Ad Finem. Sampai Akhir.

 

Ad finem. Sampai akhir.Sudah Desember lagi. Bulan baru tahun lawas. Sebentar lagi Januari, bulan baru tahun baru. Dan, resolusi baru–meski itu resolusi tahun-tahun lalu.

Saat ke Jogja kemarin, saya singgah sarapan di Warung Bu Wignyo. Di tengah kampung Demangan, letaknya sejengkal saja dari SMA Kolese De Britto, almamater saya. Menu favorit yang selalu saya rindui adalah sup bening dengan “topping” rajangan daging empal. Plus dua potong “tempe kemul”. Banyak teman suka sambalnya, saya suka rasa gurihnya.

Kecuali bangunan yang sudah lama dijadikan dua lantai, tak ada yang berubah selebihnya. Harga tentu saja naik tapi tak secepat inflasi. Bu Wignyo makin menua, sebagaimana anak-anak sekolah pelanggannya yang kini sudah beranak remaja.

Oh, ada juga yang tak berubah. Anak-anak lelaki Bu Wignyo masih di posisi yang sama: meracik sayuran, mengaduk minuman, dan sesekali membantu menghidangkan makanan. Di jam ramai, mereka jaga parkir–gratis, menggantikan Pak Wignyo yang sudah berpulang.

Di kelas-kelas “resolusi tahun baru”, biasanya, sosok kedua lelaki itu jadi cambuk panas, “Jika tak punya perencanaan yang jelas, hidup kalian akan begitu-begitu saja tanpa perubahan.” Hidup yang tak beranjak adalah hidup yang keliru.

Di luar kelas, cambuknya melecut ke dalam, “Jika hidupmu tertuju pada ibumu, dan hatimu ada di situ, apa yang keliru?” Dua lelaki yang saya kenal baik tapi saya lupa namanya (plak!) ini tak ke mana-mana sejak saya kenal pertama lebih dari dua puluh tahun lalu. Mereka masih dengan penampilan yang sama, di tempat yang sama, dengan pekerjaan yang sama.

Tempus fugit. Waktu melesat. Pelanggan warung ini sudah berpencar ke mana-mana, dengan pencapaian-pencapaian tinggi, dengan resolusi yang selalu terbarui. Sedang mereka bergeming tak ke mana-mana, menemani ibu menyapa pembeli yang silih berganti. Ad finem. Sampai akhir.

1 Desember 2016
www.AAKuntoA.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *