4 hal paling menyebalkan dari De Britto (3)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Magis

Ada dua pengertian magis yang saya resapi dari prinsip dan dasar Latihan Rohani Ignatian yang saya kenal sejak sekolah di De Britto. Pertama, jika bisa lebih bagus kenapa hanya bagus saja? Kedua, justru karena sulit maka tantangan wajib diterima.

Ini sungguh menyebalkan! Mengapa? Karena ini berarti saya tidak boleh puas dengan proses dan hasil bagus semata. Bagus itu tidak cukup. Cari tahu dan temukan cara bagaimana lebih bagus lagi. Terus begitu setiap kali mengerjakan sesuatu. Tidak pernah selesai. Tidak pernah puas.

Berkebalikan dengan “tidak ada puncak tertinggi”, magis juga saya artikan sebagai “tidak ada lembah terdalam”. Artinya, sebagaimana tidak boleh puas dengan pencapaian, tidak boleh pula menyerah dengan pencobaan. Tahan. Hadapi. Justru karena sulit suatu ujian menaikkan kelas. “Nakhoda yang tangguh tidak dihasilkan dari lautan yang tenang,” kutipan mutiara dari jalanan yang selaras dengan semangat magis ini.

Menyebalkannya, kadang saya, seperti cah De Britto lainnya, justru mendekati pekerjaan-pekerjaan yang dari jauh sudah tampak kesulitannya. Bukannya menghindar dan cari pekerjaan mudah, keberanian mengurai kesulitan jadi semacam kebanggaan tersendiri.

Saya merasakan, keputusan-keputusan saya menerima tawaran suatu pekerjaan, baik berupa projek temporal maupun kontrak jangka panjang, telah terlebih dulu saya timbang-timbang aspek tantangan sulitnya. Jika tidak ada tantangan, atau tantangannya teramat mudah, yakni biasanya melekat pada pekerjaan dengan sistem yang sudah rapi, saya enggan menyanggupinya. Apa artinya bekerja jika saya tidak belajar sesuatu yang baru yang menaikkan kompetensi saya?

Maka, dalam catatan saya, perusahaan-perusahaan yang saya gabungi umumnya perusahaan rintisan baru atau bangkit dari keterpurukan. Jika rintisan, kesempatan untuk babat alas. Jika bangkit, peluang untuk babat sistem dan orang! Begitu perusahaan bisa jalan sendiri, bahkan kencang, saya undur diri.

Pernah saya coba masuki perusahaan yang sistemnya sudah sangat bagus. Tugas saya merintis unit baru. Saya mau karena ada tantangan yang tidak mudah, yakni mengelola unit kecil dalam sistem perusahaan yang besar, kompleks, dan jalur keputusannya berjenjang. Saya niati belajar sesuatu yang baru sambil fokus menyelesaikan tugas yang diberikan ke saya. Singkatnya, belum sepertiga waktu kontrak, tugas sudah saya selesaikan. Tentu dengan hasil baik. Lalu di sisa kontrak, yakni dua pertiga waktu berikutnya, praktis tidak ada lagi yang menantang karena tinggal mengawal dan mengontrol.

 @AAKuntoA | 20012021
Catatan: Oleh seorang guru SMA Kolese de Britto, saya diminta menulis sesuatu yang berharga dari almamater saya tersebut. Mau dibukukan. Tulisan sudah saya kirimkan 27 Juni 2020. Sampai hari ini tidak ada kepastian jadi-tidak diterbitkan maka tulisan saya unggah di sini.