Blog

Undur Diri, Vikjen Keuskupan Sibolga Pindah Jogja

Undur Diri, Romo Doni Studi Perbandingan Agama

Undur Diri, Romo Doni Studi Perbandingan Agama

Ada dua alternatif judul saya buat untuk tulisan pendek saya di bawah. Saat saya sodorkan di grup WA alumni pelatihan, beragam tanggapan mengemuka. Ada yang pilih judul 1 karena bikin penasaran pembaca, ada yang pilih judul 2 supaya tidak menimbulkan kesan negatif pada pembaca.

Terjadilah diskusi, seperti anda nanti boleh pula sampaikan di kolom komentar tentang judul yang menarik, terutama jika tulisan seperti ini diunggah di media digital:

Judul 1: Undur Diri, Vikjen Keuskupan Sibolga Pindah Jogja

Judul 2: Studi di UIN Sunan Kalijaga, Romo Doni Lepaskan Jabatan Vikjen Keuskupan Sibolga

Akhirnya Jelas: Jalani Dulu

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Setelah terlewati, kita bisa menertawakannya. Saat mengalami, kita bahkan tak sempat menangisinya.

P, sosok yang kami jagongi hingga tengah malam tadi, mengajak kami menertawakan apa yang dulu pun tak sempat ditangisi. Syukur tak ada tangis sehingga tawa semalam begitu lepas.

Di hotel kelas atas miliknya di kawasan elit Seminyak, Bali, P bercerita tentang hidupnya yang berkelimpahan. Ya, berkelimpahan dalam segala: nestapa dan bahagia.

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Jatah Bolos: Cerdas di Luar Kelas

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Sayang sekali, saya kenal bolos baru ketika kuliah. Saat itu musim demonstrasi. Tak afdol rasanya jadi mahasiswa sospol tak ikut turun ke jalan. Lagi pula kelas juga kerap kosong karena dosen banyak ngajar di seminar-seminar. Dosen sospol kalau nggak terbang ke sana-sini kredibilitasnya diragukan.

Sebelum kuliah, tak ada bolos. Satu-satunya rekor bolos ketika kelas satu SMA: dua bulan! Itu pun karena tergolek sakit usai terjungkal di jalan raya.

Dari cerita-cerita mereka, saya jadi tahu, di luar kelas ada banyak pelajaran. Lebih dari itu, dari mereka, wajah sekolah yang menggembirakan itu terpancar.

Deandra: di Kelas Juara, di Sirkuit Jawara

Deandra dan Boneng: kekompakan anak-bapak. (foto: dokumentasi Henrycus Susanto)

Deandra dan Boneng: kekompakan anak-bapak. (foto: dokumentasi Henrycus Susanto)

Boneng, atau kalian mengenalnya sebagai Henry, sedang “judek” kala itu. Otaknya senut-senut. Mulutnya gagu. “Punya karyawan baru nggak bisa pegang kamera. Padahal IP-nya tinggi,” gerutunya. Bersamaan, anak sulungnya mengajukan permintaan, “Pi, beliin trail ya.” Blar!

Kala itu Agustus 2015. Si sulung kelas 6 SD. Kebanyakan orang tua bisa jadi akan langsung menangkis, “Tidak! Kurangi bermain! Belajar! Belajar! Sudah mau ujian nasional.” Lalu anak akan “mecucu”, balik kanan masuk kamar, dan membanting diri ke tempat tidur sambil nyumpahi orangtuanya.