Bunga Ahok, Dongeng Masyarakat Cengeng

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Cengeng sekali mereka. Menangis di teras balaikota. Memenuhi halaman balaikota dengan bunga bernada duka dan nestapa. Sebenarnya mau mereka apa?

Sebentar. Saya jelaskan setelah yang berikut ini:

Saya meneteskan air mata. Terharu. Kata-kata yang tertulis di karangan bunga itu amat menyentuh, alih-alih menggugat. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang mengungkapkan cinta. Ada yang memberikan semangat. Ada yang merasa kehilangan.

Ada yang berapi-api. Ada yang puitis. Sungguh berbeda dengan kebanyakan ucapan di karangan bunga.

Biasanya, untuk ucapan duka, kata-kata standarnya sebatas “turut berduka cita” atau “deep condolence”. Formal, tak ada canda.

Lalu, untuk ucapan suka, kata-katanya hanya seputar “turut berbahagia”, “happy anniversary” atau “semoga sukses”. Formal juga.

 

PAMERAN “COPYWRITING”

Nah, ucapan untuk Ahok ini masuk kategori apa? Suka cita atau duka cita? Ini yang tidak jelas. Nadanya sendu, ucapannya seru! Bagaimana tidak! Saya kutipkan ya:

“Terima kasih Pak Ahok atas kerja kerasnya selama ini. Andalah pemimpin sejati. We love you and we will miss you—Dari kami yang belum bisa move on.”

“Hanya kalian di hati kami. Tak kan pernah tergantikan.”

“Dikau adalah mantan terindah yang ada di Jakarta.”

“Terima kasih Pak Ahok-Djarot atas peluh keringat yang tercurah buat Jakarta—Dari kami yang patah hati ditinggal saat lagi sayang2nya.”

“Kita pernah bahagia banget sampe nangis. Sekarang kita sedih banget sampe gak bisa nangis. Terima kasih Pak Ahok & Pak Djarot sampe ketemu lagi—dari grup baper yang berusaha setrong.”

Stay blessed and shines. Once a star will always be a star.”

“Ga tau harus ngomong apa lagi Pak. Sedih ih…”

“Di balik move on yang lambat ada mantan yang hebat.”

“Kalau aku disuruh melupakanmu aku mau ke kelurahan dulu minta surat keterangan tidak mampu.”

Semua berawal dari karangan buka dari sebuah partai politik ini: “Satu kekalahan seribu bunga merekah.”

…dan, kelas MAGNETIC-SELLING COPYWRITING pindah ke halaman balaikota. Ya, ucapan-ucapan itu, apa pun nadanya, menjadi contoh konkret bagaimana copywriting bekerja. Semua berlomba menyampaikan pesan dalam papan terbatas. Semua berlomba tampil menarik (eye catching). Semua berlomba mendapatkan tempat di lahan yang terbatas.

…dan, *copywriting* mereka berhasil. Foto-foto karangan bunga betebaran di mana-mana. Tak hanya di media sosial, media arus utama pun gencar memberitakan. COPYWRITING BUNGA dibicarakan di mana-mana. Yang suka menyanjung, yang benci mengguncing. Apa pun itu, fenomena ini jadi pembicaraan luas.

Tukang bunga jadi punya acuan baru. Ucapan standar tak lagi cukup. Kini saatnya mereka berkreasi, menciptakan ucapan-ucapan baru sehingga rangkaian bunga yang mereka tawarkan untuk pemesan sungguh-sungguh membekaskan kesan yang mendalam.

Lalu: katakan dengan bunga!

 

Dongeng Masyarakat Cengeng

Sebagai pendukung Ahok-Djarot, yang turut berterima kasih atas teladan kepemimpinan mereka yang inspiratif, dan kagum dengan “gerakan bunga” para simpatisannya, saya tetap akan katakan ini: masyarakat itu memang cengeng. Masyarakat itu gemar sekali menempatkan diri sebagai korban. Untuk ini, berlaku juga untuk pendukung Anies-Sandi. Sama cengengnya!

Tapi, saya tidak mau menyebutkan di mana letak cengeng pendukung Anies-Sandi. Lebih tepatnya, saya tidak berani! Saya takut kalau nanti saya diserang dengan isu SARA atau penistaan ayat. Saya tak setegar Ahok-Djarot untuk menghadapinya.

Nah lho… saya ikut-ikutan nampang sebagai korban, yang berharap dapat dukungan dari mereka yang jatuh kasihan. Saya kembali membayangkan, SBY dulu terpilih sebagai presiden setelah dihina-dina oleh Megawati saat jadi menteri. Masyarakat jatuh simpati pada sosok gagah-ganteng itu sehingga presiden petahana kalah suara. Kok kisahnya mirip dengan gubernur petahana ini ya?

Eits, sudah! Sudah!

Tadi saya bilang, pendukung Ahok-Djarot kini ganti berpose sebagai korban. Jagonya kalah, mereka—dan saya—gelar aksi seribu bunga. Berusaha tegar walau sejatinya rapuh. Dan tepat, aksi ini tak memperuncing perseteruan dengan kubu lawan. Paling hanya menyulut nyinyir. Sebaliknya, aksi bunga ini berbunga simpati. Polanya mirip tagihan kartu kredit: bunga-berbunga. Media sosial bertaburan tulisan membahas bunga di balaikota.

Celotehan ini tak boleh dianggap sepele: “Ahok jadi gubernur Bali.” Atau: “Ahok presiden 2019.” Atau juga: “Pindahkan ibu kota ke Palangkaraya; Ahok gubernurnya.” Dalam ritual masyarakat “menye-menye”, pahlawan terbaik lahir dari figur teraniaya.

Saya perhatikan wajah Ahok. Biasa-biasa saja. Bagus. Lebih bagus lagi Ahok segera kerahkan Pasukan Oranye untuk bersihkan halaman balaikota. Sampai Oktober 2017 ia masih gubernur. Memodifikasi puisi Chairil Anwar. *“Selesaikan. Kerja belum selesai. Bukan hanya untuk 42% pemilih Jakarta tapi untuk seluruhnya.”*

 

Bali, 27 April 2017
@AAKuntoA
www.aakuntoa.com

Ahok-Djarot, “Bunga asli pasti layu. Kalian pemimpin sejati. Warisanmu di hatiku.” #eaaaa

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *