Berani Berjarak dengan Diri Sendiri

Berani Berjarak dari Diri Sendiri

Bertemu Romo Bagyo SJ, 10 Februari 2015

Menilai diri sendiri, ternyata, tak lebih mudah dibandingkan menilai orang lain.

Siang itu pulang sekolah. Berjalan dengan kruk penyangga, saya menuju ke pastoran. Sesuai janji, saya hendak menghadap Rektor Kolese de Britto, Romo Y Subagyo SJ, untuk menempuh ujian susulan. Dua bulan saya mangkir dari sekolah gara-gara tersungkur di jalan raya, terbaring di rumah sakit, dan menjalani pemulihan kaki yang patah di rumah.

Itu Januari 1994. Minggu-minggu awal saya tempuh untuk melunasi ujian semester ganjil yang bolong. Juga ulangan harian yang nihil nilai. Berkat bantuan Pak Kristanto, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, saya diizinkan untuk menempuh ujian susulan. Kepada setiap guru mata pelajaran, saya harus menghadap sendiri untuk meminta waktu menempuh ujian susulan tersebut. Salah satunya menghadap Romo Bagyo—begitu kami memanggil beliau—untuk menempuh ujian “agama katolik”.

Ditinggal tidur, ujian nggak diawasi

“Silakan duduk. Ini ada makanan. Silakan kamu makan dulu. Belum makan, kan?” sambut Romo Bagyo

Pulang sekolah. Rezeki tak untuk ditolak.

“Minumnya ada di sana. Ambil sendiri.”

Teh. Kopi. Air panas. Juga ada kulkas. Ada buah. Komplet.

“Kamu bawa catatan?”

Lekas saya tunjukkan buku catatan saya yang komplet. Walau sempat tak masuk kelas beliau, namun saya tak banyak tertinggal materi pelajaran beliau. Tak banyak yang harus dicatat ketika beliau mengajar. Pelajaran agama yang diampunya jauh dari teori tentang dogma. Tak ada hapalan kitab suci. Juga tak ada janji surga atau ancaman neraka.

Pelajaran agama yang dibawakannya berisi PRINSIP DAN DASAR dari Latihan Rohani St Ignatius:

Aku, kamu, kita semua diciptakan karena  cinta kasih Allah.

Hidupku, kamu, kita semua sepantasnya dijalani untuk menanggapi cinta kasih Allah dengan mencintai, meluhurkan dan melayani Allah Tuhan kita.

Allah diluhurkan jika kita mengembangkan bakat dan anugerah-anugerah Allah sehingga menjadi manusia utuh dan penuh seperti yang dicita-citakan-Nya.

Allah kita layani jika kita menjadi saudara yang saling melayani dan menjadi pejuang bagi sesama.

Segala barang ciptaan di muka bumi ini baik yang berwujud benda (alam lingkungan, kekayaan, bakat), maupun komunitas: keluarga, sekolah, dan masyarakat diciptakan bagi aku, kamu, kita semua untuk membantu mencapai tujuan kita diciptakan.

Karenanya, aku harus disiplin dan gigih berusaha akan menggunakan semua barang ciptaan sejauh diperlukan dan sejauh membantuku mencapai tujuanku diciptakan, dan tidak akan menggunakan satu pun sejauh menghalangi dan menyelewengkan dalam mencapai tujuanku diciptakan.

Dengan demikian aku harus mandiri, artinya keputusan dan niatku keluar dari keyakinan hati nuraniku dan aku terbebaskan dari pengaruh yang tidak sesuai dengan tujuan aku diciptakan.

Sebagai konsekuensinya, sejauh terserah kepada kebebasanku, dan tidak ada larangan, aku tidak memilih sehat lebih daripada sakit, menjadi kaya lebih daripada menjadi miskin, terhormat lebih daripada terhina, umur panjang lebih daripada mati muda, atau barang ciptaan yang satu lebih dari pada yang lain, sampai aku mengerti mana yang lebih sesuai  dengan tujuanku diciptakan.

Keinginanku adalah menjadi kreatif: menjadikan yang baik menjadi lebih baik, yang lebih baik terbaik, sesuai dengan bakat anugerah yang kuterima dan sesuai dengan tujuan aku diciptakan: mencintai, memuji dan melayani Allah melalui pelayanan kepada sesama.

 

Tentukan nilai, baru pilih dan kerjakan

Satu semester kami diajak untuk mengupas seruan itu. Memikirkan, memecahkan, dan menemukan. Bukan sekadar mencatat. Universal, bukan parokial.

“Kamu bawa soal ujian kemarin?” tanya beliau usai memeriksa kelengkapan catatan saya.

Saya tunjukkan yang beliau tanyakan. Ada banyak soal pilihan ganda, dan ada lima soal isian.

“Kamu sudah belajar semua?” tanya beliau yang langsung saya balas dengan anggukan.

“Pilih tiga soal yang kamu merasa paling bisa menjawab.”

Lima soal itu mudah. Apalagi saya sudah tahu semua jawabannya demi menempuh ujian susulan itu. Diminta memilih tiga tentu lebih mudah.

“Jika sudah, tuliskan berapa nilai yang kamu inginkan selesai mengerjakan tiga soal itu.”

Maksud Romo? Bukan Romo yang memberi nilai?

“Kamu mau nilai berapa?”

Tapi saya kan belum mengerjakan sebaris pun?

 

Seberapa pantas menilai diri sendiri?

Saya mulai ragu. Ingin menulis angka 10 terbayang-bayang lelucon: nilai agama 10 itu hanya milik Tuhan.

Bagaimana jika 9? Ah, pastor saya perlu kuliah teologi bertingkat-tingkat untuk layak mendapatkan itu, masa saya berani melancangi?

Saya ajukan nilai 7 kepada Romo. Seketika beliau menghardik, “Katamu sudah belajar, kenapa nilaimu hanya tujuh?”

Deg. Dalam hati saya setuju. Tapi saya merasa tidak pantas mendapatkan nilai lebih dari itu. Lagi pula ini belum pernah saya alami: mengajukan nilai sebelum menyelesaikan ujian. Biasanya, guru yang menilai, itu pun setelah selesai mengoreksi jawaban murid. Lha ini, guru tidak menilai, dan saya belum menulis jawaban sedikit pun, masa sudah keluar nilainya.

Akhirnya, setelah hening sejenak, ditemani kekeh senyum Romo Bagyo yang khas itu, saya berani membubuhkan angka 8 di kertas bagian atas, di samping nama, kelas, dan nomor presensi.

“Bagus. Waktumu dua jam. Kalau sudah selesai, letakkan saja di atas meja. Lalu kamu boleh pulang. Saya mau tidur.”

Lima belas menit saya rampungkan ujian itu dengan penuh keyakinan: nilai 8. Semua jawaban sudah ada di catatan. Yang ditanyakan adalah yang saya pelajari dan kuasai. Tak berani menilai lebih karena ada hambatan mental yang saya sebutkan di depan.

Selebihnya saya merenung, tak bergegas pulang. Saya bertanya-tanya, apa ya maksud Romo Bagyo dengan model ujian seperti ini? Mengapa saya harus menilai diri saya sendiri? Mengapa saya tidak diawasi?

 

Ketika ujian bukan sekadar demi nilai

Saya larut dalam permenungan panjang. Hingga saya menemukan, hakikat dari ujian bukan pada keberhasilan menjawab pertanyaan dengan sempurna, melainkan pada keberanian mempertanggungjawabkan apakah saya benar-benar memahami jawaban tersebut. Jika orang lain mampu menilai saya secara objektif, itu wajar belaka. Namun, jika saya berani mengambil jarak dengan diri sendiri, lalu menilai diri tersebut secara objektif, itu baru istimewa.

Sejak saat itu, metode Romo Bagyo saya pakai. Ketika menerima mahasiswa magang di kantor, suatu ketika, pada hari pertama mereka saya sodori formulir penilaian: berapa nilai yang kamu mau capai setelah tiga bulan selesai dari magang di kantor ini?

Juga, ketika mengajar di kampus, suatu ketika, mahasiswa saya minta hal yang sama: nilai yang akan tercantum di kartu hasil studi.

Apa yang terjadi? Mahasiswa tahu konsekuensi dari nilai tersebut: presensi, pengerjaan tugas, dan nilai ujian semester. Saya tak perlu cerewet mengatakan hal-hal yang saya tidak suka katakan: mengancam memberi nilai rendah jika mereka tidak mengerjakan tugas. Apa urusan saya dengan nilai mahasiswa?

Belakangan, saya semakin paham, metode Romo Bagyo merupakan salah satu metode “coaching” yang sangat ampuh: provokasi coachee untuk mencapai hasil yang dia inginkan, dan berikan kebebasan padanya untuk menentukan cara-cara terbaik mencapainya.

 

Dirgahayu Kolese de Britto

Hari ini, 19 Agustus 2016, almamater saya berulang tahun ke-68. Dirgahayu SMA Kolese de Britto! Terima kasih atas nilai-nilai hidup yang membekas amat dalam dan membara amat awet ini.

Secara khusus, saya berterima kasih kepada Romo Subagyo SJ, yang saat ini telah purna tugas, dan menjadi pendoa di Wisma Emaus, Girisonta. Semoga Romo senantiasa sehat dalam kerahiman Allah. Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

@AAKuntoA
CoachWriter | DOKUDOKU.ID

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *