Barack Obama Menang Lagi

Foto pinjam di http://hiphopwired.com

Barack Obama dipastikan kembali menjadi Presiden Amerika Serikat. Ia akan menjadi pemimpin negara yang pernah menjadi negara adidaya berjuluk Paman Sam itu untuk periode 2012-2016. Partai Demokrat, pengusungnya, sedang bertempik sorak.

Obama mengantongi 274 dari 538 suara, sedangkan Romney 202. Suara tersisa tidak mempengaruhi kemenangan.

CNN menyiarkan, Obama menang di Connecticut yang memberi tujuh suara elektoral, Delaware (3), Illinois (20), Main (4), Maryland (10) Massachusetts (11), Michigan (16), Minnesota (10), New Hampshire (4), New Jersey (14), New Mexico (5), New York (29) Pennsylvania (20) Rhode Island (4) Vermont (3) Washington, DC (3), dan Wisconsin (10).

Kemenangan ini seperti sudah diprediksi. Meski tipis, banyak kalangan memperkirakan Obama bakal kembali merebut hati sebagian besar warga Amerika Serikat, termasuk warga negara Indonesia yang merasa menjadi bagian dari masa lalu Obama.

Bedanya, pada proses pemilihan presiden kali ini, tidak sehiruk-pikuk 4 tahun yang lalu. Kala itu, nyaris semua perhatian kita melancong ke Amerika. Kita seperti benar-benar bisa turut menentukan nasib Amerika, seiring harapan perubahan itu turut memperbaiki kehidupan kita. Kali ini biasa-biasa saja.

Isu rasialis juga tak terlampau mencuat. Dagangan bahwa Obama ras kulit hitam tak banyak dipajang di lapak-lapak pertarungan politik. Sudah tidak laku. Rakyat mencatat kinerja Obama. Walau terseok-seok oleh berbagai skandal ekonomi, juga terlilit oleh isu pajak dan jaminan sosial, namun tampaknya Obama dinilai tak melakukan kesalahan fatal. Rakyat masih memiliki harapan. Harapan itu bersanding dengan kehadiran Romney yang tak cukup telah menyodorkan proposal baru.

Pelajaran demokrasi a la Amerika kembali hadir di meja belajar berbangsa kita. Demokrasi memungkinkan apa pun masuk ke arena pertandingan. Namun, dalam demokrasi, pertandingan itu sendiri yang akan menyeleksi apakah semua isu akan dimainkan. Rupanya tidak. Isu yang bertalian dengan program kerja, dengan ideologi, masih lebih dipilih untuk dimainkan ketimbang isu personal non ideologis. Kali ini Obama masih kuat mengusung isu ekonomi sebagai fokus kampanyenya. Dan itu baik untuk menjawab tantangan publik apakah Obama sanggup membebaskan Amerika dari beban pengangguran yang menggantung di angka 8%? Tidak isu yang lain.

 

7 November 2012

@AAKuntoA di www.aakuntoa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *