Blog

Jurnalisme Merek

Setahun belakangan, dunia bisnis sedang hangat menyambut trend yang disebut jurnalisme merek. Tren ini diperkenalkan oleh Mark Ragan, CEO Ragan.com. Secara ringkas, jurnalisme merek bisa dipahami sebagai aktivitas jurnalistme yang mengusung merek tertentu. Kampanye merek dikemas melalui cerita-cerita jurnalistik. Pesannya lembut, tidak selugas iklan.

Contoh fenomenal yang kerap disebut adalah branding “Black” pada mobil-mobil milik pencinta kendaraan warna hitam. Sejatinya, “Black” tersebut mengacu pada varian produk sebuah merek rokok. Uniknya, pemilik-pemilik mobil tersebut tidak berkeberatan mobilnya ditumpangi iklan komersial. Publik pun tidak serta-merta menyamakan branding tersebut dengan bobot komersial baliho, print-ad, dan TVC.

Merek Kampung Halaman

Siapa sanggup membendung arus mudik? Dari tahun ke tahun, arus ini makin kuat. Jumlah pemudik selalu meningkat. Hiruk-pikuk pemberitaan seputar arus mudik pun nyaris tidak pernah ada jeda. Perhatian hampir semua orang di Indonesia mengerucut pada perjalanan menuju kampung halaman ini.

Dari kacamata bisnis, kita bisa membaca, magnet bernama “kampung halaman” begitu memikat. Sebagai merek, ekuitasnya sangat kuat. Sebegitu kuatnya, seolah tiada kekuatan apa pun yang mampu membelokkan, alih-alih mementalkan. Macet, berdesak-desakan, tiket mahal, dan capek tidak menghalangi perjalanan menuju kampung halaman.

Saya pernah larut dalam barisan pemudik. Dua kali saya tempuh perjalanan darat, menaiki sepeda motor, dari ibu kota, pulang ke kampung halaman. Belasan jam di atas sadel tidak terasa. Hanya rindu yang membasuh dahaga.