Blog

Andelis, Rahasia Colokan Dua Kaki

Menyatu dalam keluarga (foto-foto: dokumentasi Inung)

Menyatu dalam keluarga (foto-foto: dokumentasi Inung)

Berbalik dengan publik yang senang dilayani “semakin cepat semakin baik”, pelaku pariwisata lebih senang ketika “semakin lama semakin baik”.

“TripAdvisor Nobatkan Bali Terbaik Dunia: untuk Rileks dan Petualangan,” demikian bunyi berita teras Tribun Bali, 16 April 2017. Sebagai warga Jogja yang hijrah ke Bali saya mengangguk sambil menambahkan: Bali tempat terbaik untuk bekerja secara rileks yang penuh petualangan.

Ulasan tentang Bali sudah banyak. Saya tidak akan mengulasnya lagi di sini. Saya berminat menuliskan hal lain yang berdekatan.

Begitu membaca berita di atas, saya langsung menghubungi teman saya Bramani Senu Murti. Dia pemilik Andelis Homestay di Jogja. Kami satu sekolah di SMP 1 Yogyakarta dan SMA Kolese de Britto. Bahkan satu kelas.

Abdi Negara: Uang Itu Sarana

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Kurang uang, bekerja cari uang. Kelebihan uang, bekerja untuk apa?

Malam ini saya belajar dari Pak Budi Santoso tentang uang. Kami sudah tiga kali bertemu di bisnis yang memungkinkan kami sering bertemu. Seminggu dua kali kami bertemu: belajar, berbagi, dan bersyukur.

Baru sebulan saya bergabung di bisnis ini. Pak Budi sudah dua tahun. Penghasilannya sudah lebih dari 10 kali lipat dari gajinya 18 tahun sebagai tenaga honorer di Pemkot Denpasar. Gajinya “nyangkut” di angka dua juta lebih lima ribu rupiah tiap bulan. Tak perlu saya urai kepedihannya. “Setiap istri dan anak pergi belanja, saya selalu mengikuti. Takut uangnya nggak cukup,” kelakarnya menertawakan masa lalu.

Incoming search terms:

  • Uang adalah sarana bukan tujuan…

Duplikasi Kepemimpinan, Sisi Lain Bisnis

Duplikasi kepemimpinan: belajar dari yang lebih muda

Duplikasi kepemimpinan: belajar dari yang lebih muda

Untuk kesekian kali saya menjumpai kisah seperti ini: orang keluar dari tempatnya bekerja untuk menekuni bisnis. Dan saya selalu terkesima dengan kisah mereka. Saya selalu menyimak tuturan mereka, dan menjumput setiap butir mutiara keberanian yang mereka keluarkan dari lumpur keraguan.

Seperti siang kemarin. Di siang yang sangat terik, saya menerima tamu. Ini kali pertama saya bersua dengan orang muda yang terpaut delapan tahun tanggal lahirnya ini. Ia datang ke Bali untuk mengikuti pelatihan “menduplikasi kepemimpinan” bertajuk LEADERSHIP INCUBATOR. Sejak kelas dua SD, ini kali kedua ia datang ke Pulau Dewata. Ojek online menolongnya, membuatnya bebas pergi ke mana pun, bahkan ke tempat yang belum pernah ia jejak.

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.