Blog

Paus Ingkung

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Hidup bertetangga di kampung itu hidup dalam aliran rejeki. Jika tak memberi ya menerima. Jika tak menyumbang ya meminta tolong. Jika tak mengubur ya menyambut kelahiran.

Seperti pagi ini. Usai takziah atas kematian Yesus di Jumat Agung lalu, lalu semalam merayakan kebangkitannya, pagi ini tetangga depan rumah mensyukuri bertambahnya keluarga mereka. Sebesek “ater-ater” diantarkan ke rumah: nasi ingkung ayam.

Dalam tradisi Jawa, yang saya dengar dari tuturan-tuturan simbah, ingkung bermakna penyucian. Bayi yang lahir digambarkan suci. Keluarga bayi memohonkan supaya penerima ingkung mendoakan agar mereka diampuni dosa-dosanya supaya kembali suci.

Penulis Kejar Tayang

IMG_20160229_103706

Bersama Mas Tony Prasetiantono (tengah), Presiden Alumni De Britto, yang juga penulis. (Foto: Benedictus Yanuarto Purnomo)

Pertanyaan Mas Hanung Sa di forum “Menjadi Pengusaha Tangguh” DBBC (De Britto Business Community), Sabtu (27/2) tidak segera saya tanggapi: “Bagaimana cara menulis yang hits-nya tinggi?” Saya memutuskan menceritakan hal lain.

Dan tulisan ini tidak akan menuliskan ulang apa yang saya ceritakan kemarin. Biarlah cerita saya kemarin jadi konsumsi teman-teman yang hadir. Yang tak hadir, dan penasaran, silakan gunakan akal untuk mendapatkan cerita tersebut.

Sekarang saya mau cerita tentang “penulis kejar tayang”. Iya, istilah ini tercetus dari tayangan sinetron di televisi. Tidak semua buruk namun dari yang mungkin baik pun tidak ada yang layak saya tonton. Tema tidak menarik, sudut pengambilan gambar monoton, dialog mendominasi visual, plot cerita serampangan, dan nihil pesan edukatif. Ini kesan subjektif saya atas beberapa tayangan yang pernah secara khusus saya simak untuk temukan polanya.

Creative Writing Coaching

Bersama Coach Al Falaaq Arsendatama

Bersama Coach Al Falaaq Arsendatama

Selesai kelas “Life & Business Coach” yang diampu Coach Tjia Irawan tahun 2013, saya memilih memraktikkan kecakapan dan sikap coaching sambil memperkuat branding saya sebagai Kunto CoachWriter. Saat itu writing coaching belum mendapatkan lampu hijau dari ICF, salah satu organisasi tempat berhimpunnya para coach profesional. Metode yang diakui baru sebatas coaching secara tatap muka dan lewat telepon.

Tidak tertarik bertanya “kenapa tidak boleh”, saya memutuskan bertanya pada diri sendiri ” bagaimana supaya boleh”. Saya kemudian melakukan “self coaching”. Entah istilah itu benar atau tidak, saya fokus untuk memecahkan teka-tekinya. Hambatan mental “tidak mungkin” saya tepis.

Jam terbang pun saya naikkan. Sebutan “CoachWriter” yang tidak lazim bahasa baku pun saya kibarkan. Keingintahuan dan keraguan dari siapa pun yang mempertanyakan kualifikasi coach saya sandingkan sebagai umpan balik penyempurnaan demi penyempurnaan. Hanya baja yang makin ditempa makin tajam.

Menulis dengan NLP

Sampul buku "Sukses dengan NLP", terbit Januari 2016

Sampul buku “Sukses dengan NLP”, terbit Januari 2016

Atas undangan Master Trainer NLP Jimmy Susanto, saya menulis di buku “Sukses dengan NLP” ini. Selain saya, ada praktisi-praktisi nasional & internasional yang menulis pengalaman sukses mereka berkat NLP: trainer, motivator, pebisnis, dosen, dll.

Saya satu-satunya praktisi NLP di buku ini yang berkisah tentang sukses membawakan writing coaching sebagai CoachWriter. Saya menulis tentang menulis. Tentang perubahan besar sikap hidup saya sebagai penulis, editor, jurnalis, dan pelatih menulis setelah kuasai NLP.

Untuk para sahabat yang sudah beli dan baca buku saya “7 Steps of Writing Coaching”, tertampar oleh kata-kata saya, muka merah-padam hitam-lebam pucat-pekat setiap menapis halaman demi halaman, dan bersegera mengetik selesaikan penulisan buku, di buku ini anda boleh temukan saripati rahasia mengapa tiga bulan sesudah penerbitannya buku tersebut sudah cetak ulang 5 kali.

Revolusi Harapan

Belum bisa. Usahakan. Bisa.

Hari itu Selasa, 10 Desember 2013. Saat warga dunia merayakan hari Hak Asasi Manusia, seseorang bernama Roseno Aji Affandi mengibarkan tekadnya merayakan asasinya dengan cara yang keren: menulis buku. Sejak itu, untuk periode tertentu, Mas Aji—demikian saya memanggilnya—mempercayakan proses penulisan buku kepada saya. Saya menyanggupi peran sebagai coach untuknya.

Enam bulan kemudian, Mas Aji mengabarkan bahwa buku pertamanya telah terbit. Sebuah penerbit di Jakarta mempublikasikan karyanya.