Blog

Kompas 50 Tahun

Big Pure TalentBerterima kasih kepada media tempat saya banyak belajar. Kompas.

Lulus kuliah Mei 2003, tepat tujuh tahun dari waktu yang diberikan kampus, saya melamar ke Kompas. Koran ini sedang membuka lowongan wartawan. Pas.

Yang tidak pas adalah ketika panggilan tes datang saya sedang di Jakarta. Bercelana jins dan berkaos saja ke sana. Tak ada persiapan untuk tes atau melamar pekerjaan. Tidak bawa celana kain, kemeja, dan sepatu.

Untung banyak teman di Jakarta. Demi kepantasan, saya pun pinjam baju berkerah pada seorang kakak kelas De Britto. Lucunya, dia juga beroleh panggilan yang sama. Menumpang sekalian tidur di rumahnya di Karawaci, pagi sekali kami berangkat naik PPD 45 jurusan Blok M dan turun di Slipi. Berpindah Mikrolet 11 jurusan Kebayoran, kami menuju Palmerah, kantor Kompas.

Naikkan Harga

Sell the Mentor 1 Arus besar tak harus diikuti. Fokus pada mereka yang mau keluar dari arus yang melemahkan. Fokus pada yang hanya mau naik kelas.

 

Di saat perekonomian disebut-sebut sedang memburuk seperti sekarang, dan banyak orang bersepakat atasnya, dan sebagian dari mereka berjamaah menggerutui keadaan, dan kemudian makin benarlah keburukan itu, saya merasa ini saat yang tepat bagi saya untuk menyampaikan sikap. Bukan sikap yang menentukan perekonomian bangsa, lebih-lebih yang kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih-lebih yang kemudian mampu membangkitkan orang-orang dari keterpurukan, lebih-lebih membalik keadaan, melainkan hanya untuk mengurangi satu suara bahwa tidak selalu yang umum itu patut diikuti apalagi jadi rujukan kebenaran.

Kemah Menulis

IMG_20150607_110525Belajar dengan bermain. Sungguh-sungguh bermain yang belajar. Tentang “kemah menulis” yang dimuat di Harian Bernas, 10 Juni 2015.

 

Aldian Aldi berdiri tegap di depan barisan. Ia memberi aba-aba kepada teman-teman yang berbaris di depannya. Hari mulai malam. Sebanyak 155 murid SMP Maria Assumpta Klaten tengah ikuti kemah menulis bertajuk “writing tresna jalaran seka kulina”, Sabtu-Minggu, 6-7 Juni 2015 di lapangan kampus setempat. Aldian murid kelas 7 di sekolah tersebut. Ia anggota dewan penggalang yang sejak sehari sebelumnya menggelar kemah pramuka untuk peserta yang sama.

Malam itu terasa istimewa. Acara pelatihan menulis diadakan secara berbeda. Tidak di kelas atau aula, melainkan di lapangan terbuka. Duduk di lapangan basket, mereka beratapkan langit. Sedang tidak berbintang, langit hanya berhias secuil bulan. Itu pun sembunyi-sembunyi di balik awan.

Mengundang pembicara dan pelatih menulis AA Kunto A, kemah menulis dikemas sedemikian rupa menjadi ajang belajar menulis secara mudah dan menyenangkan. CoachWriter yang sekaligus Pemimpin Redaksi HarianBernas.com tersebut punya metode unik menggerakkan murid-murid antusias belajar menulis.