Celana Dalam

Bercelana dalam, kami diminta lari ke lapangan. Nyawa belum terkumpul di subuh yang masih gulita. Tidur baru saja pulas di atas lembaran koran di kelas yang tak berpintu tak berjendela. Dingin tak terkatakan untuk kami yang biasa berkemul selimut di kamar yang tertutup rapat.

Di lapangan, kami disuruh bergulung-gulung di atas rumput yang sedang deras diguyur embun. Tubuh kami lengket oleh rumput yang terlindas. Gelap. Tak saling kami lihat empunya kawan. Milik sendiri saja tak tampak.

Belum tuntas tubuh ini menggigil, satu per satu kami dipanggil maju. Segayung air diguyurkan di kepala kami. Selangkah ke kanan sehelai kain merah dan putih dijulurkan ke wajah kami. Kami pun mencium bendera kebangsaan itu dengan syahdu.

Bersama terbitnya matahari, diiringi mars sekolah kami, kami menari-nari. Tuntas sudah perjalanan beberapa hari yang menghentak-hentak itu. Saat ini mereka menyebutnya MOS (masa orientasi sekolah). Kami menamainya inisiasi.

Sebelum matahari terbit, kami sah sebagai kesatuan sekolah yang keseluruhan muridnya laki-laki itu. Yang menginisiasi yang diinisiasi lebih dalam baku peluk yang hangat. Sejak itu, lebur sudah persaudaraan kami. Tidak ada senioritas. Kalau pun ada senior yang minta dihormati, itu lebih dalam rangka ngerjain.

Nanti yang akan berkomentar patut diduga lulusan sekolah itu. Biar mereka yang akan bercerita sisi lain inisiasi di sekolah kami: menggiring semut keliling aula, minum air bercampur kencing (ups…), mengukur aula dengan jengkal tangan.

Inisiasi itu berkesan untuk saya: mental, kreativitas, dan persaudaraan.

 

Salam inisiasi,

@AAKuntoA | CoachWriter

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Incoming search terms:

  • kolese de britto di mata saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *