4 hal paling menyebalkan dari De Britto (2)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Bagus

Menjadi orang biasa tidak dianjurkan di De Britto. Juga tak diajarkan. Yang ditanamkan oleh guru adalah bagaimana menjadi pribadi yang luar biasa. Unggul bahasa lainnya. Berkarakter istilah halusnya.

Kerap dikutip ujaran pamong-pamong pendahulu yang belum pernah saya dengar langsung dari sumber pertama, “Kalau jadi orang baik ya baik sekalian.” Kalimat lanjutannya meragukan kebenarannya, “Kalau jadi penjahat ya penjahat yang hebat.” Saya menduga, kalimat lanjutan itu bukan ajaran pokok. Hanya imbuhan dalam percakapan. Sebab, menurut saya, nilai yang resmi ditanamkan di lembaga pendidikan tetaplah nilai-nilai kebaikan. “Kalau ajaran Jesuit kan begitu,” ujar mereka berdalih tanpa bisa menunjukkan sumbernya.

Saya meyakini, ajaran pokoknya tentang totalitas. Totalitas yang positif. Bukan sebaliknya. Totalitas mewujudkan konsentrasi (agere quod agis). Konsentrasi niscaya hasilnya bagus. Begitu alurnya.

Hasil bagus berarti suatu pencapaian maksimal. Sedangkan konsentrasi untuk mencapai hasil bagus berarti suatu upaya yang optimal. Proses harus dilibatkan dalam mencapai hasil. Semua mesti bagus. Tidak ada istilah “proses lebih penting daripada hasil”. Setara. Keduanya sama penting.

Bagus, kan? Iya, tapi menyebalkan!

Bagaimana tidak. Dalam keseharian, tuntutan untuk berproses optimal untuk mencapai hasil maksimal ini seperti perintah panglima perang yang jika ditolak pasti berujung kematian namun jika dilaksanakan belum tentu menjanjikan kehidupan. Mundur buntung, maju belum tentu untung. Satu-satunya pilihan dari tidak adanya pilihan hanya maju. “Imanmu menyelamatkan,” itu saja harapannya.

Di karier dan pekerjaan, semangat itu terasa betul. Cah De Britto itu ngotot dalam bekerja. Karena ngotot maka menonjol. Karena menonjol maka karier melesat. Saya, yang sudah menjadi jurnalis sejak sekolah di De Britto, sudah terkenal sebagai kolumnis dan penulis buku saat kuliah di Fisipol UGM. Setiap minggu tulisan saya menghiasai berbagai media massa daerah dan nasional. Lulus kuliah, setelah berkarier di media selama tiga tahun, saya pindah ke perusahaan lain karena ditawari jabatan tertinggi di bawah pemilik perusahaan. Belum 10 tahun lulus dari De Britto saya sudah mencapai karier puncak sebagai karyawan.

Sesudah itu, saya berpindah-pindah perusahaan, selain juga mendirikan perusahaan sendiri. Ya, pekerjaan berbasis menulis seperti saya memungkinkan bekerja dalam beberapa kuadran sekaligus di satu waktu yang sama. Kenapa pindah? Secara objektif karena pencapaian saya selalu puncak. Untuk mendapatkan tantangan baru dan lebih tinggi mesti pindah perusahaan lain. Alhasil, di usia 43 tahun saya sudah pensiun berkali-kali.

Secara subjektif? Saya bosan ketika tiba saatnya mesti mengerjakan hal yang sama akibat sistem sudah berjalan. Belagu, kan? Sebentar, sebelum menjawab, ada baiknya lanjutkan dulu membaca bagian berikut ini.

 @AAKuntoA | 20012021

Catatan: Oleh seorang guru SMA Kolese de Britto, saya diminta menulis sesuatu yang berharga dari almamater saya tersebut. Mau dibukukan. Tulisan sudah saya kirimkan 27 Juni 2020. Sampai hari ini tidak ada kepastian jadi-tidak diterbitkan maka tulisan saya unggah di sini.