Cek Jejak Kaki, Hindari Janji Basi

di ruang tunggu Bandara Kualanamu, Medan (foto: AA Kunto A)

di ruang tunggu Bandara Kualanamu, Medan (foto: AA Kunto A)

Gundah, seorang teman membuka pembicaraan dengan pertanyaan, “Aku harus bagaimana?”

Tak mau larut dalam gundah, saya mengajaknya duduk. Sembari menunggu minum yang sedang dibuatkan, saya balik bertanya, “Ada apa to?”

“Begini…,” ia mulai bercerita.

Teman saya, sebut saja Nama, sedang mengembangkan usahanya. Tak perlu saya ceritakan apa usahanya. Yang terang, anak perusahaan itu ia kelola bersama dengan seorang mitra yang disebutnya bisa dipercaya. Sebut saja mitra itu Jeneng. Mereka sudah sepakat berbagi peran. Nama mencari pelanggan, dan Jeneng mengerjakan pesanan pelanggan. Bahasa kerennya, Nama sebagai direktur pemasaran merangkap pemodal, Jeneng sebagai direktur operasional merangkap mandor.

Klien pertama, sekaligus sebagai ajang penjajagan, adalah kantor lawas Nama. Atas nama kantor lawas, Nama pesan sesuatu kepada perusahaan Anyar yang dikelola Jeneng.

Meleset! Nama kaget. Jeneng tak mampu menunjukkan kinerjanya. Ya bisa sih, namun tak sehebat yang dijanjikan. Pesanan tak selesai tepat waktu. Jeneng tak mampu menjelaskan di mana letak persoalannya. Menurutnya, semua mesin bekerja sebagaimana mestinya. Anak buahnya pun sudah bekerja sesuai instruksi.

Nama tak puas dengan penjelasan yang tidak jelas itu. Ia ingin Jeneng bisa menunjukkan titik kesalahan kinerjanya justru supaya ia bisa membantu membenahinya. Sayang, lagi-lagi Jeneng tak bisa menunjukkannya. Bolak-balik ia mengelak, “Mesinnya lancar, orangnya kerja semua.” Namun Jeneng tak bisa memerinci ketika Nama meminta informasi detail, “Kapasitas produksi mesinmu itu berapa ton per menit? Berapa sampah terbuang untuk sampai di produk terbaik yang layak diberikan kepada pelanggan?” Jeneng mengernyitkan dahi namun tak melontarkan informasi sepotong pun.

Kembali Nama bertanya, “Si A mengerjakan apa, Si B mengerjakan apa? Siapa bertugas mengontrol kelancaran tugas A dan B? Apa ukuran keberhasilan kerja mereka?” Wajah Jeneng memudar. Ia membuka-buka tab-nya namun tak menemukan yang ia cari. Nama melirik: layar tab-nya kosong.

“Gimana ya, Kun? Aku sudah telanjur memercayai dia untuk menjalankan anak perusahaan ini?” ia bersegera minta pendapat saya. Merasa informasi yang ia berikan belum lengkap, saya menanyainya balik, “Sudah cek ke pemasok?”

Tanpa menjawab “belum”, ia langsung memencet tombol ponselnya, “Sebentar, kutanyakan!”

Sementara ia menelepon tiga pemasok secara bergantian, dan saya tidak menyimaknya, saya membuka review buku The 4 Disciplines of Execution karya Chris McShesney, Sean Covery, dan Jim Huling. Saya berjaga-jaga, seandainya Nama akan bertanya solusi dan langkah-langkah untuk mengawal Jeneng—jika ia masih mau bermitra dengannya—saya sudah siap dengan konsep-konsep seputar wildly important goal (WIG), lead measure, compelling scorecard, dan accountability. Pernah baca tiga tahun lalu sehingga relatif mudah untuk menjelaskan kembali.

“Cek antara eksekusi dengan perencanaan, Nam. Cari dan temukan di titik mana ada “jurang” yang menyebabkan eksekusi tidak sesuai dengan perencanaan; atau sudah sesuai namun hasilnya tidak optimal? Cek apakah ada aktivitas tidak penting yang hanya menunjukkan kesibukan namun tidak produktif?” Saya sudah menyiapkan “alat pendeteksi” itu namun urung saya aktifkan karena Nama sudah mendapatkan beberapa informasi dari pemasok-pemasoknya.

“Hehhhh, mereka mengeluhkan kinerja Jeneng,” desah Nama kesal sekaligus lega. Dia ceritakan ulang apa saja yang disampaikan para pemasok itu.

“Jeneng bahkan tidak tahu kebutuhan bahan untuk produksi sejumlah tertentu. Pemasok jengkel karena Jeneng suka pesan barang secara tiba-tiba dan hanya memberi tenggat waktu hitungan jam. Padahal, mestinya dia bisa memperkirakan kapan bahan habis sehingga bisa pesan jauh-jauh hari,” ungkapnya sambil mengambil korek api. Meski saya tidak suka namun perlu saya ceritakan bahwa kemudian ia membakar dan menghisap rokok.

Lalu?

“Produksi menumpuk di bagian tertentu. Bersamaan, di bagian lain menganggur. Padahal, mestinya pekerjaan bisa dibagi. Jeneng jarang turun ke lapangan. Ia lebih suka ngadem di ruangannya. Ia tidak peka untuk mengantisipasi keterlambatan produksi,” lanjutnya.

Bukankah Jeneng sudah pengalaman di bidang itu?

“Semula kukira begitu. Sejak awal kami bertemu, ia bisa meyakinkanku bahwa ia tahu banyak tentang usaha yang kini kami kelola bersama. Ia menyebut pengalamannya sangat banyak. Konsep yang ia ajukan juga bagus dan masuk akal,” paparnya.

Sudah pernah melihat ia bekerja sebelum ini?

“Itu dia. Aku percaya begitu saja,” sesalnya.

Malam itu bulan sabit. Pendar cahayanya tak sempurna. Setaksempurna itu obrolan kami. Urung meminta pendapat saya, Nama mengalihkan pembicaraan. Meski kecewa karena tak tuntas namun diam-diam saya senang ketika dia dia memindahkan pembicaraan ke saya, “Kamu ada cerita apa, Kun?”

Tak hendak kehilangan benang merah atas ceritanya, saya menyambung dengan cerita tentang sampul buku Selfie Writing for Authentic Personal Branding. “Nah, iya, aku masih penasaran, kenapa sampulnya kamu kasih gambar kaki? Bukannya personal branding itu identik dengan wajah atau minimal penampilan keren setengah badan?” ia berbalik antusias sekarang.

Setelah saya jelaskan, ia menyimpulkan, “Betul juga ya. Aku terjebak pada profil kepalanya, idenya, konsepnya. Mestinya aku cek kakinya, dakinya, jejak langkahnya, cara kerjanya, kesehariannya, kegigihannya dalam bekerja. Mestinya aku minta bukti, bukan percaya janji….”

“Ya sudah,” sahut saya, “sebelum kamu pecat dia—karena sebagai mitra bisnis sekaligus klien pertama kamu kecewa, kamu belikanlah dia buku Selfie Writing for Authentic Personal Branding karanganku. Pesen sekalian untuk klien-klienmu ke WA 085792717738. Ada harga khusus untuk kamu….”

“Hais, malah promosi!” sabetnya.

“Lha iya to,” tangkis saya, “Hari ini kan Hari Buku Nasional. Baca buku, biar nggak ketipu….”

“Asem!”

 

Bali, 17 Mei 2017
@AAKuntoA
www.solusiide.com

Hindari janji, sudah cek ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *