Blog

Yang Sudah Berbagi Dapat Bagian

Suster Regina Siu, OSU, sudah menulis dua buku. Salah satunya berjudul “Romantika Hidup Membiara” (Penerbit Obor). Tokoh penceritanya bernama Suciati.

Darinya saya belajar tentang kerendahan hati. Bahwa “sudah” bukan berarti “selesai”. “Sudah” berarti “ada yang belum”.

Sudah menulis buku, dan direspons bagus oleh pembaca, tak menyurutkan langkahnya untuk belajar cara lain menulis buku. Saya tersanjung ketika ia ikut dalam kelas menulis yang saya fasilitasi. Duduk di paling depan pula, lengkap dengan banyak pertanyaan yang kerap dilontarkannya untuk memperjelas pemahaman.

Optimalkan Media Sosial untuk Promosi Sekolah

IMG_20160220_225803_459Media sosial itu baik atau buruk? Media sosial itu ada manfaatnya nggak? Boleh nggak bermedia sosial di lingkungan sekolah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat dari belakang kepala peserta FGD (Forum Group Discussion) pengelola Sekolah Ursulin se-regio Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Solo, Jumat (19/2). Saya diminta sebagai fasilitator.

Sebagai fasilitator, tentu tugas saya tidak memberondongi materi. Tugas saya adalah menggali potensi yang mereka punya dan memetakan bagaimana optimalisasinya.

Incoming search terms:

  • promosi sekola lewat media sosial

Kenalkan Profesi Jurnalis Sejak Dini

Delapan anak kelas lima dan enam SD Kanisius Kadirojo, Kalasan, Yogyakarta tersebut duduk manis di atas karpet merah di Perpustakaan Theresia, Jumat (16/10) pagi kemarin. Mereka antusias menyambut kelas jurnalistik yang akan saya bawakan.

Gita, Indah, Karis, Uno, Satria, Randy, Hensel, dan Gesang pun berkenalan secara unik. Mereka sebut nama dan kelas. Semua sudah tahu tentang itu. Begitu Gita bercerita tentang hobinya memasak dan merias wajah, tertegunlah teman lain. Mereka baru tahu. Begitu Satria memeragakan gaya dada dan katak, baru tahulah jika teman satu ini hobi berenang.

Ini kelas yang diselenggarakan oleh paguyuban wartawan Jogja “Wakijo” di sekolah-sekolah yang siswanya memerlukan pengetahuan dan kecakapan khusus seputar jurnalistik, menulis, dan public speaking. Kelas pro-bono ini kami dedikasikan untuk mengenalkan profesi kami secara dini kepada anak-anak.

Rahasia Menulis Buku Laris

Sebelum belajar tentang bisnis, dan bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah pemasaran nasional, saya tidak tahu mengapa ketika menulis harus berorientasi pada pembaca. Dulu saya berpikir yang penting dalam menulis hanyalah sekadar menuangkan ide sebebas-bebasnya. Yang penting menulis.

Sebelum saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi sebuah penerbit nasional, yang salah satu tanggung jawab jawab saya adalah memastikan buku yang kami produksi laris di toko buku, saya juga baru tahu bahwa menulis dan menerbitkan buku sekadar fokus pada kualitas isi. Dulu saya tidak paham apa arti penting daya tarik judul, desain sampul, visual isi, ukuran buku, dan harga jual.

Pun sebelum saya belajar NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan coaching, saya mengajar menulis di kelas-kelas pelatihan dengan cara-cara yang saya pelajari dan kuasai. Saya memaksa peserta mengikuti metode saya. Baik mengajar untuk penulis, editor, dosen, guru, pelajar, maupun untuk anak-anak, saya mengajar dengan materi yang sama.

Menulis, Mimbar Kebebasan Akademik Guru

Evan Christoper Situmorang sedang jadi pembicaraan. Siswa SMP Flora, Pondok Ungu, Bekasi tersebut dikabarkan meninggal usai mengikuti MOS (masa orientasi siswa). Entah benar entah tidak, tragedi ini jadi pembicaraan publik.

Ada pihak yang menginginkan kegiatan semacam ini dihapuskan. Mereka berpendapat, tidak ada gunanya perpeloncoan semacam ini. Dimensi kekerasan ditengarai lebih dominan daripada dimensi edukasi.

Di seberang, ada pihak yang berpendapat bahwa MOS merupakan kegiatan penting untuk membekali siswa aspek-aspek yang diperlukan selama menempuh pendidikan di sekolah. Beragam argumentasi dilontarkan untuk memperkuat pendapat mereka.