Blog

Hantu Toko, Ketika Toko Buku Berhantu

Hantu Toko BukuSebagai generasi peralihan, buku cetak masih saya santap. Seperti belum makan nasi kalau belum membaca buku cetak. Teks digital yang berlimpah, meski lezat juga, tapi tak mengenyangkan. Dasar!

Maka, berkunjung ke toko buku, menjebol plastik pembungkus buku, menyibak halaman demi halaman, ‘menimbang’ bobot nilai dan berat fisik, membayar tunai di kasir, dan membungkus pulang dengan tas plastik tak ramah lingkungan adalah ritual yang jika tak ditempuh setiap bagiannya rasanya lebih berdosa daripada tidur di gereja tatkala kotbah pastor menjemukan. Ah, lebay!

Kali ini saya singgah ke Gramedia MBG, Bali. Bukan untuk ngecek buku karya saya atau terbitan penerbit saya–karena sudah empat tahun tak lagi menjual buku lewat toko buku, melainkan untuk membungkus buku bagus karya penulis dan penerbit tangguh. Masih banyakkah buku bagus? Banyak sih tidak. Ada.

Haji Ayam, Ketekunan Sang Pekerja

Haji Ayam Ketekunan Pekerja“Jangan menilai orang dari penampilannya.”

Hiks, untung pesan itu selalu menyala laksana alarm. Lebih-lebih ketika bersua dengan orang yang penampilannya kelewatan: kelewat parlente atau kelewat kere.

Seperti siang ini. Tatkala sedang singgah di suatu tempat, seorang bapak menghampiri saya. Ia bertanya beberapa hal, dan saya antusias menjawabnya.

Bekukan Sebelum Sebarkan

Jika ingin makan ikan yang selalu segar, idealnya, pergilah melaut, jala mangsa, gelar tungku, dan masak di atas […]