Blog

RIP Romo Koelman: Sekolah Tak Mengurusi Rambut

 

RIP Romo G Koelman SJ

Sumber foto: Sesawi.Net

Cerita turun-temurun dari kakak kelas itu tentang gaya seorang pastor Jesuit yang nyentrik. Tiga yang saya catat:

Pertama, adu jotos. Saat menjadi pamong di SMA Kolese de Britto di tahun 1970-an, Yogyakarta, ia geram jika mendengar ada muridnya berkelahi. Geram jika perkelahian tidak berimbang, lebih-lebih jika keroyokan. Ia cari murid yang bertikai itu sampai ketemu, lalu giring mereka ke lapangan dan tunggui mereka berkelahi satu lawan satu. Ya, satu lawan satu.

Kapan selesainya? Ketika salah satu menyatakan kalah dan minta maaf? Bukan. Ketika yang menang memaafkan dan keduanya berpelukan. Perdamaian dicapai bukan ketika ditemukan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan ketika yang merasa hebat mengampuni yang lemah.

Berani Berjarak dengan Diri Sendiri

Berani Berjarak dari Diri Sendiri

Bertemu Romo Bagyo SJ, 10 Februari 2015

Menilai diri sendiri, ternyata, tak lebih mudah dibandingkan menilai orang lain.

Siang itu pulang sekolah. Berjalan dengan kruk penyangga, saya menuju ke pastoran. Sesuai janji, saya hendak menghadap Rektor Kolese de Britto, Romo Y Subagyo SJ, untuk menempuh ujian susulan. Dua bulan saya mangkir dari sekolah gara-gara tersungkur di jalan raya, terbaring di rumah sakit, dan menjalani pemulihan kaki yang patah di rumah.

Itu Januari 1994. Minggu-minggu awal saya tempuh untuk melunasi ujian semester ganjil yang bolong. Juga ulangan harian yang nihil nilai. Berkat bantuan Pak Kristanto, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, saya diizinkan untuk menempuh ujian susulan. Kepada setiap guru mata pelajaran, saya harus menghadap sendiri untuk meminta waktu menempuh ujian susulan tersebut. Salah satunya menghadap Romo Bagyo—begitu kami memanggil beliau—untuk menempuh ujian “agama katolik”.

Setuju Hukuman Fisik

setuju hukuman fisikSaya setuju jika guru boleh memberi hukuman fisik. Ya, sesetuju guru juga boleh memberi pujian fisik.

Kalau apa-apa nggak boleh ada fisiknya, ya raga anak nggak boleh ikut ke sekolah. Biar jiwanya saja yang gentayangan ikut pelajaran di kelas.

Kenapa takut dengan hukuman fisik? Kenapa hukuman fisik selalu dilabel sebagai tindak kekerasan berujung kriminalisasi?

Paus Ingkung

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Hidup bertetangga di kampung itu hidup dalam aliran rejeki. Jika tak memberi ya menerima. Jika tak menyumbang ya meminta tolong. Jika tak mengubur ya menyambut kelahiran.

Seperti pagi ini. Usai takziah atas kematian Yesus di Jumat Agung lalu, lalu semalam merayakan kebangkitannya, pagi ini tetangga depan rumah mensyukuri bertambahnya keluarga mereka. Sebesek “ater-ater” diantarkan ke rumah: nasi ingkung ayam.

Dalam tradisi Jawa, yang saya dengar dari tuturan-tuturan simbah, ingkung bermakna penyucian. Bayi yang lahir digambarkan suci. Keluarga bayi memohonkan supaya penerima ingkung mendoakan agar mereka diampuni dosa-dosanya supaya kembali suci.

Optimalkan Media Sosial untuk Promosi Sekolah

IMG_20160220_225803_459Media sosial itu baik atau buruk? Media sosial itu ada manfaatnya nggak? Boleh nggak bermedia sosial di lingkungan sekolah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat dari belakang kepala peserta FGD (Forum Group Discussion) pengelola Sekolah Ursulin se-regio Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Solo, Jumat (19/2). Saya diminta sebagai fasilitator.

Sebagai fasilitator, tentu tugas saya tidak memberondongi materi. Tugas saya adalah menggali potensi yang mereka punya dan memetakan bagaimana optimalisasinya.

Incoming search terms:

  • promosi sekolah d medsos