Blog

Tidak Semestinya Saya Cerita Ini: Bali

Ke Bali? Saya Tidak Selalu Menemui Anda

Ke Bali? Saya Tidak Selalu Menemui Anda

Jika dituruti, setiap hari saya bisa ngopi dan begadang di luar rumah. Sebab, setiap hari selalu saja ada teman atau kolega yang datang ke Bali.

Dari yang datang, hampir semua meninggalkan jejak digital. Jika tak woro-woro di grup WA, “Bro, ada yang tinggal di Bali nggak, ya? Gua ada training di Seminyak nih,” ya pasang status di FB lengkap dengan penanda sedang di bandara asal menuju “Ngurah Rai International Airport Denpasar”.

Sering Ditolak, Agen Literasi Seperti Agen Asuransi

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin...

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin…

Akhirnya saya tahu persamaan menulis dan asuransi. Lebih spesifik lagi nanti saya ungkap persamaan memasarkan pelatihan menulis dan memasarkan produk asuransi. Kalau boleh disebut sih persamaan agen literasi dan agen asuransi. Nah!

 

Mau menulis tapi tidak sekarang

Sebagai pengajar menulis, saya kerap mendapatkan tanggapan seperti ini:

“Mas, sebenarnya saya pengen belajar menulis. Tapi nggak punya ide dan nggak punya waktu.”

Tentang Lomba yang Dihentikan

Tertawa dan Lomba Debat

Selamat merayakan hidup!

Menteri pendidikan negara yang baru menandatangani lembar keputusan: hentikan lomba itu, sekarang! Terhuyung-huyung, para punggawa bawahan tanpa sempat bertanya menjawab: siap, laksanakan!

Bukan mengada-ada keputusan itu diambil. Saat lomba itu dilangsungkan, ia repot bukan kepalang. Selepas mengalungkan medali emas kepada pemenang, ia mesti bergegas ke sekolah asal pemenang. Di pintu gerbang sekolah itu, ia menyampaikan sambutan selamat datang kepada ribuan siswa baru.

Lho, di tengah tahun pelajaran boleh menerima siswa baru? “Sebenarnya tidak boleh. Apalagi jumlah besar. Tapi bagaimana lagi, ini konsekuensi pemenang, harus mau menerima seluruh siswa dari sekolah lain yang kalah dalam pertandingan,” sanggah sang kepala sekolah sambil mengurut tangannya yang pegal karena menerima cium tangan dari siswa yang masuk sekolah pagi itu.

Deandra: di Kelas Juara, di Sirkuit Jawara

Deandra dan Boneng: kekompakan anak-bapak. (foto: dokumentasi Henrycus Susanto)

Deandra dan Boneng: kekompakan anak-bapak. (foto: dokumentasi Henrycus Susanto)

Boneng, atau kalian mengenalnya sebagai Henry, sedang “judek” kala itu. Otaknya senut-senut. Mulutnya gagu. “Punya karyawan baru nggak bisa pegang kamera. Padahal IP-nya tinggi,” gerutunya. Bersamaan, anak sulungnya mengajukan permintaan, “Pi, beliin trail ya.” Blar!

Kala itu Agustus 2015. Si sulung kelas 6 SD. Kebanyakan orang tua bisa jadi akan langsung menangkis, “Tidak! Kurangi bermain! Belajar! Belajar! Sudah mau ujian nasional.” Lalu anak akan “mecucu”, balik kanan masuk kamar, dan membanting diri ke tempat tidur sambil nyumpahi orangtuanya.

Algoritma Bidding versus Algoritma Kidding

170325 Main bolaBelakangan, saya melakukan gerakan yang “melawan gravitasi”. Saat banyak orang tergila-gila dengan “algoritma bidding” dengan mesin, saya melakukan sebaliknya: tanpa mesin.

Algoritma bidding populer di kalangan digital marketers. Ia semacam rumus pembacaan digital untuk mengenali pengguna internet: siapa suka apa, siapa ngapain aja, di mana siapa suka ngapain, kapan siapa ngapain, apa alasan siapa melakukan apa, dst. Algoritma bidding membantu siapa saja untuk menjangkau siapa saja secara tepat dan otomatis. Komentar dari penerima pesan, “Kok iklan ini tahu banget aku lagi pengen ini ya?” atau, “Sama-sama buka halaman yang sama tapi kok iklan yang tampil di layar temanku beda dengan yang tampil di layarku ya…” sudah bisa ditebak pasti umpan baliknya.