Daur Kata

PhotoGrid_1466484504442

Sering terdengar keluhan dengan nada minor, “Saya kehabisan ide, Mas.”

Ketimbang melanjutkan mendengarkan keluhan yang bukan keluhan saya, lebih baik saya menghindar. Atau jika tetap diam, diam-diam saya merekam keluhan tersebut sebagai ide.

Tahun 2004 (kanan), 29 Oktober, saya ke Bali menemui Mr Joger, mewawancarainya. Sembari belajar konsep pemasaran “dispromosi”, saya memprofilnya. Ada banyak keunikan yang membuat saya penasaran membongkar dan mengenali sosoknya. Lebih-lebih kiprahnya dalam membesarkan merek terkenal miliknya “Joger”.

Tahun 2016, (kiri), 30 April, di luar dugaan Mr Joger “mak bedunduk njedul” di kelas saya Magnetic-Selling Copywriting di Denpasar. Kaget saya. Orang sekaliber Joger, yang copywriting “pabrik kata-katanya” sudah mendunia dan tak terbilang nilainya mau ikut kelas saya–bocah kemarin siang–apa maksudnya? Apa mau ngerjain saya?

Beruntung saya kenal Mr Joger sejak lama. Kenal dalam arti gayanya. Beruntung juga telah belajar NLP sehingga perkara berpindah “state” dari grogi ke percaya diri itu mudah dan cepat. Swisss… Jadilah Mr Joger saya jadikan partner “tak-tek-tok” “embat-embatan kata-kata” sepanjang kelas berlangsung. Dan Mr Joger semakin dibantah semakin tangkas membalas. Dan setiap balasan atau bantahannya adalah copywriting.

Sabtu, 25 Juni 2016, lusa, saya bikin lagi kelas Magnetic-Selling Copywriting batch #3 di Denpasar. Saya tidak tahu, dan tak perlu menduga-duga, siapa lagi yang bakal dengan sekonyong-konyong datang ke kelas saya. Dari panitia saya belum mendapatkan nama-nama yang mencurigakan hahaha…

Yang terang, siapa pun yang datang, saya siap dalam “state percaya diri” yang lebih besar dari sebelumnya. Bahwa jangan khawatir kehabisan ide. Bahwa ide ada di mana-mana, mudah dijumput, dan gampang pula diolah ulang menjadi copywriting yang memikat.

Salah satu buktinya Joger. Sebagai pabrik kata-kata mereka tak pernah kehabisan kata-kata. Sebaliknya, mereka malah memproduksi beragam cenderamata berbasis kata-kata. Dalam hal selling, copywriting mereka susun bukan supaya dagangan mereka laris, melainkan untuk membatasi belanja pelanggan.

Dari Mr Joger saya belajar bagaimana hadir secara natural. Ini prinsip yang juga saya kembangkan dalam copywriting. Copywriting yang nendang justru copywriting yang hadir alamiah, tanpa rekayasa-manipulatif, apalagi sekadar modifikasi dari script yang banyak beredar di perempatan-perempatan. Nyontek script yang ada hanya akan dapatkan pembeli yang masih mudah bengong oleh copywriting tertentu. Sesudahnya? Mesti merayu mereka lagi.

Sedangkan, untuk pelanggan yang sudah hapal dan kebal akan susunan copywriting yang begitu-begitu saja, mereka butuh sentuhan yang lebih personal dan emosional. Nah, sentuhan ini yang tidak mudah diolah dari copywriting standar. Perlu metode khusus untuk temukan dan kenali copywriting yang natural yang bikin pelanggan loyal.

Nah, adakah yang baru dari pendapat saya? Bukankah semua ini daur kata belaka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *