Blog

Paus Ingkung

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Hidup bertetangga di kampung itu hidup dalam aliran rejeki. Jika tak memberi ya menerima. Jika tak menyumbang ya meminta tolong. Jika tak mengubur ya menyambut kelahiran.

Seperti pagi ini. Usai takziah atas kematian Yesus di Jumat Agung lalu, lalu semalam merayakan kebangkitannya, pagi ini tetangga depan rumah mensyukuri bertambahnya keluarga mereka. Sebesek “ater-ater” diantarkan ke rumah: nasi ingkung ayam.

Dalam tradisi Jawa, yang saya dengar dari tuturan-tuturan simbah, ingkung bermakna penyucian. Bayi yang lahir digambarkan suci. Keluarga bayi memohonkan supaya penerima ingkung mendoakan agar mereka diampuni dosa-dosanya supaya kembali suci.

Kuburan Digital

Subiakto: Jogja itu ya gudeg! (Foto: AA Kunto A)

Subiakto: Jogja itu ya gudeg! (Foto: AA Kunto A)

“Kalau namamu nggak ada di Google, matilah…,” vonis Subiakto Priosoedarsono, dalam sepotong percakapan di suatu parkiran hotel yang disulap menjadi tempat mengudap, Jumat (25/3)┬ásiang.

Pak Bi, sapaan orang-orang pada lelaki asal Solo yang lebih suka bekerja solo ini, dikenal sebagai pakar pencitraan. Publik menjulukinya “pakar branding”. Google dengan cepat menyuguhkan sosoknya, dan situs subianto.net, atau akun berkicau @subiakto, ketika kita mengetikkan dua kata kunci itu di mesin pencari.

“Padahal saya nggak suka disebut pakar. Pakar itu tahu teori. Saya praktisi. Tapi orang protes kalau saya mengelak disebut pakar branding,” Pak Bi serius.

Tugasku Melangkah

PhotoGrid_1458795386841

Walau kaki patah, saat masih berpengharapan, kaki tetap melangkah.

Saya tak ingat persis sumber ungkapan itu. Yang jelas, saya terkesan dengan ungkapan itu. Dan mengamini.

Dua dekade lalu, pada pagi yang masih kanak-kanak, saya tersungkur di jalan raya. Motor yang saya kendarai diseruduk mobil dari arah berlawanan. Urung ke sekolah, saya digotong ke dalam mobil penolong lalu dilarikan ke rumah sakit. Ibu saya yang menangani saya di IGD, tentu dibantu teman-teman perawat beliau. Berangkat dari rumah 10 menit lebih awal, pasien pertama ibu adalah anaknya sendiri.

Kaki saya patah. Lebih: remuk. Operasi panjang saya tempuh. Tertolong, tak jadi diamputasi. Dua bulan saya terbaring di ranjang. Tak sekolah.