Bekukan Sebelum Sebarkan

Bekukan Baru SebarkanJika ingin makan ikan yang selalu segar, idealnya, pergilah melaut, jala mangsa, gelar tungku, dan masak di atas jungkung.

Segar. Hanya saja perut bisa mual terombang-ambing gelombang. Hanya saja bumbu tak selengkap di dapur darat sehingga sedap yang terkecap bukan sedap a la resto. Hanya saja, masak setiap hari melaut jika bukan pelaut?

Kecuali menunggang yacht atau kapal pesiar yang fasilitasnya masaknya komplet.

Jadi, sesegar-segarnya ikan yang dipamerkan penjual di pasar, atau dipajang di boks berpendingin di resto-resto ikan bakar, ya tetap saja ikan itu tak benar-benar segar. Ia sudah dibekukan. Sudah dipetieskan.

Tetap saja enak, bukan? Ya, karena kebekuan dan kelayuan itu terkemas oleh pengolahan yang sempurna: lebih masak, lebih meresap bumbunya. Menyantapnya pun lebih santai, hanya disapa angin yang tersisa menepi di pantai.

Begitu pula tulisan. Komentar-komentar spontan di media sosial, seheboh apa pun, masih hambar untuk dikunyah. Panas sih, tapi tidak gurih. Segar sih, tapi amis.

Adalah tulisan yang sudah dijangkarkan, dengan pesan-pesan yang sudah diendapkan dan diolesi nilai-nilai, yang layak santap lezat dibaca.

 

@AAKuntoA
CoachWriter | solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *