Dari Organisasi, Kecakapan Sang Dokter Gigi

Sesama pemilik golongan darah AB

Sesama pemilik golongan darah AB: Thomas

“Di mana kamu belajar ilmu berkomunikasi?” langsung saja saya bertanya kepada Thomas Aquino Budi Vembriarto (1995) saat ia mengantar saya keliling Kota Pontianak, pekan lalu.

Bukan tanpa alasan saya melontarkan pertanyaan itu. Baiklah, lewat tuturan saya berikut ini nanti anda akan beroleh jawabannya.

Sabtu (14/1) saya mendarat di Bandara Supadio, Kubu Raya. Ini kali pertama saya meletakkan telapak kaki di Kalimantan Barat. Saya baru saja dari Jakarta untuk meluncurkan buku Selfie Writing for Authentic Personal Branding di tengah acara Kumpul Bakul DBBC (De Britto Business Community) se-Jabodetabek. Bimo, dedengkot acara yang mengizinkan saya mencuil waktu untuk memromosikan buku terbaru saya. Ia pula yang mengantar saya ke bandara.

 

Tiruan tugu katulistiwa di tepi Kapuas: Paul Ristar Raharjo

Tiruan tugu katulistiwa di tepi Kapuas: Paul Ristar Raharjo

Paul Ristar Raharjo (1995) menjemput saya. Kakak kelas De Britto yang kini bekerja sebagai ASN (aparat sipil negara) Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) Kabupaten Kubu Raya ini dari sejak saya belum terbang hingga membumi sudah memantau. Bukan takut saya nyasar tapi demi mengemban tugas luhur menjemput adik kelas hahaha…

Oleh Paul, saya langsung digelandang ke TADC (Thomas Aquino Dental Care) milik Thomas. Di tempat itu keesokan paginya digelar acara donasi darah dan seminar berjudul sama dengan buku saya. Acara diselenggarakan kerja sama Paguyuban Alumni De Britto Chapter Kalimantan Barat dan TADC. Thomas sebagai gubernur chapter sampai malam itu, sebelum mengulungkan estafet kepemimpinan kepada Wompy Pratomo (2004), adik kelasnya sembilan tahun.

Semangat berkiprah gubernur baru: Wompy Pratomo

Semangat berkiprah gubernur baru: Wompy Pratomo

“Kun, kuantar pakai pick up ya,” ujar Thomas usai memastikan persiapan acara sudah selesai. Ia mau mengantar saya ke Hotel Borneo, penginapan yang ia siapkan untuk saya. Saya tergelak oleh pernyataannya. Apa yang salah dengan mobil pick-up? Selebihnya, saya justru penasaran, ada apa dengan pick-upnya?

Di Tugu Katulistiwa: transfer energi sukses

Di Tugu Katulistiwa, transfer energi sukses: Thomas

“Ada tanah bagus. Mobil kujual. Sempat setahun naik motor sampai ada penawaran beli mobil ini. Kenapa kuambil? Karena usahaku yang lain pasti membutuhkan kendaraan pengangkut seperti ini,” paparnya sambil menunjukkan bentang tanah tiga kavling yang sudah mulai dibangun untuk rumah barunya.

Cerita berlanjut. Di ujungnya saya merekam, energi orang ini begitu besar. Energi untuk melampaui batas, energi untuk mengatasi tantangan, dan lebih-lebih energi untuk berbagi. Secara operasional, energi itu mewujud dalam strateginya berinvestasi. Investasi material berbentuk aset kasat mata berupa tanah dan bangunan, investasi tak kasat mata berupa jejalin sosial yang ia rekati di semua lini.

Pegiat koperasi kredit (credit union) bergolongan darah AB ini menyeimbangkan hidupnya dengan kegiatan-kegiatan sosial, baik berupa bisnis maupun karitatif. Saya beruntung ditunjukkannya ladang-ladang berbagi tersebut. Saya termangu saat ia membeberkan bagaimana kecerdasan sosial dikelola dengan kecerdasan finansial. Bukannya dipertentangkan, keduanya diselaraskan.

“Bisnisku ya hanya TADC,” sebut dokter gigi lulusan Universitas Padjajaran ini. Sebagai bisnis, TADC ia kelola secara sangat serius. Ia merekrut dokter-dokter spesialis sebagai timnya supaya ia bisa fokus bekerja sebagai Kepala Puskesmas Sungai Ambalang di Kabupaten Kubu Raya (ia mem-branding tempatnya bekerja sebagai Puskesmas Sakura). Peralatan terbaru juga ia sediakan untuk semua pasien.

Branding "Sakura": Sungai Ambawang Kubu Raya

Branding “Sakura” Sungai Ambawang Kubu Raya: Thomas

Ia pun menyusun strategi berlapis untuk memastikan setiap pasien terlayani dengan baik, terlayani dengan tarif yang terjangkau, dan terlayani secara paripurna. Untuk itu, ia tak segan mencetak 10.000 kartu nama setiap kali cetak. Setiap pasien yang selesai ia rawat diberinya ucapan sakti, “Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya Bu/Pak. Ini kartu nama saya.” Dan manjur. Sepanjang saya ditemaninya jalan-jalan, ponselnya tak berhenti berdering. Sependengaran saya, mereka meminta jadwal bertemu atau berkonsultasi. Dan Thomas selalu menanggapi secara hangat.

Bagaimana dengan bisnis-bisnis yang lain? Ya, ia memiliki banyak bisnis namun hanya TADC yang dikelola sendiri. Yang lain diserahkan ke mitranya. “Aku suka investasi. Aku biasa tanya ke teman-teman punya ide bisnis apa yang bisa kita kerjasamakan?” tukas pemilik bisnis tiket, desain interior, las, dan pernah punya beberapa rumah makan ini.

Kental sekali semangatnya untuk membantu orang lain. Termasuk, aksi donasi darah yang sudah 10 kali ia gelar bersama Alumni De Britto dimaksudkan untuk melatih kepekaan timnya bahwa bisnis dan aksi sosial itu selaras seiring.

Nah, kembali ke pertanyaan awal saya: di mana kepekaan sosialmu terbentuk, dan di mana kamu belajar ilmu komunikasi?

Usai kerja antar wisata: rumah betang.

Usai kerja antar wisata ke rumah betang: Thomas

“Di De Britto. Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) mengubah cara pandangku tentang organisasi. Lalu berlanjut saat kuliah di Bandung. Aku aktif di organisasi mahasiswa lintas kampus,” ungkapnya sambil menyebut beberapa nama teman organisasi yang kini berkiprah di organisasi nasional, termasuk di politik.

Salam,
@AAKuntoA | CoachWriter
www.dokudoku.id

Lapor mantan Presiden Alumni De Britto yang sekarang Ketua Umum AAJI, Mas Haji Datuk Sweida Zulalhamsyah dan Ketua Umum IKA Universitas Padjajaran, Kang Hikmat Kurnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *