Blog

Dicegat Orang

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Memberi tumpangan pada orang yang sejalan namun beda tujuan.

Untuk memastikan sakitnya, bapak sepuh ini periksa ke rumah sakit daerah. Sehari perjalanan berangkat, sehari periksa-periksa dan administrasi-administrasi, sehari perjalanan pulang. Ditemani anaknya.

Siang tadi perjalanan baru setengah. Tumpangan awal berbelok ke arah berbeda. Mereka turun di persimpangan.

Saat saya dan teman lewat, mereka melambaikan tangan tanda minta tumpangan. Saya langsung menepikan mobil menghampiri mereka.

Kotbah Terbaik

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Bukan untuk diri sendiri. Untuk orang lain.

Jarang saya mendengar kotbah yang baik, entah dari pemuka agama maupun tokoh masyarakat. Jika pun isi dan cara menyampaikannya menarik, itu tak cukup menjadikannya baik di mata saya.

Kotbah yang baik, dalam takaran saya, bukan sekadar ucapan atau angan-angan. Kotbah yang baik, dalam penerimaan saya, adalah kotbah yang berangkat dari laku dan berujung pada laku. Bergerak.

Dari sedikit kotbah baik yang saya koleksi, sebagian besar dipanggungkan oleh mereka yang kata dan perbuatannya berjalin kelindan. Belum tentu omongannya hebat dan perbuatannya heroik. Acapkali justru saya tersentuh oleh kotbah yang dibawakan oleh orang kecil, dengan perbuatan sederhana, dengan dampak jangka panjang tak kasat mata, namun dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Diulosi Hio Simalungun, Jadi Keluarga Saragih

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Keluarga Kristupa Saragih: satu bersaudara

Ungkapan belasungkawa pada keluarga yang berduka itu umumnya ditutup dengan pesan hangat, “Yang tabah ya… Yang ikhlas ya….” Sambil berpelukan dalam doa.

Terbersit pertanyaan, tabah itu seperti apa? Ikhlas itu bagaimana?

Lama pertanyaan itu menggantung di kepala saya sampai Senin (14/8) saya menerima pesan dari Pak Karesman Saragih, ayahanda almarhum Kristupa Saragih. Biasanya, WA beliau berupa gambar berisi kalimat-kalimat motivasi. Kali ini undangan.

Akhirnya Jelas: Jalani Dulu

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Foto sengaja dikaburkan: Tak semua mesti jelas.

Setelah terlewati, kita bisa menertawakannya. Saat mengalami, kita bahkan tak sempat menangisinya.

P, sosok yang kami jagongi hingga tengah malam tadi, mengajak kami menertawakan apa yang dulu pun tak sempat ditangisi. Syukur tak ada tangis sehingga tawa semalam begitu lepas.

Di hotel kelas atas miliknya di kawasan elit Seminyak, Bali, P bercerita tentang hidupnya yang berkelimpahan. Ya, berkelimpahan dalam segala: nestapa dan bahagia.

Seribu Kata Mengenang Kristupa

170710 Kristupa Saragih RIP“Good morning from Denpasar, Bali,” komentarku atas status FB-mu 25 Juni 2017, “Good morning from Sanur, Bali.” Sahutmu singkat, “Mantappp.”

Sahutanmu itu pertanda jelas bagiku. Kamu sedang sibuk. Terhadap tanda seperti itu aku tak berani menerjangnya. Aku hanya mau menemuimu jika kamu meneruskan sahutan itu lewat japri, “Dolan ndene, Kun!” Dan itu dua tahun sekali. Itu pun untuk obrolan yang belum pernah ujungnya kita eksekusi.

“Sik, Kun. Aku belum nemu angle yang tepat,” kilahmu setiap kali aku menagih, “Mana bukumu?”