Ada Tembok!

Kerap, dalam berbagai kegiatan pelatihan menulis, yang mengundang saya sebagai pembicara, muncul pertanyaan begini, “Apakah harus diketik di komputer?”

Menjawab “ya” atau “tidak” saja tidaklah bermanfaat. Begitu pikir saya. Tugas saya sebagai pelatih (coach) menulis bukanlah semata menjawab pertanyaan peserta. Saya bukan baby sitter yang bertugas menyuapi bayi yang saya ikat erat dalam dekapan selendang gendongan. Pun, bagi saya, para peserta bukanlah bayi yang tak bisa apa-apa, yang minta dicekoki.

Namun, di sinilah letak tantangannya. Inilah wajah pendidikan di negeri ini. Terbiasa didikte di sekolah, dengan peran guru sangat sentral sebagai sumber pengetahuan, dengan peran murid sebagai sebagai objek pengetahuan yang harus patuh, pertanyaan yang mencuat begitu dangkal.

Ya, karena sistem pendidikan kita tidak membiasakan murid bertanya. Ujian-ujian sekolah kita sudah menyediakan sedemikian rapi daftar pertanyaan. Tugas murid hanya menjawab. Kalau tidak Benar/Salah ya pilihan ganda A/B/C/D/E. Hanya tersedia jawaban itu. Di luar itu tidak ada jawaban. Di luar itu yang ada adalah kesalahan.

Pahit memang! Meski begitu, sebagaimana obat, kepahitan ini saya telan dengan sukacita. Justru ini kesempatan bagi saya untuk membersihkan toksin-toksin beracun dari diri peserta pelatihan menulis.

Sambil berlagak bijak, saya rangkul para peserta untuk bersyukur atas semua yang sudah mereka punya dan belum mereka punya. Saya sentuh rasa syukur mereka untuk menerima sumber daya yang tersedia di dalam diri mereka, dan di sekitar mereka. Saya benamkan mereka ke dasar kesadaran sebagai manusia yang dilimpahi akal-budi.

Lalu saya ajak peserta untuk merogoh ballpoint di kantong baju mereka. Juga menyibak buku catatan yang mereka simpan bersih di dalam tas.

“Tapi, saya kagok kalau harus menulis menggunakan ballpoint,” sanggah seorang peserta. Anggukan atau sorot mata kosong peserta lain seolah mengamini pernyataan ini. Mereka hendak setuju bahwa alat tulis adalah momok yang menakutkan.

Mencoba memahami, saya bertanya, apa yang membuat kagok? “Saya keringat dingin…”

Menerawang kembali ke ruang kelas sekolah di masa kecil, saya menebak-nebak adegan traumatis yang menghinggapi mereka. Ah iya, rupanya alat tulis adalah alat berat. Menulis, di masa sekolah, tak lebih dari sekadar menyalin catatan dari materi yang dibacakan guru. Menulis, di masa sekolah, adalah menjawab pertanyaan sambil berdiri di jembatan rambut: benar selamat, salah kiamat!

Pakai HP, saya sodorkan penawaran. Dengan terbengong, peserta menyahut, “Oh iya ya.”

Wajar, HP selama ini dimiliki sekadar untuk berkirim sms, menelepon, chatting, mengirim surat elektronik, dll. Kebanyakan orang sudah terbiasa untuk menulis saat berkomunikasi menggunakan ponsel. Namun, tak banyak yang mengoptimalkan fitur-fitur di dalamnya untuk berkreasi, termasuk menulis. Padahal, ponsel yang ada sekarang, sesederhana apa pun, bisa dipakai untuk menulis.

“Ah, tapi ide saya mampet kalau harus menulis di ponsel,” masih juga mengelak.

Baiklah, saya bersabar, bukankah ponsel juga kebanyakan menyediakan fitur perekam (voice note)? Jika memang kagok ketika menulis, rekam saja suara kita. Ketika ada ide, ungkapkan dan rekam. Sebagian orang sudah membuktikan cara ini. Sambil berkendara, sambil duduk, sambil tiduran, kita bisa berbicara kepada diri sendiri tentang apa pun yang kita lihat, dengar, dan rasakan.

Rekaman itu, suatu saat, bisa kita dengarkan kembali. Bisa juga kita unduh dan tulis kembali. Atau, minta pada teman untuk mentranskrip suara tersebut ke dalam teks. Jadi tulisan, kan?

“E….”

Terlalu banyak cara bisa dipilih untuk menulis. Dunia ini mewah dengan fasilitas dan teknologi. Dengan sedikit kemauan saja, menulis bisa menjadi aktivitas yang mudah dan menyenangkan.

Masih juga belum ketemu cara? Ada tembok! Begitu tawaran terakhir saya kepada mereka.

Bengong, mereka bergumam, “Apakah yang dimaksud adalah menulis di tembok?”

Bukan! Jedotin kepalamu ke tembok!

 

Salam hebat,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

1 Comment

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *