Blog

Menolak Bodoh

Ruangan itu saya tinggalkan begitu saja. Gerah rasanya berada di sana. Bukan karena pendingin udara tak bekerja selayaknya. Sama sekali bukan. Bincangan di dalamnyalah yang jadi sebab.

Pagi itu hari pertama sebuah pelatihan menulis. Peserta dosen-dosen dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicaranya dosen dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Pembicara satu lagi peneliti dari sebuah lembaga penelitian milik pemerintah di Jakarta. Tajuk acaranya lebih kurang tentang “menyusun proposal penelitian”.

Tampak mentereng namun tak sedikit pun memantik api penasaran saya. Entah kenapa, sejak lama saya tak pernah antusias dengan model penelitian a la planet akademis. Nyinyir, ya?

Menurut pendapat saya, meneliti dan menulis itu mengemukakan gagasan. Mimbar akademik adalah pijakan utama, yakni bahwa proses dan hasil karya tersebut menampakkan semangat kebebasan berpikir dan berpendapat. Terhormat sekali sejatinya.

Ada Tembok!

Kerap, dalam berbagai kegiatan pelatihan menulis, yang mengundang saya sebagai pembicara, muncul pertanyaan begini, “Apakah harus diketik di komputer?”

Menjawab “ya” atau “tidak” saja tidaklah bermanfaat. Begitu pikir saya. Tugas saya sebagai pelatih (coach) menulis bukanlah semata menjawab pertanyaan peserta. Saya bukan baby sitter yang bertugas menyuapi bayi yang saya ikat erat dalam dekapan selendang gendongan. Pun, bagi saya, para peserta bukanlah bayi yang tak bisa apa-apa, yang minta dicekoki.

Namun, di sinilah letak tantangannya. Inilah wajah pendidikan di negeri ini. Terbiasa didikte di sekolah, dengan peran guru sangat sentral sebagai sumber pengetahuan, dengan peran murid sebagai sebagai objek pengetahuan yang harus patuh, pertanyaan yang mencuat begitu dangkal.

Transformasi Kereta

@ Danau Singkarak: rel kereta Padang-Payakumbuh yang mangkrak. (foto: AA Kunto A)

@ Danau Singkarak: rel kereta Padang-Payakumbuh yang mangkrak. (foto: AA Kunto A)

Turki makin menyatu dengan Eropa. Pekan lalu, Turki meresmikan terowongan kereta api Marmaray yang sudah digagas 150 tahun lalu oleh Sultan Ottoman. Dinamakan Marmaray karena terowongan sepanjang 13,6 km dan berkedalaman 55 m itu menyibak Laut Marmara.

Di pekan yang sama, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan meresmikan pengoperasian kembali KA Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi. Sempat berhenti beroperasi setahun lalu, kehadiran kereta yang membelah Gunung Pangrango ini disambut antusias warga. Sukabumi menjadi lebih dekat dengan Bogor karena waktu tempuh lebih singkat dibandingkan melewati jalan raya.

Bertautan, sebulan lalu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo juga meresmikan pembangunan stasiun kereta transportasi massal cepat (MRT—Mass Rapid Transit) yang sudah digagas 24 tahun lalu, pernah dimulai di zaman Presiden Megawati, dan mangkrak. MRT ini hadir sebagai alternatif transportasi bebas macet.

Jebakan Popularitas

Menjelang tahun politik 2014, kita disuguhi kehebohan soal siapa yang layak menjadi pemimpin. Heboh itu lebih-lebih berkat membanjirnya informasi dari lembaga-lembaga riset. Hasil-hasil riset itu mempercepat imajinasi publik akan hadirnya pemimpin yang mereka harapkan.

Tulisan ini hendak mengulas secara sederhana jebakan realitas figur pemimpin dan ekpektasi publik tentang kepemimpinan. Perlu saya tekankan: jebakan. Besar harapan, kita cermat dan jernih dalam mempertimbangkan dan memilih.

Jebakan Popularitas

Penting kita bedakan pengertian popularitas dan populisme supaya kita paham benar mana yang sejatinya lebih pas dibutuhkan.

Popularitas lebih menekankan pada faktor keterkenalan, baik positif maupun negatif. Respon yang melekat pada popularitas adalah sanjungan jika menyangkut hal positif dan cacian jika menyangkut hal negatif. Ukuran popularitas adalah seberapa banyak orang/merek/institusi disebut, diperbincangkan, dipertukarceritakan. Semakin banyak dan sering disebut, tercapailah ukuran popularitas itu.

Konsultan Pencitraan

Justru karena dibicarakan, bahkan dicibir, peran pencitraan dalam penampilan seorang pemimpin tampak begitu penting. Berarti ada sesuatu di balik pembicaraan tersebut.

Beberapa tokoh yang kerap diserang dengan olok-olok pencitraan adalah SBY, DI, dan Jokowi. Sengaja tidak saya tuliskan nama panjang mereka karena inisial atau nama cekak itu sudah melekat pada citra mereka. Pengandaiannya jelas: publik tahu siapa yang dimaksud.

Yang teranyar, dalam beberapa hari ini, pencitraan SBY kembali jadi pembicaraan gara-gara TB Silalahi, mantan tim suksesnya, menguak kabar bahwa perlu mendatangkan ahli bahasa tubuh dari Inggris untuk menata penampilan sang calon presiden waktu itu. Buahnya, sampai saat ini kita menjumpai SBY sebagai sosok yang tampak berwibawa, dengan gerak tangan yang teratur, senyum yang terjaga, dan tuturan yang terkontrol. Faktanya, publik negeri ini menerima polesan tersebut.