Blog

Seribu Kata Mengenang Kristupa

170710 Kristupa Saragih RIP“Good morning from Denpasar, Bali,” komentarku atas status FB-mu 25 Juni 2017, “Good morning from Sanur, Bali.” Sahutmu singkat, “Mantappp.”

Sahutanmu itu pertanda jelas bagiku. Kamu sedang sibuk. Terhadap tanda seperti itu aku tak berani menerjangnya. Aku hanya mau menemuimu jika kamu meneruskan sahutan itu lewat japri, “Dolan ndene, Kun!” Dan itu dua tahun sekali. Itu pun untuk obrolan yang belum pernah ujungnya kita eksekusi.

“Sik, Kun. Aku belum nemu angle yang tepat,” kilahmu setiap kali aku menagih, “Mana bukumu?”

Incoming search terms:

  • status fb yang pas saat foto sambil nali sepatu

Andelis, Rahasia Colokan Dua Kaki

Menyatu dalam keluarga (foto-foto: dokumentasi Inung)

Menyatu dalam keluarga (foto-foto: dokumentasi Inung)

Berbalik dengan publik yang senang dilayani “semakin cepat semakin baik”, pelaku pariwisata lebih senang ketika “semakin lama semakin baik”.

“TripAdvisor Nobatkan Bali Terbaik Dunia: untuk Rileks dan Petualangan,” demikian bunyi berita teras Tribun Bali, 16 April 2017. Sebagai warga Jogja yang hijrah ke Bali saya mengangguk sambil menambahkan: Bali tempat terbaik untuk bekerja secara rileks yang penuh petualangan.

Ulasan tentang Bali sudah banyak. Saya tidak akan mengulasnya lagi di sini. Saya berminat menuliskan hal lain yang berdekatan.

Begitu membaca berita di atas, saya langsung menghubungi teman saya Bramani Senu Murti. Dia pemilik Andelis Homestay di Jogja. Kami satu sekolah di SMP 1 Yogyakarta dan SMA Kolese de Britto. Bahkan satu kelas.

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Dari Organisasi, Kecakapan Sang Dokter Gigi

Sesama pemilik golongan darah AB

Sesama pemilik golongan darah AB: Thomas

“Di mana kamu belajar ilmu berkomunikasi?” langsung saja saya bertanya kepada Thomas Aquino Budi Vembriarto (1995) saat ia mengantar saya keliling Kota Pontianak, pekan lalu.

Bukan tanpa alasan saya melontarkan pertanyaan itu. Baiklah, lewat tuturan saya berikut ini nanti anda akan beroleh jawabannya.

Ad Finem. Sampai Akhir.

 

Ad finem. Sampai akhir.Sudah Desember lagi. Bulan baru tahun lawas. Sebentar lagi Januari, bulan baru tahun baru. Dan, resolusi baru–meski itu resolusi tahun-tahun lalu.

Saat ke Jogja kemarin, saya singgah sarapan di Warung Bu Wignyo. Di tengah kampung Demangan, letaknya sejengkal saja dari SMA Kolese De Britto, almamater saya. Menu favorit yang selalu saya rindui adalah sup bening dengan “topping” rajangan daging empal. Plus dua potong “tempe kemul”. Banyak teman suka sambalnya, saya suka rasa gurihnya.