Blog

Menulis Diri Secara Memikat

150428 Selfie Writing 1Selfie, bagi kebanyakan orang, aktivitas narsistis belaka. Selfie, bagi sebagian orang, sarana berbagi. Bagaimana selfie writing bisa menuntun ke perjalanan spiritual?

Selesai ikuti pelatihan mini “Selfie Writing with NLP” di Bale Angon, Jogja, Selasa, 28 April 2015 petang kemarin, peserta pahami betapa menulis tentang diri sendiri itu mengasyikkan. Selfie, ketika dilakukan dengan cara menulis, hasilnya jauh berbeda dengan selfie secara fotografi. Ketemulah keyakinan baru betapa menulis adalah panggung imajinasi tempat pentas kreativitas boleh digebyar sesuka penulis.

Awalnya memang fotografi. Sejak beberapa tahun ini orang suka memotret diri sendiri dan memasang hasil jepretan di media personal dan sosial. Ada yang memasang sebagai foto pajangan (display picture) di BB, WA, FB, Twitter, dan media lain. Ada pula yang berbagi lewat media-media tersebut sebagai kabar kepada teman.

Tak kurang tokoh-tokoh besar dunia ber-selfie. Sebut beberapa nama: Barack Obama, Paus Francis, SBY, hingga Jokowi dan JK. Selebritas layar lebar dan layar kaca tentu tak perlu disebut. Dunia mereka begitu.

Cerita Online

Pengguna internet di Indonesia sudah tembus angka 82 juta. Demikian rilis Kementerian Komunikasi dan Informatika. Artinya, jumlah penduduk Indonesia maya sudah sepertiga penduduk Indonesia nyata.

Di balik angka itu berderet informasi tentang naiknya trend penjualan lewat online. Banyak orang makin sering memborong barang yang produknya terpajang di online shop. Penggunaan alat pembayaran non tunai lewat online pun meningkat. Pelaku penjualan online juga meningkat pesat. Penyedia jasa ekspedisi pun makin beragam. Dan, pemerintah makin dekat berancang-ancang memberlakukan pajak bagi jenis transaksi yang tahun ini transaksinya diprediksi tembus di angka USD 20 miliar (Rp 258,56 triliun), jauh meningkat dibandingkan USD 8 dolar di 2013 dan USD 13 miliar di 2014. Besar? Ternyata belum seberapa jika dibandingkan Cina yang transaksi onlinenya melampaui USD 300 dolar.

Sebagai penulis, saya penasaran, apakah anda sudah siap menyongsong angka transaksi yang fantastis ini? Sudahkah anda menyiapkan informasi tertulis secara menarik di media-media promosi dan penjualan online?

Melepas Sanggul dan Kebaya Kartini

kartiniMasih jamak, peringatan Hari Kartini ditandai dengan lenggak-lenggok peragaan budaya daerah. Entah di sekolah, lembaga pemerintah, maupun kelompok masyarakat, sebatas memaknai Kartini dalam simbol-simbol yang mewakili citra ketradisionalan. Kartini diidentikkan dengan masa lalu yang kuno. Masih relevankah sikap seperti itu?

Baik bahwa Kartini juga dilambangkan sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan. Surat-suratnya kepada sahabat-sahabat pena, yakni sahabat-sahabat penanya, yakni Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya Abendanon-Mandri, Prof Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya van Kol, yang kemudian dibukukan oleh JH Abendanon menjadi buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), dirujuk sebagai sumber referensi tentang emansipasi tersebut.

Apakah surat-surat Kartini masih dibaca hingga kini? Apakah perjuangan emansipasi perempuan masih merujuk dari teks tersebut? Pada perikop mana saja surat Kartini selalu relevan untuk dihadirkan ulang pada perayaan hari kelahirannya?

Kabar Wartawan

Apa kabar pers arus utama? Bagaimana media mengawal demokratisasi? Masih menjadi pilar keempatkah? Apa saja yang terbuka dilakukan media massa dalam membangun optimisme hidup berbangsa?

Saat ini saya sedang tergabung dalam sebuah tim alih kelola (take over) sebuah perusahaan surat kabar. Masih negosiasi. Jika nanti pembicaraan pengelola lama dan calon pengelola baru sampai di titik sepakat, saya mendapat tugas masuk di tim redaksi. Kembali menjadi wartawan. Kembali ke dunia olah berita yang saya masuki 21 tahun lalu dan saya tinggalkan 12 tahun sesudahnya.

Zaman sudah berubah. Kehidupan bermedia sudah bukan monopoli pers arus utama. Media sosial salah satu pengubahnya. Setiap orang bisa jadi penyampai berita. Setiap orang bisa seketika menanggapi berita yang sampai di tangannya. Berita telah turun kasta sebagai kabar ketika informasi begitu mudah disebar tanpa filter-filter akurasi, kebenaran, dan kemanfaatan yang lazim dijunjung di jurnalisme.

Banyak wartawan yang terseret tsunami perubahan ini. Rezim kecepatan melemparkan banyak wartawan kepada cara kerja asal-asalan: asal kutip, asal tulis, asal tayang. Bertangkup pula mereka dengan pembaca yang turut asal-asalan: asal baca, asal komentar, asal menyebarkan. Tak banyak wartawan yang sanggup bertahan ketika kinerja mereka semata diukur dari berapa banyak pembaca meng-klik tautan berita mereka, berapa banyak pembaca membagi (to share) tautan mereka di media sosial. Rating jadi tolok ukur di mana-mana.

Mengemas Cleopatra

Siapa yang memuja kecantikan badani akan terlipat oleh keriput waktu. Komodifikasi lagi-lagi menjangkiti publik. Tanda apa?

Ratu Mesir yang masyur itu bernama Cleopatra. Kecantikannya tiada dua. Berabad-abad sesudahnya, dunia masih memuja. Kecantikan perempuan-perempuan modern pun disandingkan pada parasnya. Kisah cintanya dengan Mark Anthony kemudian melegenda sebagaimana Romeo-Juliet.

Cleopatra simbol kesempurnaan tubuh wanita. Mark Anthony hanyalah satu nama yang disebut, dan kemudian dikenal, sebagai lelaki beruntung yang boleh memeluk kesempurnaan itu setelah menyingkirkan Julius Caesar. Di luar, banyak yang sebatas mengagumi dan memimpikan. Tak lelaki tak wanita.