Blog

Diulosi Hio Simalungun, Jadi Keluarga Saragih

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Ungkapan belasungkawa pada keluarga yang berduka itu umumnya ditutup dengan pesan hangat, “Yang tabah ya… Yang ikhlas ya….” Sambil berpelukan dalam doa.

Terbersit pertanyaan, tabah itu seperti apa? Ikhlas itu bagaimana?

Lama pertanyaan itu menggantung di kepala saya sampai Senin (14/8) saya menerima pesan dari Pak Karesman Saragih, ayahanda almarhum Kristupa Saragih. Biasanya, WA beliau berupa gambar berisi kalimat-kalimat motivasi. Kali ini undangan.

Membaca Tanda Kematian

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Berjuluk “sripaholic” (Jw, sripah: kematian), lama-lama saya mulai mencermati tanda-tanda kematian. Juga membaca mana kematian yang pantas dirayakan dan mana kematian yang berujung batu kutukan.

Tidak. Kali ini tidak tentang kematian manusia melainkan kematian organisasi. Tentu, ada manusia di organisasi. Tentu, kematian organisasi tak lepas dari kematian manusianya. Sebab, organisasi hanya ada jika ada manusia di dalamnya, yang menggerakkannya, dan yang kemudian menghentikannya.

Incoming search terms:

  • nama siswa smk ancop likotuden
  • tanda kematian

Seribu Kata Mengenang Kristupa

170710 Kristupa Saragih RIP“Good morning from Denpasar, Bali,” komentarku atas status FB-mu 25 Juni 2017, “Good morning from Sanur, Bali.” Sahutmu singkat, “Mantappp.”

Sahutanmu itu pertanda jelas bagiku. Kamu sedang sibuk. Terhadap tanda seperti itu aku tak berani menerjangnya. Aku hanya mau menemuimu jika kamu meneruskan sahutan itu lewat japri, “Dolan ndene, Kun!” Dan itu dua tahun sekali. Itu pun untuk obrolan yang belum pernah ujungnya kita eksekusi.

“Sik, Kun. Aku belum nemu angle yang tepat,” kilahmu setiap kali aku menagih, “Mana bukumu?”

Incoming search terms:

  • status fb yang pas saat foto sambil nali sepatu

RIP Romo Koelman: Sekolah Tak Mengurusi Rambut

 

RIP Romo G Koelman SJ

Sumber foto: Sesawi.Net

Cerita turun-temurun dari kakak kelas itu tentang gaya seorang pastor Jesuit yang nyentrik. Tiga yang saya catat:

Pertama, adu jotos. Saat menjadi pamong di SMA Kolese de Britto di tahun 1970-an, Yogyakarta, ia geram jika mendengar ada muridnya berkelahi. Geram jika perkelahian tidak berimbang, lebih-lebih jika keroyokan. Ia cari murid yang bertikai itu sampai ketemu, lalu giring mereka ke lapangan dan tunggui mereka berkelahi satu lawan satu. Ya, satu lawan satu.

Kapan selesainya? Ketika salah satu menyatakan kalah dan minta maaf? Bukan. Ketika yang menang memaafkan dan keduanya berpelukan. Perdamaian dicapai bukan ketika ditemukan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan ketika yang merasa hebat mengampuni yang lemah.

Batik Mandela

Nelson Mandela bersama Oprah Winfrey, 2002.

Nelson Mandela bersama Oprah Winfrey, 6 Desember 2002

Dunia sedang berkabung. Nelson Mandela mangkat, 6 Desember lalu. Jenazahnya baru akan dimakamkan 15 Desember nanti. Disebut-sebut, pemakaman itu akan menjadi upacara perkabungan terakbar sepanjang masa. Seluruh dunia mengibarkan doa perpisahan untuk pejuang kemanusiaan anti apartheid ini.

Perhatian dunia sedang menuju pada sosoknya. Tak berlebih jika di kolom ini pun kita mengenangnya. Ada jasa besar yang diperankannya pada produk Indonesia, yakni kecintaannya pada batik. Tak hanya mengoleksi, namun memakai.

Sejak perkenalannya dengan batik pada Oktober 1990, sebagai hadiah dari pemerintah Indonesia atas kunjungannya, Mandela gemar mengenakan baju bermotif khas kekayaan Indonesia itu. Dalam berbagai kesempatan kunjungan kenegaraan, ia sangat percaya diri berbatik. Bahkan, ketika menemui Presiden Amerika Serikat George W Bush, di Gedung Putih, pada 17 Mei 2005, berhadapan dengan presiden negara adikuasa yang mengenakan setelan jas, Mandela menghangati diri dengan batik. Sungguh membanggakan. Pantas jika kemudian Mandela kita hormati sebagai Bapak Batik Dunia, menyanding mendiang Gus Dur yang juga amat bangga berbatik.