Berhenti Menonton

Hirup kebaikan. Hembus racun.

Ini hari kesepuluh saya tak lagi menonton teve merah itu. Oh, menonton sebentar saat Jerman menaklukkan Argentina 1-0 di menit-menit terakhir perpanjangan waktu final Piala Dunia, Senin, 21 Juli 2014 dinihari waktu Rio De Janeira, Brasil.

Tepatnya sejak sore usai coblosan pemilihan presiden, Rabu Wage, 9 Juli 2014, saya menyatakan tak lagi menonton teve milik pengusaha yang ketua partai politik itu. Saya tidak mau memakan sampah. Saya tidak mau mencium anyir. Saya tidak mau menelan racun. Keputusan saya ini saya tabuhkan secara ringan selayaknya teman-teman yang seringan itu memutuskan berhenti merokok. Ya, kalau mau berhenti merokok ya berhenti saja. Tidak usah berencana gaduh-gaduh atau datang ke saya minta dihipnoterapi. Berhenti merokok saja pakai hipnoterapi…

Ini puncak kekesalan saya pada teve itu. Sudah kesekian kali mereka menyiarkan berita secara serampangan. 2006 masyarakat Jogja dipaksa terbirit-birit mengungsi karena teve ini menayangkan secara gegabah letusan Merapi. Enam kilometer disiarkan sebagai kilometer enam, yang berarti bahaya letusan sudah mengendus kota.

Penggerebekan teroris juga jadi jualan utama teve pengumbar sensasi ini. Saking menggebu-gebunya, pada Agustus 2009, lewat laporan langsung yang sangat dramatis, reporter teve ini menebak bahwa di ujung tembak-menembak itu sang teroris mati tertembus timah. Keesokan paginya terungkap, kabar itu ngawur.

Kengawuran lain juga terekam bagaimana teve ini menghadirkan narasumber palsu. Walau sudah menyamarkan wajah dan suara narasumber, terungkaplah kemudian narasumber itu acting belaka. Menghamba pada rating dan sensasi, dia abai pada tugas utama jurnalisme: menyajikan kebenaran.

Puncaknya 2014 ini. Teve itu secara brutal merampas frekuensi publik untuk menyiarkan aktivitas ketua partai yang hendak mencalonkan diri sebagai presiden. Ia tak sendirian. Teve-teve lain yang pemiliknya berpolitik praktis tak kalah ngawurnya. Kanal umum mereka rampas untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Saat sang pemilik berganti haluan karena ternyata partai yang dipimpin gagal mengusungnya menjadi calon presiden, teve ini ikut berbalik haluan seturut haluan baru sang pemilik. Perpindahan secara transaksional itu diikuti pemberitaan teve ini yang langsung mengelu-elukan majikan baru; maha tuan dari majikannya. Teve ini pun gencar mengabarkan sosok capres yang didukung sang pemilik.

Teve sebelah juga sama, ngekor sang majikan—yang juga ketua partai—mendukung capres sebelah. Sorangan, sendirian. Sedangkan teve merah didukung oleh teve-teve lain milik pengusaha bunglon yang gonta-ganti partai dan pasangan mengais peruntungan.

Wajah pertelevisian kita pun berubah jadi sangat garang. Intonasi tinggi, gambar provokatif, teks keras, angle lancip, dan asal heboh. Menonton teve ibarat menjerang air: pasti mendidih. Otot tegang, mata melotot, napas tersengal. Sungguh tak asik.

Di antara kesesakan yang dihadirkan teve-teve itu, saya merasa, teve merah paling kebangetan. Menerapkan jurnalisme malas (lazy journalism), mereka kian jauh dari profesional dalam pemberitaan. Standar kerja jurnalistik mereka abaikan. Tak ada verifikasi, prinsip keberimbangan, dan kemaslahatan bangsa. Melulu kejar tayang, persis pemalas yang memproduksi sinetron kerupuk. Hiks, sinetron kerupuk: berisik kriuk-kriuk tanpa gizi. Mirip komentator bola yang begitu heboh seolah-oleh hampir gol—padahal bola masih digiring lemas di tengah-tengah lapangan.

Tuduhan bahwa sebuah partai komunis menjadi puncak dari kegeraman saya. Lebih dari sekadar malas, teve itu telah dijangkiti penyakit kanker literasi akut stadium empat. Entah siapa yang berpenyakit: pemilik, pengelola, atau redaksi. Kanker literasi ini berakar dari malas belajar ditimpali sindroma gahar dini. Gahar adalah rasa gagah yang berlebih. Ah, sudah berlebih, dini pula. Kalau dalam bahasa halus ABG, gahar ini termanifestasi dalam tutur kata sotoy (sok tahu). Juga termanifestasi dari penunjukan lembaga survei abal-abal yang bekerja penuh kepalsuan, mulai dari profil kelembagaan yang sumir hingga metodologi yang absurd.

Terakhir, komunisme sudah tidak laku kok masih ditawar-tawarkan. Mau diobral juga tak ada yang beli. Sudah usang. Paham ini sudah mati tanpa upacara penguburan kok malah dibangkitkan untuk menakut-nakuti. Zaman animasi kok kok bikin suasana serem ala zaman animisme. Pantas saja banyak ledekan yang menyebutnya sebagai “tv oon”. Ya karena memang sungguh oon.

Karena sungguh oon, dan ke-oon-an ini menyebarkan stigma yang merampas hak hidup orang lain, teve ini sungguh kejam. Sungguh kejam. Ia meminjam media penyiaran lebih dari sekadar menebar serangan wacana, melainkan bertujuan membunuh dan membinasakan orang. Keterlaluan.

Maka, karena saya bukan penegak hukum atau ahli hukum yang berwenang menjatuhkan hukuman, saya memutuskan untuk menghapus teve ini dari pikiran saya. Bukan sekadar menghapus channel di remote control, melainkan menghapus channel di pikiran, sehingga di mana pun saya tak akan menjumpainya. Saya memerintahkan pikiran saya membuang gambar, warna, dan identitas apa pun tentang teve ini, lalu hanya mengizinkan pikiran saya menerima, menonton, dan mengapresiasi siaran-siaran kebaikan yang menghargai kebersamaan berbangsa.

Sentral kehidupan ada pada saya. Maka, mau seperti apa kehidupan saya, ya saya yang memutuskan. Saya yang menentukan respon, bukan didikte dari luar. Lebih baik saya menonton teve dengan tayangan yang lebih baik daripada mengutuk teve buruk yang justru akan menyedot energi hingga melelahkan.

Hidup ini pilihan. Saya sepakat. Selama kita mau mengusahakan, selalu ada pilihan tentang kebaikan. Fokus saja pilih kebaikan itu niscaya beroleh kebaikan. Tonton teve yang baik…

 

Salam saja,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *