Blog

Hidup Bertetangga: Srawung

Hidup bertetangga: srawung

Hidup bertetangga: srawung

Di rantau, tetangga itu saudara. Kenal di sini, sama-sama kerja di sini, baiklah saling mengunjungi.

Hingga tengah malam ini, saya berkunjung ke tetangga sebelah. Tetangga ini yang pada malam takbiran mengirim sepaket opor dan ketupat. Mereka yang berlebaran, saya turut merayakan.

Di rantau, suasana kampung bisa diusung. Asal kita tak membusung. Di rantau orang juga ingin hidup seperti di kampung. Setiap saat. Maka, ketika tak bisa mudik, tak berarti kehilangan kebersamaan seperti di kampung. Di rantau, sama-sama pendatang, baiklah menegakkan semangat hidup ala kampung.

Rindu Panenan Bapak

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak saya hobi menanam. Pohon apa saja ditanam. Beliau yakin, semua yang tumbuh di atas tanah layak ditanam. Beliau juga yakin setiap tanah layak ditanami.

Jika ada tanaman yang tidak bertumbuh ketika ditanam, bukan tanamannya yang bermasalah, melainkan cara menanam dan menumbuhkannya yang belum tepat. Sekarang, tanaman yang belum berhasil beliau tanam adalah durian dan matoa. Khusus matoa, pernah tumbuh dan patah karena saya tabrak saat saya bersepeda keliling halaman.

Abdi Negara: Uang Itu Sarana

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Menjadi honorer sebagai pengabdian kepada negara

Kurang uang, bekerja cari uang. Kelebihan uang, bekerja untuk apa?

Malam ini saya belajar dari Pak Budi Santoso tentang uang. Kami sudah tiga kali bertemu di bisnis yang memungkinkan kami sering bertemu. Seminggu dua kali kami bertemu: belajar, berbagi, dan bersyukur.

Baru sebulan saya bergabung di bisnis ini. Pak Budi sudah dua tahun. Penghasilannya sudah lebih dari 10 kali lipat dari gajinya 18 tahun sebagai tenaga honorer di Pemkot Denpasar. Gajinya “nyangkut” di angka dua juta lebih lima ribu rupiah tiap bulan. Tak perlu saya urai kepedihannya. “Setiap istri dan anak pergi belanja, saya selalu mengikuti. Takut uangnya nggak cukup,” kelakarnya menertawakan masa lalu.

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Jatah Bolos: Cerdas di Luar Kelas

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Sayang sekali, saya kenal bolos baru ketika kuliah. Saat itu musim demonstrasi. Tak afdol rasanya jadi mahasiswa sospol tak ikut turun ke jalan. Lagi pula kelas juga kerap kosong karena dosen banyak ngajar di seminar-seminar. Dosen sospol kalau nggak terbang ke sana-sini kredibilitasnya diragukan.

Sebelum kuliah, tak ada bolos. Satu-satunya rekor bolos ketika kelas satu SMA: dua bulan! Itu pun karena tergolek sakit usai terjungkal di jalan raya.

Dari cerita-cerita mereka, saya jadi tahu, di luar kelas ada banyak pelajaran. Lebih dari itu, dari mereka, wajah sekolah yang menggembirakan itu terpancar.