Angkringan Kring Krong

Penasaran dengan cerita beberapa teman, semalam saya putuskan singgah ke Angkringan Kring-Krong di Kawasan Kuliner Jalan Damai Jogja. Dua jam sebelum tutup pukul 23.00 wib saya tiba di angkringan unik yang belum setahun buka tersebut.

Ada tiga alasan saya menyambangi angkringan tersebut. Pertama, nyaris tiap hari saya lewat dan mendapati tempat tersebut ramai pengunjung. Kedua, teman-teman mahasiswa di kampus, tempat saya mengajar menulis, sedang mematangkan konsep pendirian Angkringan Geal-Geol. Ketiga, penerbit saya Wanajati Chakra Renjana, baru saja meluncurkan buku tentang kehidupan angkringan Urip Mampir Nge-charge karya @pyofatman, pemilik Angkringan Sejahtera dan Rumah Makan Morolejar.

Maka, kadatangan saya pun didorong oleh segerbong pertanyaan, apa yang menarik dengan Angkringan yang beralamat di http://kringkrong.com itu? Apakah konsepnya? Ataukah menunya? Ataukah pelayanannya?

Menyiapkan diri untuk mencicipi menu, saya tak makan malam sebelumnya. Di antara pilihan menu batagor, kalkun, bakmi jawa, dan gudeg. Kali ini saya memilih yang terakhir. Tulisan “gudeg ceker” yang menempel besar-besar di pintu masuk, hitam di atas kuning, sungguh menggoda. “Habis, Mas,” tukas penjaga warung “Gudeg Hj. Amad” saat saya meminta racikan nasi+telor+krecek. Saya menelan kekecewaan kedua. Kekecewaan pertama, wedang uwuh yang saya tunjuk di buku menu di kasir juga disebut telah ludes. Jadilah saya memesan wedang jahe panas, tanpa campuran apa pun seperti ditawarkan oleh petugas kasir saat mengulurkan nomor meja “29” kepada saya. Tak jadi makan ceker, saya melintunya dengan 2 potong tahu. Secarik nota berlapis tiga diulungkan kepada saya. “Nanti kami antar.

Kursi bersandar di depan stand “Mendem Duren” saya pilih sebagai persinggahan yang nyaman. Dekat dengan colokan, kalau-kalau batre laptop saya bakal menyusut. Persis di depan rak majalah yang berantakan. Saya menduga, posisi majalah-majalah yang berantakan itu akibat banyak pengunjung yang membacanya.

Selesai menyantap gudeg, dan rombongan orang muda di depan saya sudah beringsut pulang, jahe panas yang saya pesan belum juga tiba. Pramusaji hilir-mudik di depan saya tak juga ngeh bahwa ada konsumen yang belum pepak pesanannya. Sampai-sampai, saya panggil seorang pramusaji yang sedang mengepel meja di kiri-depan saya.

“Tadi pesan apa, Mas?”

Tadi saya sudah pesan di kasir, jawab saya datar. Pramusaji itu pun berlalu ke dapur. Tak lama ia kembali.

“Maaf Mas, pesanannya hilang. Tadi pesan apa ya?”

Pasang ekspresi masam, saya menggelengkan kepala. Nomor meja “29” saya julurkan padanya. Saya minta dia cek pesanan saya membawa nomor itu.

Sosok lain ganti menghampiri saya yang sudah mulai asyik memainkan laptop. Pria paruh baya yang saya sambangi di meja kasir tadi menyapa saya dengan ekspresi ragu, “Tadi Mas yang pesan jahe ya? Maaf, jahenya habis. Sesudah Mas tadi ada yang pesan empat sekaligus….”

Gubrak. Pesanan hilang, habis pula!

“Barangkali mau coba yang lain? Kopi?”

Oh tidak. Saya tidak mau! Kali ini nada ketus saya saya naikkan setengah oktaf. Tetap dingin.

“Atau coklat panas?” Pria berkemeja coklat itu tak patah semangat menawarkan minum. Dengan tetap menyisipkan kata “maaf”, dia tak menyerah untuk menambal kekecewaan saya. Saya baca raut mukanya, daftar minum “panas” yang saya persyaratkan sudah habis. Tak bertujuan untuk mempersulit, saya mengiyakan tawaran terakhir.

Segera saja, coklat panas terhidang di dalam mug silver-transparan ukuran sedang. Sambil tersenyum, saya ucapkan terima kasih.

Tak berselang, pria penjaga kasir menghampiri meja saya. Sambil berdiri, dia menyodorkan permintaan maaf atas ketidaknyamaan yang saya alami. Sambil mengulungkan kartu nama dan menyodorkan dua voucher belanja @ Rp 5.000, dia berharap saya mau datang kembali di lain waktu. Ups, saya disogok rupanya!

Penanganan keluhan

Namanya Benjamin Djayaputera. Saya memanggilnya Mas Ben sedari malam itu. Ramah dan sederhana, sama sekali tak mengesankan bahwa ia pemilik angkringan itu.

Karena saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang pengelolaan angkringan tersebut, Mas Ben pun duduk persis di seberang kursi saya. Kami pun terlarut dalam pembicaraan ringan namun serius.

Mas Ben menceritakan kenapa jahe dan wedang uwuh habis. Juga tentang menu lain yang habis, atau tentang beberapa tenant yang tidak buka.

“Awalnya, Minggu kami tutup. Tapi banyak permintaan agar kami buka. Jadinya, tiap tenant menentukan sendiri kapan mereka libur. Efeknya, terutama bagi pengunjung yang baru sekali datang, akan berkesan bahwa sajian di angkringan tersebut tidak pepak. Maka saya usul agar Mas Ben memasang pengumuman daftar tenant yang hari tersebut tidak buka. Setiap hari. Ya, supaya pelanggan tidak kecewa.

“Serba sungkan,” lanjut Mas Ben tentang hal lain. Ia lalu menjelaskan tentang kenapa pelanggan dibolehkan pesan dulu dan bayar belakangan sementara sistem kontrol sangat longgar. Pesan makan dapat nota, pesan minum tidak. Bagaimana jika ada pelanggan yang lupa membayar usai bersantap? Sambil tersenyum, Mas Ben cerita betapa repot menemukan formula yang pas untuk angkringan. Orang sudah terbiasa makan dulu bayar belakangan di angkringan, sehingga sungkanlah menagih bayaran sebelum memberikan pelayanan.

Tapi, sanggah saya, bukankah kemudian terbukti justru merepotkan pengelola sendiri? Saya tunjukkan, dengan tiadanya bukti pemesanan yang juga dipegang pelanggan, pesanan bisa hilang dan konsumen tidak terlayani. Pengelola pun jadi kerepotan mengontrol lalu lintas pesanan.

Mas Ben, yang rupanya telah malang-melintang di dunia bisnis itu pun mengangguk mengiyakan. Ia tak sungkan membeberkan tantangan-tantangan usahanya, apalagi ketika tahu saya sedang mendampingi UKM Kuliner menyiapkan pendirian angkringan di kampus plus sedang menerbitkan buku Urip Mampir Nge-Charge (Penerbit Wanajati Chakra Renjana, 2013) karya @pyofatman.

Termasuk soal segmen pelanggan. Semula, Angkringan Kring Krong dirancang untuk orang muda. Kring Krong adalah akronim dari “angkringan nggo nongkrong”, angkringan untuk nongkrong. Supaya sesuai, semua disiapkan secara cermat. Selain menu yang beraneka macam, dengan tenant yang terpilih dari merek-merek terkenal, konsep ruang pun diolah masak-masak. Ada meja+kursi di ruang dalam tak berdinding, ada juga balai-balai untuk lesehan di halaman terbuka beratap langit. Ada lapangan ping-pong. Ada layar besar untuk nonton bareng. Orang muda banget pokoknya.

Ternyata meleset. Selain orang muda, rupanya banyak keluarga yang suka makan di sana. Anak-anak suka karena ada arena bermain. Yang terbaru, ada kereta listrik. Dengan lokasi yang terlindung dari jalan raya, dan posisi tempat duduk yang bisa mengawasi arena bermain, nyaman bagi orangtua untuk melepas anak-anak mereka. Inilah, berkah dari “meleset”.

Jadilah malam itu saya belajar banyak dari Mas Ben. Bermula dari penasaran, tersandung kekecewaan, berujung pada kepuasan. Puas karena pelayanan yang baik. Puas karena informasi-informasi yang amat bernilai. Terutama saya belajar tentang aspek pelayanan, yang kadang mudah diteorikan, yang malam itu dipraktikkan secara cerdas oleh Mas Ben.

Mas Ben, terima kasih atas pembelajaran yang istimewa ini. Saya janji datang kembali membawa buku-buku terbitan Penerbit Wanajati Chakra Renjana untuk melengkapi koleksi bacaan.

Salam hebat,

@AAKuntoA

http://aakuntoa.com | aakuntoa@solusiide.com

Incoming search terms:

  • kring krong jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *