Blog

Abdi Negara: Uang Itu Sarana

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Kurang uang, bekerja cari uang. Kelebihan uang, bekerja untuk apa?

Malam ini saya belajar dari Pak Budi Santoso tentang uang. Kami sudah tiga kali bertemu di bisnis yang memungkinkan kami sering bertemu. Seminggu dua kali kami bertemu: belajar, berbagi, dan bersyukur.

Baru sebulan saya bergabung di bisnis ini. Pak Budi sudah dua tahun. Penghasilannya sudah lebih dari 10 kali lipat dari gajinya 18 tahun sebagai tenaga honorer di Pemkot Denpasar. Gajinya “nyangkut” di angka dua juta lebih lima ribu rupiah tiap bulan. Tak perlu saya urai kepedihannya. “Setiap istri dan anak pergi belanja, saya selalu mengikuti. Takut uangnya nggak cukup,” kelakarnya menertawakan masa lalu.

Incoming search terms:

  • Uang adalah sarana bukan tujuan…

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Jatah Bolos: Cerdas di Luar Kelas

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Sayang sekali, saya kenal bolos baru ketika kuliah. Saat itu musim demonstrasi. Tak afdol rasanya jadi mahasiswa sospol tak ikut turun ke jalan. Lagi pula kelas juga kerap kosong karena dosen banyak ngajar di seminar-seminar. Dosen sospol kalau nggak terbang ke sana-sini kredibilitasnya diragukan.

Sebelum kuliah, tak ada bolos. Satu-satunya rekor bolos ketika kelas satu SMA: dua bulan! Itu pun karena tergolek sakit usai terjungkal di jalan raya.

Dari cerita-cerita mereka, saya jadi tahu, di luar kelas ada banyak pelajaran. Lebih dari itu, dari mereka, wajah sekolah yang menggembirakan itu terpancar.

Bunga Ahok, Dongeng Masyarakat Cengeng

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Ahok-Djarot: leadership with heart (foto: liputan6.com)

Cengeng sekali mereka. Menangis di teras balaikota. Memenuhi halaman balaikota dengan bunga bernada duka dan nestapa. Sebenarnya mau mereka apa?

Sebentar. Saya jelaskan setelah yang berikut ini:

Saya meneteskan air mata. Terharu. Kata-kata yang tertulis di karangan bunga itu amat menyentuh, alih-alih menggugat. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang mengungkapkan cinta. Ada yang memberikan semangat. Ada yang merasa kehilangan.

Ada yang berapi-api. Ada yang puitis. Sungguh berbeda dengan kebanyakan ucapan di karangan bunga.

Usah Lebay, Pilkada DKI Jakarta Sudah Usai

Pertunjukan sudah usai

Pertunjukan sudah usai

Nggak usah terkejut. Hasil Pilkada DKI Jakarta itu biasa banget. Lha di mana-mana kan pemilihan selalu menghasilkan pemenang dan menjungkalkan yang kalah.

Jakarta akan tetap baik-baik saja. Sekaligus Jakarta akan tetap tak baik-baik saja. Siapa pun gubernurnya, Jakarta tetaplah Jakarta. Ini kota pemenang dan pecundang sekaligus. Ini kota pemenang bisa berbalik menjadi pecundang atau pecundang sekonyong-konyong jadi pemenang.

Sesederhana Thamrin yang tiba-tiba macet, dan tiba-tiba meloloskan barisan orang penting dikawal patroli. Jakarta akan tetap menyenangkan bagi mereka yang kalah. Mereka tak akan beringsut dari kota ini.