Blog

Kemah Menulis

IMG_20150607_110525Belajar dengan bermain. Sungguh-sungguh bermain yang belajar. Tentang “kemah menulis” yang dimuat di Harian Bernas, 10 Juni 2015.

 

Aldian Aldi berdiri tegap di depan barisan. Ia memberi aba-aba kepada teman-teman yang berbaris di depannya. Hari mulai malam. Sebanyak 155 murid SMP Maria Assumpta Klaten tengah ikuti kemah menulis bertajuk “writing tresna jalaran seka kulina”, Sabtu-Minggu, 6-7 Juni 2015 di lapangan kampus setempat. Aldian murid kelas 7 di sekolah tersebut. Ia anggota dewan penggalang yang sejak sehari sebelumnya menggelar kemah pramuka untuk peserta yang sama.

Malam itu terasa istimewa. Acara pelatihan menulis diadakan secara berbeda. Tidak di kelas atau aula, melainkan di lapangan terbuka. Duduk di lapangan basket, mereka beratapkan langit. Sedang tidak berbintang, langit hanya berhias secuil bulan. Itu pun sembunyi-sembunyi di balik awan.

Mengundang pembicara dan pelatih menulis AA Kunto A, kemah menulis dikemas sedemikian rupa menjadi ajang belajar menulis secara mudah dan menyenangkan. CoachWriter yang sekaligus Pemimpin Redaksi HarianBernas.com tersebut punya metode unik menggerakkan murid-murid antusias belajar menulis.

Mengemas Cleopatra

Siapa yang memuja kecantikan badani akan terlipat oleh keriput waktu. Komodifikasi lagi-lagi menjangkiti publik. Tanda apa?

Ratu Mesir yang masyur itu bernama Cleopatra. Kecantikannya tiada dua. Berabad-abad sesudahnya, dunia masih memuja. Kecantikan perempuan-perempuan modern pun disandingkan pada parasnya. Kisah cintanya dengan Mark Anthony kemudian melegenda sebagaimana Romeo-Juliet.

Cleopatra simbol kesempurnaan tubuh wanita. Mark Anthony hanyalah satu nama yang disebut, dan kemudian dikenal, sebagai lelaki beruntung yang boleh memeluk kesempurnaan itu setelah menyingkirkan Julius Caesar. Di luar, banyak yang sebatas mengagumi dan memimpikan. Tak lelaki tak wanita.

Panenan Savana: Buah Umpan Cucu

Bersama Jeremias Male, mantan Kepala Desa Weeluri, Sumba Tengah

Bersama Jeremias Male, mantan Kepala Desa Weeluri, Sumba Tengah

Perjumpaan dengan Jeremias Male mengoreksi kekaguman saya pada padang rumput savana di Sumba. Semula saya memujanya sebagai taburan keajaiban alam. Perlu pendobrak seperti Male.

Di rumahnya yang asri di Desa Weeluri, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pagi itu, Male menyingkap rahasia tentang savana. Disuguhi kopi hitam, saya taklim mendengarkan.

Dikisahkan, sambil menunjuk ke bukit di seberang jalan depan rumah, 30 tahun lalu kampungnya masih dikelilingi savana. Padang rumput itu menghijau di punggung dan kaki bukit. Kuda-kuda berkawanan mencabik-cabik rumput menyantapnya. Gemuk-gemuk mereka.

Pemilik kuda tak perlu menjaganya. Cukup menunggu di rumah, kala senja kuda itu tahu diri pulang. Bukan ke kandang tapi ke pekarangan. Kuda tak perlu dikandangkan karena kuda tak akan lari. Mereka seolah tahu kepada tuan mana mengabdi. Mereka juga tahu, pada saatnya mereka akan jadi belis (semacam mahar) untuk meminang gadis pujaan anak tuan. Atau mereka akan disembelih, bersama kerbau, sapi, dan babi, dalam pesta adat Marapu yang mereka junjung tinggi.

Bebas Subsidi

Apakah betul kita selalu butuh subsidi? Bisakah kita hidup tanpa subsidi? Catatan perjalanan saya ini menghadirkan perspektif lain tentang subsidi.

Sehari setelah pemerintah umumkan kenaikan harga BBM, saya tiba di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sepi, tidak ada gejolak apa pun sejak saya meninggalkan Bandara Tambolaka menuju Sumba Tengah. Siang itu pompa bensin tutup. Penjual bensin eceran berderet di sepanjang kiri dan kanan pompa bensin. Seliter Rp 20.000, naik Rp 5.000 dari hari sebelumnya. Padahal, NTT adalah provinsi termiskin di Indonesia, dan Sumba termiskin di NTT.

Tidak ada demonstrasi. Tidak seperti di beberapa kota di Jawa yang saya baca di media langsung menggelar aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga. Malah di Makasar ada korban jiwa. “Sudah biasa mahal,” kata Adi, sopir mobil sewaan yang menjemput saya. Nada berat terdengar lirih, terhapus semangatnya untuk melanjutkan tugas memegang kemudi.