Arus Balik

arus balik, pulangnya sri mulyaniKembali, yang pergi itu kembali. Ke tempat semula ia kembali.

Pergi dan kembali itu seperti aliran sungai. Mengalir dari pegunungan, ia memungkasi laju di pantai. Payau sebentar lalu asin, menengah ke lautan. Di tengah sana ia menari bersama ikan-ikan besar yang diburu nelayan. Angin meniupnya ke tepi. Gulungan ombaknya dinanti pelaut yang hendak melepas sauh, kembali ke rumah dengan hasil tangkapan.
Gulungan ombak itu pula yang dinanti peselancar. Foto terbaik hanya direkam dari ombak terbaik. Ombak terbaik itu besar dan panjang. Indah, juga mematikan bagi yang tak terlatih.

Bukan di situ bahayanya. Sesampai di tepi, air ombak itu, ia masih bersahabat bagi sedang berwisata di pantai seperti Marina, Lovena, Parangtritis, atau Balangan. Canda bersamanya masih keren diabadikan. Ombak yang menepi sering dipuisikan sebagai rindu yang terlunasi.

Sampai kemudian ada saja kejadian ini. Koran-koran melansir berita, wisatawan tergulung ombak. Beberapa hilang, beberapa menepi kembali. Hidup, atau mati.
Ombak yang aduhai itu menohokkan misteri. Ia seperti mengelabui. Menepi dengan anggun, kembali ke tengah dengan garang.
Arus balik acap tak disadari, jauh lebih gahar daripada arus tepi. Ia bukan hanya mengundurkan diri, melainkan menggerus pasir-pasir. Kaki yang berpijak pun diseret serta.

Di ibu kota, sehari sebelum hari ini, ada arus balik. Sri. Dalam sepi, sekian purnama yang lalu, ia dihempaskan ke laut, dari sungai yang berpucuk di tebing karang bebatuan, oleh arus kali yang pekat oleh bah limbah cuci tangan cuci kaki.
Dari mercusuar, syah bandar hanya bisa mengamati, sayup-sayup, yang terbuang itu bukannya dimangsa hiu, namun justru dipeluk Dory—yang baru saja ditemukan usai operasi pencarian Nemo—lalu seperti dalam fabel, ia mengibas-ibaskan ekor jentiknya putri duyung.

Sudah 66 purnama, dan cahya bulan memantulkan panggilan pulang. Ia segera menepi, lalu disambut dengan juluran tangan ragu, atau sorakan basa-basi, atau kelegaan yang lama dipendam. Entah apa yang ada di benak mereka.
Di tepian sudah ia kini. Hari ini hari pertama usai mengucap janji, mentas dari air memijak tanah demi kesatuan tanah-air yang konon ia cintai melebihi tanah-tanah lain yang lebih terjanji.

Dan misteri belum berakhir di sini. Seperti film “The Jungle Book” yang seru dengan petualangan penuh kejutan di tengah belantara, Sri juga misteri. Akankah ia air yang sungguh-sungguh menepi, ataukah ia sementara membasahi bumi lalu di waktu tak terduga kembali melaut?

Arus balik sewaktu-waktu, seperti yang sudah-sudah, bisa terjadi…

@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *