Avatar, Pelarian Orang yang Nggak Mampu

Dengan avatar saja cukupkah menceritakan siapa dirimu?

Dengan avatar saja cukupkah menceritakan siapa dirimu?

Judul “sengak” ini sengaja kupilih untuk mengimbangi “hari avatar” yang tiba-tiba menghiasi dinding fesbuk sejak satu-dua hari kemarin. Jika kamu nggak mampu, boleh kamu sudahi baca tulisan ini. Jika kamu mampu, tahan dan cerna sampai selesai.

Kumulai cerita dari sini:

Kamu yang pernah menjalani wawancara kerja pernah dapat pertanyaan ini, “Ceritakan siapa dirimu.” Lisan. Langsung di depan pewawancara.

Spontan? Tidak selalu. Kamu yang tahu proses wawancara kerja sudah tahu sebelumnya. Untuk memuluskan wawancara, kamu pun mempersiapkan diri dengan menyusun cerita diri sedemikian menarik. Cara menceritakannya pun kamu latih di depan cermin atau sambil mandi.

Mengalirkan cerita seperti ini:

Untuk menunjukkan kompetensi diri, kamu bilang begini, “Saya seorang yang sangat dibutuhkan di posisi yang dibutuhkan perusahaan ini. Lima tahun terakhir saya memimpin tim di divisi ini dengan pertumbuhan lebih dari 10% tiap tahun. Jika Ibu mempercayakan posisi ini kepada saya, saya sanggup naikkan omset perusahaan 20% tiap bulan.”

Untuk menunjukkan kadar kepemimpinan, kamu jual diri demikian, “Jika saya diterima bergabung di perusahaan ini, posisi yang saya tinggalkan sudah ada yang menempati. Anak buah saya sendiri. Begitulah, saya selalu mempersiapkan tim saya bisa jadi pemimpin di masa depan. Delegasi dan kolaborasi jadi kunci kinerja saya. Tidak semua hal saya kerjakan sendiri. Jika anak buah yang saya percaya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan, saya bantu dia. Dengan begitu, tim saya tahu bahwa saya bisa jadi contoh.”

Avatar digemari orang-orang yang nggak mampu menceritakan dirinya seasik itu.

Untuk memperlihatkan rasa tanggung jawab, kamu cerita begini, “Bagi saya, sukses itu milik bersama, sedangkan gagal itu tanggung jawab pemimpin. Saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan lama dan hendak bergabung dengan perusahaan yang Ibu pimpin karena saya gagal mencapai target tiga bulan ini. Saya tidak mau menyalahkan situasi. Saya tidak tahu apakah perusahaan ini mau menerima orang gagal. Yang saya tahu, sikap yang sama akan saya tunjukkan di perusahaan ini. Tentu, saya orang yang selalu berusaha berhasil dalam setiap pekerjaan. Namun, jika toh saya gagal, saya siap mengundurkan diri tanpa meminta pesangon.”

Untuk membuktikan bahwa kamu seorang yang disiplin, kamu bilang, “Tiga puluh menit sebelum jadwal wawancara ini saya sudah duduk di ruang tunggu. Ini kebiasaan saya, Bu. Dengan datang lebih awal saya lebih tenang dan siap. Saya merasa, itu yang membuat pimpinan-pimpinan saya di perusahaan lama mempercayakan pekerjaan-pekerjaan yang mensyaratkan ketepatan waktu kepada saya. Maaf, di sisi lain, saya tidak terlalu disukai anak buah karena tidak bisa diajak kompromi jika mereka meleset mengerjakan sesuatu atau terlambat menyelesaikan laporan.”

Untuk meyakinkan bahwa kamu seorang yang humoris, kamu lontarkan candaan ini, “Saya seorang yang terkenal menepati janji. Sesudah ini, saya janji tidak akan menemui Ibu lagi. Ibu cukup wapri saya maka tugas apa pun akan saya selesaikan sebelum Ibu tanya, ‘Jon, mau kutraktir makan siang?’”

Avatar digemari orang-orang yang nggak mampu menceritakan dirinya seasik itu. Mereka lari dari kenyataan lalu mencomot gambar-gambar yang mereka pikir bisa mewakili pribadi mereka. Puaslah mereka ketika avatarnya dihujani komentar, “Ih, lucu.” Padahal, ketika dikejar, penulis komentar itu ketus, “Iya, avatarnya yang lucu. Bukan orangnya.”

@AAKuntoA | 02092020

Leave a Reply

Your email address will not be published.