Blog

Bunga Ahok, Dongeng Masyarakat Cengeng

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Cengeng sekali mereka. Menangis di teras balaikota. Memenuhi halaman balaikota dengan bunga bernada duka dan nestapa. Sebenarnya mau mereka apa?

Sebentar. Saya jelaskan setelah yang berikut ini:

Saya meneteskan air mata. Terharu. Kata-kata yang tertulis di karangan bunga itu amat menyentuh, alih-alih menggugat. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang mengungkapkan cinta. Ada yang memberikan semangat. Ada yang merasa kehilangan.

Ada yang berapi-api. Ada yang puitis. Sungguh berbeda dengan kebanyakan ucapan di karangan bunga.

Usah Lebay, Pilkada DKI Jakarta Sudah Usai

Pertunjukan sudah usai

Pertunjukan sudah usai

Nggak usah terkejut. Hasil Pilkada DKI Jakarta itu biasa banget. Lha di mana-mana kan pemilihan selalu menghasilkan pemenang dan menjungkalkan yang kalah.

Jakarta akan tetap baik-baik saja. Sekaligus Jakarta akan tetap tak baik-baik saja. Siapa pun gubernurnya, Jakarta tetaplah Jakarta. Ini kota pemenang dan pecundang sekaligus. Ini kota pemenang bisa berbalik menjadi pecundang atau pecundang sekonyong-konyong jadi pemenang.

Sesederhana Thamrin yang tiba-tiba macet, dan tiba-tiba meloloskan barisan orang penting dikawal patroli. Jakarta akan tetap menyenangkan bagi mereka yang kalah. Mereka tak akan beringsut dari kota ini.

Tentang Lomba yang Dihentikan

Tertawa dan Lomba Debat

Selamat merayakan hidup!

Menteri pendidikan negara yang baru menandatangani lembar keputusan: hentikan lomba itu, sekarang! Terhuyung-huyung, para punggawa bawahan tanpa sempat bertanya menjawab: siap, laksanakan!

Bukan mengada-ada keputusan itu diambil. Saat lomba itu dilangsungkan, ia repot bukan kepalang. Selepas mengalungkan medali emas kepada pemenang, ia mesti bergegas ke sekolah asal pemenang. Di pintu gerbang sekolah itu, ia menyampaikan sambutan selamat datang kepada ribuan siswa baru.

Lho, di tengah tahun pelajaran boleh menerima siswa baru? “Sebenarnya tidak boleh. Apalagi jumlah besar. Tapi bagaimana lagi, ini konsekuensi pemenang, harus mau menerima seluruh siswa dari sekolah lain yang kalah dalam pertandingan,” sanggah sang kepala sekolah sambil mengurut tangannya yang pegal karena menerima cium tangan dari siswa yang masuk sekolah pagi itu.

Bersuaralah Walau Tak Ber-KTP DKI Jakarta!

Bersuara Tanpa Harus Ber-KTP Jakarta

“Kalau tidak ber-KTP Jakarta nggak usah ikut komentar!”

Kira-kira begitu bunyi sebuah pernyataan di media sosial. Seru. Banyak akun berseteru di media sosial berkaitan dengan Pilkada DKI Jakarta. Saya bilang akun karena, bukan orang, karena yang berkomentar belum tentu orang. Bisa mesin. Pembaca yang i-mers tentu paham maksud saya. Bagi yang tidak paham tanyalah pada yang paham. Bukan pada saya yang terang.

Sikap saya:

  1. Bagi yang tidak ber-KTP Jakarta, ikutlah berkomentar! Bebas!
  2. Bagi yang mempersoalkan KTP di media sosial, pulanglah, santap makanan bergizi, boci, dan belajarlah!

Arus Balik

Kembali, yang pergi itu kembali. Ke tempat semula ia kembali. Pergi dan kembali itu seperti aliran sungai. Mengalir […]