Blog

Kisah Rajawali, Bangkit dan Berdamai dengan Trauma

Kisah penyintas Covid-19: kajian autoetnografisKisah penyintas Covid-19: kajian autoetnografis

Berapa lebar batas hidup dan mati? Berapa tebal batas pengharapan dan kepasrahan? Berapa luas batas amarah dan pengampunan?

Kini saya tahu jawabannya: xxvi+224 halaman buku “Memoar Covid-19″ karya Izak Y. M. Lattu.

Untuk anda yang pernah bergulat dengan Covid-19, baik sebagai pasien, keluarga pasien, tetangga pasien, tenaga medis, relawan/satgas, peneliti, atau apa pun, buku ini sangat layak anda baca. Isi buku ini komplet, berupa catatan penulis sebagai penyintas, kajian penulis sebagai intelektual/dosen, dan refleksi penulis sebagai pendeta dan tokoh lintas agama.

Sering Ditolak, Agen Literasi Seperti Agen Asuransi

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin...

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin…

Akhirnya saya tahu persamaan menulis dan asuransi. Lebih spesifik lagi nanti saya ungkap persamaan memasarkan pelatihan menulis dan memasarkan produk asuransi. Kalau boleh disebut sih persamaan agen literasi dan agen asuransi. Nah!

 

Mau menulis tapi tidak sekarang

Sebagai pengajar menulis, saya kerap mendapatkan tanggapan seperti ini:

“Mas, sebenarnya saya pengen belajar menulis. Tapi nggak punya ide dan nggak punya waktu.”

Mengapa Menulis Perlu Undur Diri?

170131 Undur DiriSetiap #tulisan menyimpan cerita. Cerita yang terutama adalah tentang penulisnya. Ya, di balik tulisan apa pun ada pergulatan #penulis. Jika kemudian terhidang tulisan lezat di layar bacamu, bisa jadi tulisan itu diolah dari dapur yang berantakan, yang kokinya berpeluh keringat dan bau kecut.

Maka, banyak penulis yang tak mengizinkan dapurnya dimasuki. Mereka tak mau bumbu-bumbu rahasianya terkuak. Mereka takut resepnya dijiplak. Atau, mereka malu ketahuan jorok. Jaim, jaga image.

Hantu Toko, Ketika Toko Buku Berhantu

Hantu Toko BukuSebagai generasi peralihan, buku cetak masih saya santap. Seperti belum makan nasi kalau belum membaca buku cetak. Teks digital yang berlimpah, meski lezat juga, tapi tak mengenyangkan. Dasar!

Maka, berkunjung ke toko buku, menjebol plastik pembungkus buku, menyibak halaman demi halaman, ‘menimbang’ bobot nilai dan berat fisik, membayar tunai di kasir, dan membungkus pulang dengan tas plastik tak ramah lingkungan adalah ritual yang jika tak ditempuh setiap bagiannya rasanya lebih berdosa daripada tidur di gereja tatkala kotbah pastor menjemukan. Ah, lebay!

Kali ini saya singgah ke Gramedia MBG, Bali. Bukan untuk ngecek buku karya saya atau terbitan penerbit saya–karena sudah empat tahun tak lagi menjual buku lewat toko buku, melainkan untuk membungkus buku bagus karya penulis dan penerbit tangguh. Masih banyakkah buku bagus? Banyak sih tidak. Ada.