Apa arti “bagus” ketika aku mengomentari tulisanmu?

Tulisan mencerminkan isi kepala penulis. Cek tulisan, cek isi kepala penulis.

Tulisan mencerminkan isi kepala penulis. Cek tulisan, cek isi kepala penulis.

Mau tahu, jika saya berkomentar “bagus” terhadap suatu tulisan artinya apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu saya mau cerita.

Sebagai penulis dan pelatih penulis, saya kerap mendapatkan pertanyaan, “Mas, tulisan saya dinilai ya.” Saya selalu jawab, “Ya!” Apakah saya kemudian lekas menilai? Tunggu dulu.

Dalam komunikasi, sebaiknya, pengirim pesan menyampaikan maksud ketika mengirimkan pesan: untuk siapa, seberapa penting dan mendesak, dan umpan balik apa yang diinginkan? Tanpa itu, penerima pesan akan bertanya-tanya: isinya apa, kenapa aku ditipi pesan dengan isi ini, dan jika pesan ini tidak kuterima apa yang terjadi?

Sayang, logika sederhana seperti ini pun banyak orang yang tak tahu. Atau, tahu tapi abai. Mereka pikir penerima pesan selalu tahu apa yang ada di benak pengirim pesan. Atau, dianggap akan tahu dengan sendirinya ketika pesan sudah dibuka.

Masalahnya, saya bukan pengangguran. Jika saya sedang duduk-duduk atau tampak “online” di WA bukan berarti saya tidak ada pekerjaan. Artinya, ketika ada pesan masuk, dengan cepat saya harus memutuskan untuk segera membuka atau tidak. Jika penting, saya mesti menunda pekerjaan dan mengalihkan perhatian membuka pesan. Jika penting namun tidak mendesak, saya alokasikan waktu sesudah pekerjaan selesai untuk menanggapinya. Jika tidak penting, langsung saya abaikan.

Nah, jika ternyata pesan itu penting pun saya mesti menelaah bagaimana menanggapinya. Ini yang kemudian saya menempatkan diri sebagai:

#1 Pembaca

“Bagus” artinya bagus. Titik.

Pembaca itu bebas menilai sesuai seleranya. Jika tulisan menarik, saya tuntaskan membacanya. Jika jelek, saya hentikan membacanya di tengah jalan. Tulisan pun saya campakkan.

Sebagai pembaca, saya hanya akan meluangkan waktu untuk membaca tulisan yang menarik dan relevan dengan kebutuhan saya. Deteksi awalnya pada topik dan judul. Lalu filter berikutnya struktur bangunan tulisan. Sesudahnya cara penulisan dan gaya bahasa. Jika kesemua terpenuhi, enteng bagi saya memuji, “Bagus!”

#2 Editor

“Bagus” editor berarti masih ada catatan, “Aku bersedia membantumu memperbaiki.”

Editor berdiri di atas jembatan yang menghubungkan pembaca dan penulis. Ia mesti tahu apa yang dibutuhkan pembaca sekaligus memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Jika isi tulisan lebih rendah dari ekpektasi pembaca, editor bertugas menaikkannya. Jika terlalu tinggi, atau terlalu jauh memutar, atau kurang tepat penyampaiannya, editor bertugas menyelaraskan.

Sebagai editor, saya hanya mau menilai tulisan yang gagasannya menarik namun penyampaiannya kurang pas. Penyampaian meliputi struktur tulisan, gaya bahasa, kelengkapan naskah dan ilustrasi, penyajian data, alur, dan kesesuaian referensi. Jika gagasan bagus namun eksekusi kurang ciamik, saya masih mau mengatakan, “Bagus!”

#3 CoachWriter

“Bagus” coachwriter berarti dukungan, “Kamu bisa lebih bagus dari ini.”

Coachwriter adalah penggali potensi. Ia tidak mengajari dari pengalamannya, ia tak mengoreksi dari sudut pandangnya. Ia duduk sejajar dengan penulis sembari menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kreatif supaya penulis menemukan sendiri topik tulisan yang spesifik dan bisa menentukan bagaimana mengeksekusinya.

Sebagai coachwriter, saya menilai tulisan dari isi kepala penulis. Biasanya dilakukan sejak sebelum aktivitas menulis ditempuh. Atau, jika tulisan sudah jadi, saya ajak penulis untuk melangkah mundur ke level gagasan. Kemungkinannya karena ide bagus namun tulisan jelek atau keduanya jelek padahal saya tahu si penulis punya ide lain yang lebih bagus untuk ditulis.

Jadi, apa arti “bagus” jika saya berkomentar sebagai coachwriter? Artinya, “Bagus, sudah punya kemauan menulis.”

 @AAKuntoA | 31032021