sudahkah kita bertanya? Masih bisakah kita bertanya? Kita bertanya tentang apa saja?

Serta-merta, saya sodorkan dulu tujuan penulisan catatan ini: hapuskan Ujian Nasional (UN)! Tak perlu bertele-panjang alasan, semata karena lewat UN, pendidikan kita tak mendidik siswa bertanya. UN hanya mengizinkan siswa menjawab. Pun menjawab sesuai pilihan yang tersedia.

UN tak hanya mengerdilkan siswa, melainkan meniadakan kehadiran siswa sebagai pribadi yang luhur: manusia berakal-budi. Jahat sekali!