Abdi Negara: Uang Itu Sarana

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Kurang uang, bekerja cari uang. Kelebihan uang, bekerja untuk apa?

Malam ini saya belajar dari Pak Budi Santoso tentang uang. Kami sudah tiga kali bertemu di bisnis yang memungkinkan kami sering bertemu. Seminggu dua kali kami bertemu: belajar, berbagi, dan bersyukur.

Baru sebulan saya bergabung di bisnis ini. Pak Budi sudah dua tahun. Penghasilannya sudah lebih dari 10 kali lipat dari gajinya 18 tahun sebagai tenaga honorer di Pemkot Denpasar. Gajinya “nyangkut” di angka dua juta lebih lima ribu rupiah tiap bulan. Tak perlu saya urai kepedihannya. “Setiap istri dan anak pergi belanja, saya selalu mengikuti. Takut uangnya nggak cukup,” kelakarnya menertawakan masa lalu.

Kini, setelah berlimpah, adakah niat untuk meninggalkan pekerjaan? “Istri saya melarang. Ia bilang biar kecil wajib disyukuri.”

Tak mau “kacang lupa kulitnya”, Pak Budi memutuskan untuk tetap menjadi pegawai honorer. Bukan untuk mencari uang, melainkan sungguh-sungguh mengabdi. Kini ia bekerja tanpa memikirkan uang.

Malam ini saya menyimak dengan khidmat kisahnya. Banyak perubahan sejak ia menjalankan bisnis ini. Lelaki 42 tahun ini jadi percaya diri. Pembina pramuka ini juga makin bernas saat berbicara di depan publik: berisi, sebab sudah terbukti. Perubahan terbesar tentu saja paradigmanya tentang uang.

Dulu, uang jadi masalah. Ia kekurangan uang. Jangankan untuk ditabung, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja pas-pasan, bahkan acap kurang. Uang yang sedikit itu habis dibelanjakan.

Sejak dua tahun ini ia punya pandangan baru tentang uang. Bukan soal sedikit-banyak uang yang jadi masalah, melainkan cara mengelolanya. Uang seberapa pun jika dipakai secara konsumtif pasti habis. Sebaliknya, walau sedikit, ketika tahu penempatan dan pengelolaannya, pasti berkembang.

Pak Budi mulai menabung sedikit dari yang sedikit itu. Setelah dua bulan menolak, ia memutuskan menabung di sebuah sistem yang memberinya 3 manfaat sekaligus: terlindung dalam asuransi, bertumbuh dalam pengelolaan investasi, dan tiap bulan melimpahinya penghasilan.

Di kantornya yang sudah berusia 42 tahun, yang bisnisnya aman dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyimak kisahnya, saya pun terbuka belajar mengelola uang.

Saya tahu, banyak orang masih tabu membincangkan uang. Saya juga begitu sebelum ini. Itu terjadi ketika menempatkan uang sebagai tujuan. Maka, ada pesan, “Jangan berorientasi pada uang.”

Setuju sekali. Maka, saya turunkan: uang hanyalah salah satu sarana mencapai tujuan. Selaraskan dengan sarana-sarana baik lainnya niscaya uang jadi sahabat baik mencapai tujuan.

Seperti Pak Budi. Karena ternyata uang bukan tujuan, ketika sudah menggenggamnya, ia tak lalai terhadap tujuan mulianya sebagai abdi negara.

Bali, 20 Mei 2017
@AAKuntoA
bit.ly/kunto3i

Cc: Aakuntoa Manajemen Kunto CoachWriter Peter Dendi Budiaji Pranata Arya Wirajaya Christian Chandra Hely Nugroho Agnes Dinar Santi Virginy Stoner Benedictus Dito Farinto

Incoming search terms:

  • budi abdi negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *