Blog

Salah Aktivitas

4 diciplines of executionsSeorang wanita ingin menurunkan berat badan dari 70 kg menjadi 56 kg. Ia memutuskan untuk berolah raga. Supaya lekas mendapati postur tubuh yang ideal, ia bertekad berolahraga setiap hari selama sebulan. Apa olah raga yang dipilihnya? Keren: berkuda. Alhasil, dalam sebulan, berat badan kuda tunggangannya turun 20 kg dalam sebulan.

Lelucon itu saya terima dari broadcast seorang teman. Saya tertawa. Sebentar kemudian, saya berpikir, lelucon itu tak mengada-ada.

Baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan, banyak orang menggebu-gebu ingin mencapai impian namun tidak tepat dalam menempuh jalan untuk mencapainya. Seperti cerita berkuda di atas. Benar bahwa berkuda adalah salah satu bentuk berolah raga. Berkuda secara sungguh-sungguh juga menghasilkan keringat, yang berujung pada kesehatan. Namun, dalam konteks pencapaian impian di atas, berkuda bukan pilihan yang pas.

Dalam buku The 4 Disciplines of Executions, Chris McChesney, Sean Covey, dan Jim Huling menghadirkan pengukuran baru dalam menilai hasil usaha. Ia menamainya lead measures. Lead measures ini mereka bandingkan dengan apa yang disebut lag measures.

Nantikan Aku di Teluk Bayur

 

Teluk Bayur, pergi belajar untuk kembali. (Foto: Chandrasena)

Teluk Bayur, pergi belajar untuk kembali. (Foto: Chandrasena)

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Ku harapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur
Nantikanlah aku di Teluk Bayur

Di tepi pantai Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, saya mengingat kembali lagu yang dipopulerkan Ernie Djohan itu. Ombak yang tenang di waktu pagi membawa suasana ke masa ketika lagu ini diciptakan. Saya membayangkan apa yang ada di benak Zaenal Arifin ketika menyusun syair lagu ini. Romantis sekali, tanpa terkesan picisan.

Kunjungi Bung Hatta

Bersama Bung Hatta di Bukittinggi, rumah kelahirannya (foto: Chandrasena)

Bersama Bung Hatta di Bukittinggi, rumah kelahirannya (foto: Chandrasena)

Memasuki rumah dua lantai ini rasanya sejuk sekali. Adem. Padahal, matahari sedang terik-teriknya di penghujung musim kemarau. Berdiri kokoh di Jalan Soekarno-Hatta 37, Bukittinggi, Sumatera Barat, bangunan beratap seng dan berdinding kayu ini lekas membawa imajinasi saya ke masa sekian puluh tahun silam.

Muhammad Athar adalah nama kecil Bung Hatta. Kelak kita mencatat sebagai Drs. Muhammad Hatta. Athar berarti harum. Dan benarlah, hingga kini nama Bung Hatta begitu harum bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai dwitunggal proklamator bersama Ir Soekarno, Bung Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi.

Beda dengan Bung Karno yang flamboyan dan populis, Bung Hatta cenderung diam dan bergerak di belakang layar. Ia banyak menulis—mengagumkan. Ia aktif di Majalah Hindia Putra (Indonesia Merdeka) sambil bergiat di Perhimpunan Indonesia. Studi dan berorganisasi ia jalani sekaligus.

Coaching Taklukkan Macan

Indonesia Macan Asia

Indonesia Macan Asia

Mengagumkan, kemenangan Timnas U-19 atas Korea Selatan, Sabtu (12/10/2013) malam. Bukan semata hasilnya, melainkan bagaimana keberlangsungan permainan itu sendiri. Permainan cepat dengan umpan-umpan pendek terukur dipertontonkan sepanjang pertandingan di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Saya bukan pengamat sepakbola. Hanya putaran Piala Dunia empat tahunan yang mampu menyedot perhatian saya. Pertandingan penentuan juara grup ini pun saya tonton ketika tidak sengaja makan malam di Hau’s Tea di Bukittinggi, Sumatera Barat. Semua penyantap menatap layar kaca. Dan semua bersorak-sorai atas penampilan cerdas Timnas.

Namun, kehadiran Timnas U-19 ini sungguh memancing perhatian. Lebih-lebih ketika berhadapan dengan Korea Selatan, juara bertahan Piala Asia dan peraih 12 gelar event ini, yang disebut-sebut sebagai Macan Sepakbola Asia. Indonesia bukan penantang berbahaya dalam konteks ini.