Akhirnya Jelas: Jalani Dulu

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Setelah terlewati, kita bisa menertawakannya. Saat mengalami, kita bahkan tak sempat menangisinya.

P, sosok yang kami jagongi hingga tengah malam tadi, mengajak kami menertawakan apa yang dulu pun tak sempat ditangisi. Syukur tak ada tangis sehingga tawa semalam begitu lepas.

Di hotel kelas atas miliknya di kawasan elit Seminyak, Bali, P bercerita tentang hidupnya yang berkelimpahan. Ya, berkelimpahan dalam segala: nestapa dan bahagia.

Bersahaja ia bercerita. Saya dan dua teman mendengarkannya dengan saksama. Kami adik kelasnya di SMA.

Satu-dua cerita sudah pernah kami dengar. Sudah melegenda. Misalnya, bagaimana calon mertua tergopoh-gopoh mengunjungi rumah orang tuanya di tepi sungai di Jogja. “Bahkan tangga menurun ke rumah kami masih tanah,” sebutnya tentang kisah yang pernah kami dengar dari alumni lain. P dari keluarga miskin hendak mempersunting perempuan dari keluarga kaya. Beda etnis pula.

Padahal, kala itu, ia sudah menempuh studi doktoral di Amerika. Kakak nomor duanya, tempat anak ke-10 dari 11 bersaudara ini numpang hidup, sangat menekankan pentingnya sekolah. “Satu-satunya jalan untuk keluar dari kemiskinan adalah pendidikan,” kenangnya akan pesan almarhum kakaknya. Ungkapan ini jadi jawaban kenapa ia terlibat dalam pendirian sekolah di pedalaman Larantuka, Flores, yang tempo hari saya kunjungi lokasinya. Ia mau andil dalam melepaskan rantai kemiskinan di bumi Flobamora.

Kembali ke Amerika. Saat sang calon istrinya terdeteksi memiliki pacar, keluarga mereka datang menyelidiki. P diinterogasi. Keluarga tak yakin bahwa calon doktor ini bisa menghidupi anaknya kelak. “Kunci mobilku patah di dalam sejak lama. Kugergaji saja. Lalu untuk menghidupkan mesin ia sambungkan kabel di bawah kemudi.” Belum selesai dengan pemandangan itu, mereka dikejutkan dengan kelakuan P dalam memarkirkan mobil saat di tanjakan. Tanya mereka, kenapa parkir mobilnya miring-melintang? “Nggak ada hand-remnya, Om,” sahut P enteng. Di Amerika!

Di Amerika pula, di usia 29 tahun, ia pertama kali beli gitar. Pakai uang beasiswa. “Buku ada banyak di perpustakaan. Kapan lagi bisa beli gitar.”

Padahal, kala SMA, di usia 16 tahun, ia sudah piawai main gitar. Bersama beberapa teman ia tergabung dalam satu grup vokal. Mereka jawara dalam kejuaraan-kejuaraan. Hanya P yang ketika latihan di sekolah pinjam alat: gitar.

Jangankan gitar, sepeda “jengki” miliknya tak komplet. Tanpa rem. Celakanya, saat SMP, bersama dua teman, ia bersepeda dari Jogja-Solo-Semarang, banyak jalan menurun curam. Terpaksalah ia rem dengan sandal sampai sandal itu berlubang. Celakanya lagi, saat pulang, “Kami menginap di pinggir jalan. Salah satu rantai sepeda kami lepas untuk mengunci ketiga sepeda. Esoknya, sandalku hilang dicuri orang. Sesudah itu, setiap jalan menurun curam aku tuntun sepeda.”

Belajar dari itu, saat kelas satu SMA, ia bersepeda ke Surabaya. Ada libur seminggu. Sepeda kakak perempuannya ia pinjam. Padahal sepeda itu rusak dan teronggok. Ia betulkan sebentar lalu berangkat. Kakaknya memberi bekal uang tiga ribu. Banyaknya uang itu? “Saat itu SPP-ku 400 rupiah tiap bulan.”

Sial. Tiap dua kilometer, ban sepedanya lengket dengan porok. Nggesut. Padahal Jogja-Surabaya sekira 400 km. “Sempat ragu. Patok di pinggir jalan menunjukkan jarak ke Jogja 25 km. Ingin rasanya kembali. Tak terbayang bagaimana bisa sampai Surabaya,” kenangnya sembari membingkai pesan betapa untuk mencapai tujuan besar itu godaannya besar.

Sampai di Surabaya, untuk pertama kalinya, ia bingung hendak ke mana. Satu-satunya alamat yang dituju adalah rumah seseorang yang berkunjung ke rumah tetangganya tempo hari. Orang itu pernah berbasa-basi, “Kalau ke Surabaya mampir ya.”

Dan ia ke Surabaya. Bukan mampir melainkan sengaja menuju. Tak ada GPS kala itu. Modalnya hanya bertanya pada orang.

Pedihnya, sampai di alamat yang dituju, si empunya rumah sedang pergi. Hanya ada ibunya. Kaget mengetahui bahwa P bersepeda dari Jogja, ibu itu mempersilakan P masuk dan makan. Menjelang mandi ia minta minyak telon, “Celana dalamku lengket di pantat.”

Huekkkk! Huakakkakakkk!

Malam pecah oleh tawa kami. P menghangatkan kami bukan hanya dengan kopi, teh, dan camilan, melainkan dengan perjalanan hidupnya yang super seru.

“Aku pernah pergi sama istri dan tamu asing. Kami makan di Amed, Karangasem, Bali Timur. Selesai makan, aku bayar di kasir. Kartu kredit atas namaku. Aku yang tanda tangan. Pas keluar, satpam merogohkan tangan ke sakuku,” kenangnya. Apa isinya? “Komisi 15%. Aku dikira sopir!”

Wajah dan perawakan P memang ‘ndeso’ untuk ukuran mereka yang menilai orang dari ‘stereotype’ etnis dan suku bangsa atau dari penampilan luar. Memang, dari pembawaannya orang tak akan menyangka bahwa ia pensiunan dini direktur sebuah lembaga riset teknologi negara tempat salah satu presiden kita pernah jadi pemimpin tertingginya. Ia juga pengusaha tambang.

“Begitulah kebanyakan orang. Melihat mobil bagus yang dipikir ‘kreditnya berapa’. Sedang dari kebudayaan istriku ‘gimana cara jadi supplier ban’ sehingga mereka lebih maju,” kemasnya.

Ups, saya menangkap pesan khusus dari pilihannya menggunakan perumpamaan tentang mobil dan ban. Saya yakin pesan ini mencuat dari pengendapan perjalanan hidupnya yang penuh drama: “Jalani saja hidup laksana ban. Sudah ada Sopir yang mengatur arah dan tujuan mobil kita.”

Bali, 7 Agustus 2017
@AAKuntoA
CoachWriter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *