Blog

Para Pembunuh

Sekonyong-konyong, teman-teman baik saya menjadi pembunuh. Sekurang-kurangnya, aktivitas mereka mengarah ke tindakan pembunuhan.

Saya jadi berkunang-kunangmenyikapi pertemanan saya dengan mereka. Dalam hati saya percaya bahwa mereka orang-orang baik, setidaknya kepada saya. Saya rasa, mereka bukan orang jahat, setidaknya kepada saya. Saya yakin mereka pun tidak sedang merencanakan atau melancarkan aksi pembunuhan, juga setidaknya kepada saya.

Semalam saya bersama para pembunuh itu. Di Kopi Jo, kami duduk bercengkerama hingga waktu melompati pergantian hari. Minum kopi, itu yang menyatukan kami. Kopi biasanya dikembaridentikkan dengan kesukaan para pembunuh itu. Bedanya saya dengan mereka, saya hanya minum kopi, tidak “meminum” yang lain yang menyebabkan mereka dikategorikan sebagai pembunuh. (Di Jogja, aktivitas peneman minum kopi itu disebut “ngunjuk ses”, minum rokok. Entah, bagaimana asalnya merokok disebut minum.)

Muke Lu Jauh

Tahun 2014 ini kita memasuki yang disebut “tahun politik”. Magnet politik seakan begitu kuat menyedot perhatian kita semua. Tiada jeda untuk pembicaraan di luar itu. Jika pun ada jeda langsung diseret-seret ke politik.

Syahdunya, politik yang diagung-agungkan saat ini adalah politik awang-awang. Jauh citra dari pencitraan. Disparitas kenyataan terhadap harapan begitu lebar. Melompat ke seberang tak punya daya, bertahan pun sudah berjinjit di pelupuk jurang. Mungkin hanya rahmat yang bisa menyelamatkan.