Blog

Akhirnya Jelas: Jalani Dulu

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Setelah terlewati, kita bisa menertawakannya. Saat mengalami, kita bahkan tak sempat menangisinya.

P, sosok yang kami jagongi hingga tengah malam tadi, mengajak kami menertawakan apa yang dulu pun tak sempat ditangisi. Syukur tak ada tangis sehingga tawa semalam begitu lepas.

Di hotel kelas atas miliknya di kawasan elit Seminyak, Bali, P bercerita tentang hidupnya yang berkelimpahan. Ya, berkelimpahan dalam segala: nestapa dan bahagia.

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Bunga Ahok, Dongeng Masyarakat Cengeng

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Cengeng sekali mereka. Menangis di teras balaikota. Memenuhi halaman balaikota dengan bunga bernada duka dan nestapa. Sebenarnya mau mereka apa?

Sebentar. Saya jelaskan setelah yang berikut ini:

Saya meneteskan air mata. Terharu. Kata-kata yang tertulis di karangan bunga itu amat menyentuh, alih-alih menggugat. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang mengungkapkan cinta. Ada yang memberikan semangat. Ada yang merasa kehilangan.

Ada yang berapi-api. Ada yang puitis. Sungguh berbeda dengan kebanyakan ucapan di karangan bunga.

Menguji Pemimpin, Untuk Orang Lain atau Diri Sendiri?

Menguji Pemimpin Menguji Pengikut

Pada zamannya, ada figur otoritatif yang berdehem saja pengikutnya sudah bergerak. Bahkan, pemimpin membisu pun pengikut sudah riuh membincangkan lalu menebak-nebak kira-kira pemimpin mereka sedang orasi apa di langit-langit mulutnya.

Figur yang demikian pun beragam watak. Ada yang bersikukuh diam, supaya pengikutnya berpikir keras bagaimana menafsirkan mimik pemukanya. Ada yang sesekali mendehem, sambil menyertakan beberapa cuil kata kunci, supaya pengikutnya ada peregangan otot sehingga lincah jika sewaktu-waktu digerakkan sungguh-sungguh. Ada juga pemimpin baper, sedikit-sedikit curhat, supaya pengikutnya tak sempat rehat dan terus gelisah.

Bersuaralah Walau Tak Ber-KTP DKI Jakarta!

Bersuara Tanpa Harus Ber-KTP Jakarta

“Kalau tidak ber-KTP Jakarta nggak usah ikut komentar!”

Kira-kira begitu bunyi sebuah pernyataan di media sosial. Seru. Banyak akun berseteru di media sosial berkaitan dengan Pilkada DKI Jakarta. Saya bilang akun karena, bukan orang, karena yang berkomentar belum tentu orang. Bisa mesin. Pembaca yang i-mers tentu paham maksud saya. Bagi yang tidak paham tanyalah pada yang paham. Bukan pada saya yang terang.

Sikap saya:

  1. Bagi yang tidak ber-KTP Jakarta, ikutlah berkomentar! Bebas!
  2. Bagi yang mempersoalkan KTP di media sosial, pulanglah, santap makanan bergizi, boci, dan belajarlah!