4 hal paling menyebalkan dari De Britto (4)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Man for others

Semboyan ini sangat hidup di De Britto. Seperti pokok ajaran, setiap pribadi menghayati nilai ini sebagai keberanian untuk melepaskan kemelekatan (sacra indifferentia) kita pada sesuatu demi orang lain. Tidak boleh egois, yakni fokus untuk diri sendiri, melainkan mesti altruis, yakni menyediakan diri untuk orang lain.

Apa yang menyebalkan dari prinsip ini? Saya kehilangan kemerdekaan untuk menyatakan diri secara otentik sebagai pribadi yang lemah dan butuh diperhatikan. Prinsip ini menjadikan saya piawai mengemas situasi dan kondisi bahwa saya baik-baik saja, kuat, dan lebih dari yang lain. Jika kemudian terpaksa meminta tolong, atau sanggup membebaskan dari belenggu topeng ini, bahasa yang terungkap pun mesti jauh dari kesan belas kasihan. Pantang! Cah De Britto itu “lebih baik mati umuk tinimbang mati ngantuk”. Jika pun mati kepala tegak, tidak menunduk.

Benar saja. Gengsi seolah-olah kuat ini menjerumuskan. Saya tidak boleh menjadi “others” dari teman-teman saya. Saya adalah “man for”, yang dikodratkan hadir untuk orang lain. Maka, saat kesusahan, teramat tebal tembok pertahanan saya untuk menerima uluran bantuan teman. Malu rasanya dibantu.

Artinya, membantu orang di luar Cah De Britto itu jauh lebih mudah daripada membantu Cah De Britto. Tidak semua, tapi sebagian dan cukup menonjol itu gengsinya seperti saya. Walau menerima bantuan kala kesusahan tapi tidak mudah menuruti nasihat-nasihat yang menyertainya. Ya, walau tangan menerima uluran bantuan tapi kepala tetap keras.

Itu satu aspek. Aspek lainnya, menurut saya, semboyan “man for others” itu sudah usang. Semboyan itu relevan digaungkan di waktu lampau. Di waktu kini, “man for other” itu sudah jadi kosakata umum. Lebih-lebih dengan adanya media sosial, man for others telah diterjemahkan dengan ringan sekali “like, comment, dan share”. Setiap orang yang punya akun di media sosial sudah menghidupi spirit “man for others” dalam tataran paling permukaan.

Dalam tataran serius, teknologi digital juga sudah mampu menerjemahkan spirit “man for others” ini lebih konkret dan skala lebih besar. Tengok, contohnya, gerakan kitabisa.com yang digagas bukan oleh Cah De Britto, sudah sedemikian populer menjadi channel gerakan membantu sesama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Saatnya tinggalkan jargon “man for others”! Atau, jika susah “move on” dengan masa lalu, minimal letakkan jargon itu di kantong celana, lalu tangan mengepal di dada itu memperkenalkan nilai baru yang antisipatif pada perubahan zaman di waktu yang akan datang. Apa itu? Embuh! Saya bagian dari yang tidak “move on” untuk satu hal ini. Saatnya undang Cah De Britto anyaran merumuskannya. Percayakan pada mereka. Yakini bahwa penglihatan mereka lebih terang.

Sudah. Empat itu saja.

Tidak ada yang lain? Banyak! Dan ini sungguh amat menyebalkan. Bahwa justru De Britto membekali saya pisau refleksi yang jika diasah dan digunakan secara tepat bisa menguliti apa pun hingga ujung-ujung dan pangkal. Pisau refleksi ini yang saya rasakan jadi bekal paling menyebalkan dari kolese yang saya banggakan ini.

 @AAKuntoA | 20012021

Catatan: Oleh seorang guru SMA Kolese de Britto, saya diminta menulis sesuatu yang berharga dari almamater saya tersebut. Mau dibukukan. Tulisan sudah saya kirimkan 27 Juni 2020. Sampai hari ini tidak ada kepastian jadi-tidak diterbitkan maka tulisan saya unggah di sini.