Blog

Jogja Macet

Status media sosial banyak orang yang sedang berkunjung ke Jogja hari-hari ini sama: macet! Ada yang menulis “Jakarta pindah Jogja”. Bersamaan, para pewarta foto menghelat pameran “Jogja Berhenti Nyaman”.

Tak hendak turut mengeluh, saya memilih untuk menyorot Jogja dari dua sisi: pemasaran dan kreativitas. Ada paradoks pada keduanya.

Secara pemasaran, kemacetan Jogja di musim liburan menandakan keberhasilan menancapkan merek kota ini sebagai tujuan wisata. Sekaligus, kegagalan pengelola merek dalam menyediakan pilihan.

Incoming search terms:

  • jogja macet

Batik Mandela

Nelson Mandela bersama Oprah Winfrey, 2002.

Nelson Mandela bersama Oprah Winfrey, 6 Desember 2002

Dunia sedang berkabung. Nelson Mandela mangkat, 6 Desember lalu. Jenazahnya baru akan dimakamkan 15 Desember nanti. Disebut-sebut, pemakaman itu akan menjadi upacara perkabungan terakbar sepanjang masa. Seluruh dunia mengibarkan doa perpisahan untuk pejuang kemanusiaan anti apartheid ini.

Perhatian dunia sedang menuju pada sosoknya. Tak berlebih jika di kolom ini pun kita mengenangnya. Ada jasa besar yang diperankannya pada produk Indonesia, yakni kecintaannya pada batik. Tak hanya mengoleksi, namun memakai.

Sejak perkenalannya dengan batik pada Oktober 1990, sebagai hadiah dari pemerintah Indonesia atas kunjungannya, Mandela gemar mengenakan baju bermotif khas kekayaan Indonesia itu. Dalam berbagai kesempatan kunjungan kenegaraan, ia sangat percaya diri berbatik. Bahkan, ketika menemui Presiden Amerika Serikat George W Bush, di Gedung Putih, pada 17 Mei 2005, berhadapan dengan presiden negara adikuasa yang mengenakan setelan jas, Mandela menghangati diri dengan batik. Sungguh membanggakan. Pantas jika kemudian Mandela kita hormati sebagai Bapak Batik Dunia, menyanding mendiang Gus Dur yang juga amat bangga berbatik.

Sudah Berbenah

Kereta api ini beranjak tepat waktu pukul 18.30 WIB. Senja baru saja menepi. Perlahan, kereta melaju ke barat, mengejar matahari yang belum lama membenamkan diri.

Saya pun segera membenamkan diri di kursi nomor 10D. Petugas tiket memberi saya tempat duduk sesuai pesanan, “Di tengah mepet jendela ya, Mas.” Memilih mepet jendela supaya bisa menyandarkan kepala saat mengantuk nanti.

Ini perjalanan berkereta saya sejak lebih dari dua tahun lalu. Sebuah acara mengundang saya ke Jakarta. Tak memburu waktu, saya memilih naik kereta. Dan kereta yang saya pilih adalah kereta favorit saya: Senja Utama Yogyakarta. Nama yang sederhana sekaligus puitis: senja. Telah lama saya merindukannya. Padahal, dulu, kereta kelas bisnis ini kerap saya tunggangi untuk pulang kampung. Murah, nyaman.