Blog

Mengapa Marah?

Marah itu pilihan. Tak marah itu keputusan. Latih respon yang tepat!

Justru ketika heboh tentang Florence sudah surut, saya sodorkan pemikiran ini. Sudah mengendap, tak lagi meledak-ledak. Sudah berjarak, tak lagi larut dalam situasi. Sebagai praktisi komunikasi yang aktif bergaul di media sosial, saya berpendapat, kita perlu melihat kembali secara jernih apa yang sudah terjadi dan apa yang sebaiknya kita benahi.

Ini penting saya sodorkan mengingat masyarakat kita banyak yang suka ribut pada saat terjadi sebuah kejadian namun enggan merefleksikan kembali ketika tidak terjadi apa-apa. Akibatnya jelas, kehebohan-kehebohan yang sama berulang seolah-olah kita tidak pernah belajar dari yang sudah-sudah. Lelah sekali berada di tengah masyarakat yang enggan belajar.

Oleh karena itu, di saat tidak terjadi apa-apa seperti sekarang inilah kita bisa duduk santai untuk belajar secara terang-benderang. Tanpa emosi, tanpa darah yang mendidih. Hati dingin, darah sudah mengalir lancar dan merata ke seluruh tubuh. Datar, kritis secara objektif.