4 hal paling menyebalkan dari De Britto (1)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Beda

Persis seperti pembuka tulisan ini, hal pertama yang sangat menyebalkan dari De Britto adalah tentang beda, pembeda, dan perbedaan. Mantranya: “Cah De Britto ki kudu beda.” (Cah berasal dari kata bocah, untuk mewakili siswa dan alumni) Orang luar pun menebalkan label “Cah De Britto ki pancen beda”. Kudu dan pancen. Harus dan memang. Harus: yang akan dikerjakan berbeda. Memang: yang sudah dikerjakan selalu berbeda.

Artinya, menjadi De Britto itu tidak boleh mengerjakan sesuatu jika prosesnya tidak berbeda. Kemudian, hanya bisa disebut sebagai De Britto jika hasil pekerjaannya berbeda. Berbeda dari pekerjaan lain, berbeda dari pekerjaan orang lain, bahkan berbeda dari pekerjaan diri sendiri di waktu lain.

Dengan kata lain, De Britto itu pencipta. Dari belum ada menjadi ada. Dari ada menjadi lebih baik. Dari lebih baik menjadi lebih cepat. Bahkan, dianggap sungguh-sungguh De Britto jika bisa mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.

Ini menyebalkan! Sebal, seolah cah De Britto tidak boleh mengerjakan sesuatu yang sama dengan yang lain. Keseragaman ditabukan sebagai sesuatu yang nista. Padahal, sekolah sendiri mengadopsi banyak persamaan dalam proses pendidikannya. Selain seragam sekolah yang kasat mata, mengikuti kurikulum pemerintah berarti tunduk juga kepada keseragaman. “Tapi kan karakternya beda.” Keseragaman selalu berujung penyangkalan. Padahal, sedari sononya diajarkan bahwa, “Manusia diciptakan secitra dengan Allah.” Secitra itu serupa.

Sungguh, ini menyebalkan! Sebagai penulis dan pekerja kreatif yang berkecimpung di pekerjaan-pekerjaan penciptaan karya (tulis, video, gambar) dan pelatihan, azas “beda” ini acapkali mengganggu. Tidak menghalangi sih, hanya saja bikin proses tersendat manakala merasa bahwa karya yang saya ciptakan sama saja dengan bikinan orang lain. Seperti ketika menulis ini. Macet berbulan-bulan ide saya gara-gara sebal dengan topik dan tulisan yang sama dengan orang lain atau sama dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Pantang mengulang, demikian gugatan batin saya sehingga mesti berulang-ulang pula saya mencari dan memulai topik baru.

Ah, baru sampai di sini saja sudah mengulang paragraf pembuka. Menyebalkan, kan? Ya, prinsip “melawan arus” (agere contra) yang ditanamkan di dalam pendidikan Jesuit itu mengganggu ketika situasi dunia tidak semuanya mesti dilawan. Jika arusnya baik, mengapa harus dilawan? Kenapa tidak ditungganggi atau dinikmati saja?

@AAKuntoA | 20012021

Catatan: Oleh seorang guru SMA Kolese de Britto, saya diminta menulis sesuatu yang berharga dari almamater saya tersebut. Mau dibukukan. Tulisan sudah saya kirimkan 27 Juni 2020. Sampai hari ini tidak ada kepastian jadi-tidak diterbitkan maka tulisan saya unggah di sini.