Blog

RIP Romo Koelman: Sekolah Tak Mengurusi Rambut

 

RIP Romo G Koelman SJ

Sumber foto: Sesawi.Net

Cerita turun-temurun dari kakak kelas itu tentang gaya seorang pastor Jesuit yang nyentrik. Tiga yang saya catat:

Pertama, adu jotos. Saat menjadi pamong di SMA Kolese de Britto di tahun 1970-an, Yogyakarta, ia geram jika mendengar ada muridnya berkelahi. Geram jika perkelahian tidak berimbang, lebih-lebih jika keroyokan. Ia cari murid yang bertikai itu sampai ketemu, lalu giring mereka ke lapangan dan tunggui mereka berkelahi satu lawan satu. Ya, satu lawan satu.

Kapan selesainya? Ketika salah satu menyatakan kalah dan minta maaf? Bukan. Ketika yang menang memaafkan dan keduanya berpelukan. Perdamaian dicapai bukan ketika ditemukan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan ketika yang merasa hebat mengampuni yang lemah.

Ad Finem. Sampai Akhir.

 

Ad finem. Sampai akhir.Sudah Desember lagi. Bulan baru tahun lawas. Sebentar lagi Januari, bulan baru tahun baru. Dan, resolusi baru–meski itu resolusi tahun-tahun lalu.

Saat ke Jogja kemarin, saya singgah sarapan di Warung Bu Wignyo. Di tengah kampung Demangan, letaknya sejengkal saja dari SMA Kolese De Britto, almamater saya. Menu favorit yang selalu saya rindui adalah sup bening dengan “topping” rajangan daging empal. Plus dua potong “tempe kemul”. Banyak teman suka sambalnya, saya suka rasa gurihnya.