Blog

Biarkan Teman Bercerita

Sekarang, konsumen bukan lagi raja. Sekarang, konsumen adalah teman. Dalam bisnis, komunikasi dengan konsumen pun tidak lagi searah dari satu sisi. Pelaku bisnis tidak bisa memaksa konsumen untuk menerima informasi sepihak. Teknologi telah memanjakan konsumen mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Asyiknya, bahkan konsumen bisa memerankan diri sebagai pemasar bagi produk yang ia sukai.

Pertanyaannya, apakah sekarang posisi konsumen lebih rendah? Oh tidak. Sebagai teman, bukan raja, harapan konsumen justru lebih tinggi. Pertemanan adalah relasi yang setara, karenanya perlu sikap saling menghargai, karenanya perlu sikap saling percaya, karenanya sungkan untuk menyakiti. Unsur-unsur itulah yang kini justru menaikkan derajat bisnis pada fase yang lebih personal.

Kehadiran media sosial menegaskan perubahan budaya bisnis di atas. Pemasar terutama bagi bisnis kita adalah konsumen. Merekalah yang akan bercerita tentang kita. Hal-hal sederhana yang mereka jumpai, baca, cecap, dan bungkus akan mereka ceritakan kepada teman-teman mereka. Cerita adalah kekuatan. Mudah sekali cerita tersebar.

Menulis Seasyik Ini…

Untuk mahasiswa baru, di hari-hari awal kuliah, saya langsung melatih mereka menulis. Semua mahasiswa, tidak terkecuali. Ini tradisi baru di perguruan tinggi, yang mewajibkan mahasiswa memiliki kompetensi sebagai penulis. Tidak mudah mengenalkan budaya menulis ini kepada mahasiswa yang di jenjang pendidikan sebelumnya tidak pernah dibiasakan menulis. Namun, saya berpikir sebaliknya, yakni bagaimana mengubah persepsi tersebut, yakni bahwa menulis itu mudah. Tulisan di bawah adalah tahapan yang saya tempuh untuk meyakinkan mahasiswa betapa menulis adalah aktivitas yang mudah dan menyenangkan. Saya melakukannya dalam diam. Tidak sedikit pun saya berbicara. Begitupun peserta. Mereka diam. Semua komunikasi lewat tulisan. Ini yang saya tulis di layar lebar:

Sebagaimana belajar berenang, tidak ada pilihan lain selain nyebur ke kolam. Juga, untuk belajar menulis, tidak ada jalan lain selain ambil pena, siapkan kertas, dan mulai menulis.

Maka, mulai sekarang, sampai saya perintahkan yang lain, tutup mulut, dan mulai menulis!

Sudah siap?

Tutup mulut, buka pikiran, bentangkan imajinasi!